Ntvnews.id, Taheran - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya akan memberikan respons jika ada serangan atau upaya invasi yang dilancarkan dari wilayah negara tetangga.
Ia menegaskan bahwa langkah balasan tersebut merupakan bentuk pertahanan, bukan permusuhan terhadap negara yang wilayahnya digunakan untuk menyerang Iran.
Dilansir dari AFP, Senin, 9 Maret 2026, pernyataan itu disampaikan Pezeshkian melalui siaran televisi pemerintah. Pesan tersebut ditujukan kepada pihak-pihak yang mencoba menyerang Iran dengan memanfaatkan wilayah negara lain.
"Jika musuh Iran mencoba menggunakan negara mana pun untuk menyerang atau menginvasi tanah kami, kami akan terpaksa merespons serangan itu. Merespons bukan berarti kami memiliki perselisihan dengan negara itu atau ingin mencelakai rakyatnya -- kami akan merespons karena kebutuhan," kata Pezeshkian.
Dalam pernyataan terpisah, Garda Revolusi Iran menyebut pasukannya mampu melanjutkan pertempuran sengit hingga enam bulan dengan intensitas konflik yang saat ini berlangsung melawan Amerika Serikat dan Israel.
Baca Juga: AS Mulai Gunakan Pangkalan Militer Inggris untuk Operasi Pertahanan Hadapi Iran
Juru bicara Garda Revolusi, Ali Mohammad Naini, mengatakan Iran sejauh ini baru menggunakan rudal “generasi pertama dan kedua”. Namun, dalam beberapa hari ke depan mereka berpotensi mengerahkan “rudal jarak jauh yang lebih canggih dan jarang digunakan”.
Sebelumnya, pada Sabtu, Pezeshkian juga menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat setelah wilayah mereka terkena dampak serangan.
Konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kini telah memasuki minggu kedua dan menimbulkan dampak luas di kawasan. Arab Saudi dilaporkan berhasil mencegat gelombang drone yang mengarah ke sejumlah target, termasuk kawasan diplomatik di ibu kota Riyadh. Sementara itu, Kuwait menyatakan serangan menghantam tangki bahan bakar di bandara internasionalnya.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian saat menghadiri konferensi pers di Teheran, Iran, pada 16 September 2024. (ANTARA)
Serangan terhadap fasilitas penyimpanan bahan bakar penerbangan di Kuwait meningkatkan kekhawatiran terkait pasokan energi global. Perusahaan minyak nasional negara tersebut juga mengumumkan pengurangan produksi minyak mentah akibat ancaman terhadap Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia.
Di sisi lain, Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan terhadap depot minyak di ibu kota Teheran pada Sabtu. Serangan tersebut disebut sebagai yang pertama menargetkan infrastruktur minyak Iran sejak konflik memanas, di tengah gejolak pasar saham dan kenaikan harga minyak mentah.
Baca Juga: Pendaftar SNBP Tembus 22 Ribu, Minat ke UPN Veteran Jakarta Terus Meningkat
Militer Israel menyatakan pihaknya menyerang “sejumlah fasilitas penyimpanan bahan bakar di Teheran” yang disebut digunakan untuk mendukung operasional infrastruktur militer.
Israel juga melancarkan gelombang serangan baru di berbagai wilayah Teheran pada Minggu, setelah sebelumnya melakukan serangan presisi yang menargetkan komandan penting di Pasukan Quds unit operasi luar negeri Garda Revolusi Iran di sebuah hotel di pusat kota Beirut.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan komitmennya untuk melanjutkan perang melawan Iran "dengan segenap kekuatan kami". Israel juga disebut berencana menyingkirkan kepemimpinan Iran setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pekan lalu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, yang memicu eskalasi konflik regional.
Teheran, Iran - 16 September 2024. Presiden Iran Masoud Pezeshkian saat hadiri konferensi pers. ((Antara) )