Ntvnews.id, Washington D.C - Seorang senator senior dari Amerika Serikat, Lindsey Graham dari Partai Republik, mengecam keputusan Iran yang menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru negara tersebut. Mojtaba merupakan putra dari mendiang Ali Khamenei.
Dilansir dari Al Jazeera, Selasa, 10 Maret 2026, Graham, menilai penunjukan tersebut tidak mencerminkan perubahan yang diharapkan oleh pihaknya.
"Saya meyakini hanya masalah waktu sebelum dia mengalami nasib yang sama seperti ayahnya," kata Graham yang merupakan Senator South Carolina dalam pernyataan via media sosial X.
Graham diketahui sejak lama mendorong dilakukannya aksi militer Amerika Serikat terhadap Iran. Laporan dari media AS The Wall Street Journal juga menyebutkan bahwa Graham pernah memberikan arahan kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, terkait cara melobi Presiden AS Donald Trump agar mengambil langkah terhadap Iran.
Baca Juga: Garda Revolusi Iran Nyatakan kesetiaan Pada Mojtaba Khamenei
Sebelumnya, Iran secara resmi mengumumkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru pada Minggu, 8 Maret 2026 sekitar sepekan setelah wafatnya Ali Khamenei.
Keputusan tersebut diambil oleh Majelis Pakar Iran yang terdiri dari 88 ulama senior. Penunjukan Mojtaba, ulama berusia 56 tahun, dinilai menunjukkan bahwa kelompok garis keras masih memiliki pengaruh besar dalam struktur kekuasaan Iran.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump belum menyampaikan tanggapan resmi secara terbuka terkait keputusan tersebut. Namun, wartawan Fox News, Brian Kilmeade, mengungkapkan bahwa Trump telah menyampaikan ketidakpuasannya secara pribadi.
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei (Istimewa)
"Saya tidak senang," kata Kilmeade mengutip ucapan Trump kepada dirinya.
Dalam pernyataan sebelumnya, Trump bahkan sempat menyebut putra Khamenei tersebut sebagai "orang yang tidak berpengaruh".
Dalam wawancaranya dengan ABC News pada Minggu, 8 Maret 2026 sebelum pengumuman resmi dari Iran, Trump juga menegaskan bahwa pemimpin tertinggi baru Iran harus mendapat persetujuan dari Washington.
"Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama," tegasnya, seperti dilaporkan Al Arabiya.
Mojtaba Khamenei dan Donald Trump (Istimewa)