Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Donald Trump menyatakan bahwa dirinya tidak sepenuhnya menutup kemungkinan untuk melakukan perundingan dengan Iran di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Selasa, 10 Maret 2926, saat diwawancarai oleh Fox News. Ia menegaskan bahwa peluang dialog masih ada, meskipun sangat bergantung pada sejumlah syarat yang harus dipenuhi.
“Itu mungkin saja, tergantung pada syaratnya, mungkin saja, hanya mungkin... Anda tahu, sebenarnya kita tidak perlu lagi berbicara, jika benar-benar dipikirkan, tetapi itu mungkin,” kata Trump kepada Fox News ketika ditanya mengenai kemungkinan tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menyinggung sosok Mojtaba Khamenei, putra dari mendiang Ayatollah Ali Khamenei yang kini ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Menurut Trump, ia meragukan bahwa pemimpin baru tersebut dapat menjalani kepemimpinannya secara damai.
Baca Juga: Trump Sebut Perang Iran Akan Selesai, Rupiah Menguat ke Rp16.863 per Dolar AS
Presiden Amerika Serikat itu menyatakan bahwa dirinya tidak yakin Mojtaba Khamenei “dapat hidup dengan damai.”
Sehari sebelumnya, pada Senin, Trump juga mengungkapkan rasa kecewanya atas terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran.
Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel meningkat setelah serangan militer yang terjadi pada akhir Februari lalu. Pada 28 Februari, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan besar serta menimbulkan korban di kalangan warga sipil.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan dengan menargetkan wilayah Israel serta fasilitas militer milik Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah.
Donald Trump (Instagram @realdonaldtrump)
Pada awalnya, Amerika Serikat dan Israel menyebut operasi militer itu sebagai langkah “preemptif” untuk mengantisipasi ancaman yang mereka nilai berasal dari program nuklir Iran. Namun dalam perkembangan berikutnya, kedua negara tersebut secara terbuka mengisyaratkan keinginan untuk melihat perubahan kekuasaan di Iran.
Dalam operasi militer tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas pada hari pertama serangan. Pemerintah Republik Islam Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Baca Juga: Trump Dikabarkan Kecewa atas Serangan Israel ke Depot Minyak Iran
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengecam keras pembunuhan tersebut. Putin menyebut tindakan itu sebagai pelanggaran hukum internasional yang bersifat sinis.
Pemerintah Rusia melalui Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengutuk operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel, serta menyerukan agar ketegangan segera diredakan dan permusuhan dihentikan secepatnya.
Arsip foto - Presiden AS Donald Trump. ANTARA/Anadolu Ajansi/pri. (Antara)