Profil Mojtaba Khamenei, Putra Ayatollah Khamenei yang Jadi Pemimpin Tertinggi Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Mar 2026, 08:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei (Istimewa)

Ntvnews.id, Taheran - Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi yang baru, menggantikan ayahnya, Ali Khamenei

, yang tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu. Penetapan tersebut dilakukan oleh para ulama pada Minggu, ketika konflik besar di kawasan telah memasuki minggu kedua.

“Anggota badan ulama yang bertanggung jawab untuk memilih otoritas tertinggi Iran mengumumkan keputusan tersebut pada Minggu 8 Maret 2026,” laporan dari Guardian, Senin 9 Maret 2026.

Dalam laporan berjudul Unmasking the Bayt, Mojtaba dinilai memiliki pengaruh politik yang besar dan kerap disebut sebagai sosok yang paling berpeluang melanjutkan kepemimpinan ayahnya dibanding saudara-saudaranya.

Masa Kecil dan Kehidupan Pribadi

Mojtaba lahir di Mashhad pada 1969. Masa kecilnya berlangsung pada periode ketika ayahnya mulai dikenal sebagai tokoh revolusioner yang menentang pemerintahan monarki Mohammad Reza Pahlavi.

Baca Juga: DPR Iran: Timur Tengah Tak Akan Damai Selama Pangkalan AS Masih Ada

Pada masa tersebut, Mojtaba sering menyaksikan ayahnya menghadapi tekanan dan penyiksaan akibat aktivitas revolusioner.

Setelah terjadinya Revolusi Islam Iran 1979, situasi politik keluarga mereka berubah drastis. Mojtaba kemudian pindah dari Mashhad ke Teheran mengikuti ayahnya yang mulai menduduki sejumlah posisi penting dalam pemerintahan.

Ia menempuh pendidikan di SMA Alavi, sebuah sekolah yang dikenal sebagai tempat pendidikan bagi kalangan elite rezim, dan lulus pada 1987.

Pada masa mudanya, Mojtaba juga bertugas dalam militer selama Perang Iran–Irak, khususnya di Batalyon Habib.

Setelah Ali Khamenei diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada 1989, Mojtaba mulai lebih aktif dalam lingkungan kekuasaan sekaligus menekuni studi keagamaan.

Pada 1999 ia sempat pindah ke Qom untuk memperdalam pendidikan agamanya. Sejak akhir 1990-an, profil politik Mojtaba semakin menonjol dan ia sering terlihat mendampingi ayahnya dalam berbagai kesempatan.

Pada 2004, Mojtaba menikah dengan Zahra Haddad Adel, putri mantan Ketua Parlemen Iran Gholam‑Ali Haddad Adel. Dari pernikahan tersebut, ia memiliki seorang putra bernama Mohammad Bagher Khamenei.

Intrik Politik

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei <b>(Istimewa)</b> Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei (Istimewa)

Dalam laporan Mojtaba Khamenei: The Supreme Leader’s Gatekeeper & Guardian, pada 2005 Mojtaba dilaporkan ikut terlibat dalam dinamika pemilihan presiden Iran.

Mehdi Karroubi, mantan ketua parlemen sekaligus kandidat presiden saat itu, menuduh Mojtaba memberikan dukungan penting kepada Mahmoud Ahmadinejad yang akhirnya terpilih sebagai Presiden Iran.

Dalam pemilu 2009, tudingan serupa kembali muncul, dengan laporan yang menyebut Mojtaba berperan dalam upaya memastikan kemenangan kembali Ahmadinejad.

Karier Militer

Karier militernya dimulai pada 1987 ketika ia bergabung dengan Angkatan Darat Iran. Pada tahun yang sama, ia menjadi anggota satuan Divisi Mohammad Rasulullah ke-27.

Baca Juga: AS Mulai Gunakan Pangkalan Militer Inggris untuk Operasi Pertahanan Hadapi Iran

Selanjutnya, Mojtaba meniti karier di Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Ia pernah memimpin Habib Ring serta memiliki pengaruh besar di Basij, salah satu organisasi paramiliter yang berada di bawah IRGC.

Selama Perang Iran–Irak, Mojtaba terlibat dalam sejumlah operasi militer, termasuk Operasi Beit ol-Moqaddas 2, Operasi Beit ol-Moqaddas 4, serta Operasi Fajar 10.

Selain itu, ia juga disebut berperan dalam penindakan terhadap Gerakan Hijau Iran pada 2009–2010, sebuah gelombang protes yang muncul setelah tuduhan kecurangan dalam pemilihan kembali Mahmoud Ahmadinejad sebagai Presiden Iran.

x|close