Iran Tunda Pemilihan Penerus Ali Khamenei karena Situasi Keamanan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Mar 2026, 18:45
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Warga berdemonstrasi menentang serangan militer AS dan Israel terhadap Iran di Teheran, Iran, pada 4 Maret 2026 (ANTARA/Xinhua/Shadati) Warga berdemonstrasi menentang serangan militer AS dan Israel terhadap Iran di Teheran, Iran, pada 4 Maret 2026 (ANTARA/Xinhua/Shadati) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Iran dilaporkan menunda proses pemilihan penerus Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei karena alasan keamanan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Penundaan tersebut terjadi setelah wafatnya Ali Khamenei yang dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran menyusul serangkaian serangan yang menargetkan wilayah negara itu.

Laporan menyebutkan keputusan penundaan juga berkaitan dengan meningkatnya perhatian terhadap Mojtaba Khamenei, putra dari Ali Khamenei, yang sebelumnya disebut-sebut sebagai salah satu kandidat kuat untuk menggantikan posisi sang ayah sebagai pemimpin tertinggi Iran.

Baca Juga: Iran Serang Fasilitas Sipil di Manama Bahrain, 2 Hotel Rusak

Kekhawatiran terhadap keselamatan figur yang berpotensi menjadi penerus menjadi salah satu faktor utama penundaan proses tersebut.

Situasi keamanan semakin memanas setelah Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan bahwa pemimpin baru Iran akan menjadi target militer Israel.

Pernyataan tersebut muncul di tengah konflik yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran dalam beberapa hari terakhir.

Serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel sejak Sabtu lalu menargetkan sejumlah wilayah penting di Iran, termasuk ibu kota Teheran.

Baca Juga: Dubes Iran: Ali Khamenei Telah Fatwakan Senjata Nuklir Haram

Serangan tersebut menyebabkan kerusakan serta korban jiwa dan memperburuk kondisi keamanan di dalam negeri Iran.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan dengan menargetkan wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

Eskalasi tersebut memicu kekhawatiran internasional terhadap potensi meluasnya konflik di kawasan tersebut.

(Sumber: Antara)

x|close