Ntvnews.id, Taheran - Pemerintah Iran membantah laporan yang menyebut pemimpin tertinggi negara tersebut, Mojtaba Khamenei, mengalami luka akibat serangan militer dari Amerika Serikat dan Israel. Otoritas Iran menegaskan bahwa Mojtaba berada dalam kondisi aman dan sehat.
Dilansir dari AFP, Kamis, 12 Maret 2026, klarifikasi mengenai kondisi Mojtaba disampaikan oleh penasihat pemerintah Iran, Yousef Pezeshkian, yang juga merupakan putra dari Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Penjelasan tersebut disampaikan melalui pernyataan di platform Telegram.
"Saya mendengar kabar bahwa Bapak Mojtaba Khamenei terluka. Saya telah bertanya kepada beberapa teman yang memiliki koneksi. Mereka memberitahu saya bahwa, alhamdulillah, beliau dalam keadaan aman dan sehat," kata Yousef dalam pernyataan via Telegram.
Sementara itu, televisi pemerintah Iran dalam laporannya menyebut Mojtaba sebagai "veteran perang yang terluka dalam perang Ramadan". Namun, laporan tersebut tidak menjelaskan secara rinci jenis luka atau cedera yang dimaksud.
Baca Juga: Di Balik Pemilihan Mojtaba Hosseini Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran
Ketegangan di kawasan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan berskala besar ke Iran sejak 28 Februari lalu. Serangan tersebut menewaskan sejumlah tokoh penting di Teheran, termasuk pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai respons, Teheran meluncurkan gelombang serangan balasan berupa rudal dan drone yang menargetkan berbagai lokasi di Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi tempat keberadaan aset militer Amerika Serikat.
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei (Istimewa)
Beberapa hari setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, pemerintah Iran secara resmi mengumumkan pengangkatan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru negara tersebut. Pengumuman itu disampaikan pada Minggu, 8 Maret 2026 sekitar sepekan setelah kematian sang ayah. Mojtaba yang kini berusia 56 tahun ditetapkan sebagai penerus posisi tersebut.
Dengan penunjukan itu, Mojtaba menjadi pemimpin tertinggi ketiga Iran sejak terjadinya Revolusi Iran 1979 yang mengubah sistem pemerintahan negara tersebut menjadi republik Islam.
Baca Juga: Senator AS Kritik Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
Namun, keputusan Iran menunjuk Mojtaba memicu reaksi keras dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Trump secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pilihan tersebut dan menilai penunjukan Mojtaba sebagai langkah yang keliru.
Trump mengatakan dirinya "tidak senang" dengan pilihan Iran tersebut, dan menyebut penunjukan Mojtaba sebagai "kesalahan besar". Presiden AS itu juga mengatakan bahwa Mojtaba tidak akan bisa hidup damai dan "tidak akan bertahan lama" tanpa persetujuan AS.
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei (Istimewa)