Ntvnews.id, Banjarmasin - Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI mengungkapkan bahwa tingkat kebahagiaan masyarakat terhadap rencana penayangan Piala Dunia 2026 melalui TVRI mencapai 80 persen. Angka tersebut diperoleh dari hasil analisis percakapan digital yang menunjukkan tingginya antusiasme publik terhadap ajang sepak bola terbesar dunia serta semakin luasnya akses masyarakat untuk menyaksikan pertandingan.
Tenaga Ahli Utama Bidang Strategi dan Sistem Komunikasi Bakom RI, Dudy Rudianto, mengatakan Piala Dunia 2026 menjadi salah satu topik yang paling banyak dibicarakan masyarakat di ruang digital. Tingginya perhatian publik mencerminkan besarnya minat masyarakat terhadap turnamen tersebut, terutama karena pertandingan dapat disaksikan melalui televisi publik.
“Piala Dunia 2026 menjadi salah satu isu yang paling banyak menarik perhatian publik dalam ruang percakapan digital,” kata Tenaga Ahli Utama Bidang Strategi dan Sistem Komunikasi Bakom RI Dudy Rudianto saat memberikan materi pada kegiatan Public Communication Summit 2026 bertema “Sinergi Pengelolaan Isu dan Reputasi di Era Digital” di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Rabu, 3 Juni 2026.
Menurut Dudy, optimisme masyarakat dipengaruhi oleh harapan untuk memperoleh akses siaran yang lebih mudah dan merata. Kehadiran TVRI sebagai pemegang hak siar dinilai mampu menjangkau masyarakat di berbagai wilayah Indonesia tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan.
Baca Juga: Piala Dunia 2026 Menghitung Hari, Visa AS Timnas Iran Belum Keluar
“Kehadiran TVRI sebagai pemegang hak siar dinilai membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat di berbagai daerah untuk menikmati pertandingan tanpa biaya tambahan,” ujarnya.
Hasil riset Bakom RI menunjukkan sekitar 60 persen percakapan mengenai hak siar TVRI bernada positif. Sentimen tersebut didominasi rasa bangga dan nostalgia masyarakat terhadap kembalinya siaran Piala Dunia melalui televisi publik yang memiliki jangkauan luas hingga ke pelosok daerah.
Selain itu, sebanyak 35 persen percakapan positif muncul karena masyarakat mengapresiasi akses siaran gratis yang memungkinkan seluruh lapisan masyarakat menikmati pertandingan tanpa perlu berlangganan layanan televisi berbayar. Kondisi ini dinilai memperkuat fungsi penyiaran publik sebagai sarana informasi dan hiburan yang inklusif.
Riset yang sama juga mencatat sekitar 25 persen percakapan publik menyoroti potensi dampak ekonomi dari penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Masyarakat menilai kegiatan nonton bareng berpeluang meningkatkan aktivitas ekonomi lokal, termasuk memberikan tambahan pendapatan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai daerah.
Baca Juga: Infografik: Deretan Pemain Bintang yang Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026
Meski sentimen positif mendominasi, Bakom RI menemukan sekitar 25 persen percakapan yang menyoroti aspek teknis dan aksesibilitas siaran. Beberapa isu yang banyak dibahas antara lain kualitas sinyal TVRI di daerah terpencil, resolusi gambar, ketersediaan layanan streaming, hingga kemungkinan penerapan enkripsi pada siaran satelit atau parabola.
Sementara itu, sekitar 15 persen percakapan bernada sinis yang mengaitkan kepemilikan hak siar Piala Dunia 2026 dengan narasi pengalihan isu dari berbagai persoalan nasional. Namun demikian, jumlah percakapan tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan sentimen positif yang mendominasi respons masyarakat.
Dudy menegaskan bahwa hasil riset tersebut menjadi pengingat pentingnya pengelolaan komunikasi publik yang responsif terhadap harapan maupun kekhawatiran masyarakat. Menurutnya, peningkatan kualitas layanan siaran serta penyampaian informasi yang transparan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik.
“Penguatan kualitas layanan siaran dan penyampaian informasi yang transparan menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus memaksimalkan manfaat sosial dan ekonomi dari penyelenggaraan siaran Piala Dunia 2026,” ujarnya.
(Sumber: Antara)
Tenaga Ahli Utama Bidang Strategi dan Sistem Komunikasi Bakom RI Dudy Rudianto (berdiri) saat memberikan materi pada kegiatan Public Communication Summit 2026 bertema “Sinergi Pengelolaan Isu dan Reputasi di Era Digital” di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Rabu (3/6/2026). (ANTARA/Tumpal Andani Aritonang) (Antara)