Ntvnews.id, Teheran - Iran melontarkan ancaman akan menyerang reaktor nuklir milik Israel sebagai respons atas serangan udara yang terus dilancarkan Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Teheran serta sejumlah kota lainnya di negara tersebut.
Dilansir dari Reuters, Sabtu, 7 Maret 2026, laporan kantor berita Iran, ISNA, yang mengutip seorang pejabat militer Iran yang tidak disebutkan identitasnya, menyebutkan bahwa Iran berpotensi menargetkan fasilitas nuklir Israel di Dimona apabila Tel Aviv dan Washington berusaha menjatuhkan pemerintahan yang berkuasa di Teheran.
Fasilitas nuklir di Dimona selama ini diyakini sebagai lokasi penting dalam pengembangan program senjata nuklir Israel.
Israel sendiri hingga kini tidak pernah secara resmi mengonfirmasi maupun menyangkal kepemilikan senjata nuklir.
Namun, menurut laporan The Times of Israel, Pusat Penelitian Nuklir Shimon Peres Negev yang berada di dekat kota Dimona dipercaya menjadi bagian penting dari program senjata nuklir Israel yang selama ini menjadi sorotan internasional.
Baca Juga: Ketegangan AS-Iran Memanas, IRGC Klaim Rudal Hantam Kapal Tanker Amerika di Teluk
Fasilitas tersebut terletak di wilayah Negev, Israel bagian selatan, dan dikenal sebagai salah satu lokasi dengan tingkat pengamanan paling ketat di negara tersebut. Sistem perlindungan di kawasan itu diyakini mencakup berbagai lapisan pertahanan udara milik Israel.
Ancaman dari Iran ini muncul ketika gelombang serangan besar-besaran yang dilakukan AS dan Israel terus menggempur wilayah negara Syiah itu sejak Sabtu, 28 Februari 2026 waktu setempat.
Warga berkumpul untuk upacara pemakaman massal bagi siswa dan anggota staf yang tewas dalam serangan Amerika Serikat-Israel terhadap sebuah sekolah di Minab, provinsi Hormozgan, Iran. (Antara)
Baik Washington maupun Tel Aviv menyatakan bahwa operasi militer tersebut bertujuan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir sekaligus menghancurkan program rudal balistik jarak jauh milik Teheran.
Di sisi lain, Israel juga secara terbuka mendorong masyarakat Iran untuk menggulingkan pemerintahan yang saat ini berkuasa di negara tersebut. Amerika Serikat pun memberi sinyal bahwa mereka akan menyambut kemungkinan terjadinya perubahan rezim di Teheran.
Ketegangan semakin meningkat setelah insiden pada Rabu, 4 Maret 2026 waktu setempat ketika sebuah kapal perang Iran tenggelam di perairan lepas pantai Sri Lanka. Kapal tersebut dilaporkan terkena torpedo yang ditembakkan oleh kapal selam milik Amerika Serikat.
Baca Juga: Trump: Tak Ada Batas Waktu untuk Perang AS dengan Iran
Dalam peristiwa itu, Angkatan Laut Sri Lanka berhasil menyelamatkan 32 awak kapal. Namun, sedikitnya 87 awak lainnya dilaporkan tewas.
Serangan tersebut terjadi ketika kapal perang Iran itu tengah berlayar setelah mengikuti latihan militer di pelabuhan Visakhapatnam yang berada di wilayah timur India.
Pihak militer Iran mengecam kejadian tersebut dan menyebutnya sebagai "serangan pengecut". Mereka juga menegaskan akan melakukan pembalasan atas serangan yang menenggelamkan kapal perang tersebut.
Peluru kendali (rudal) Iran meluncur menuju sasaran target. ANTARA/Anadolu/py/am. (Antara)