AS Bakal Pindahkan Sistem Rudal Patriot dari Korsel ke Timur Tengah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Mar 2026, 06:35
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip foto - Uji coba peluncuran rudal balistik antarbenua (ICBM) Hwasongpho-17 milik Korea Utara, 25 Maret 2022. ANTARA/KCNA/HO via Xinhua/tm/am. Arsip foto - Uji coba peluncuran rudal balistik antarbenua (ICBM) Hwasongpho-17 milik Korea Utara, 25 Maret 2022. ANTARA/KCNA/HO via Xinhua/tm/am. (Antara)

Ntvnews.id, Seoul - Amerika Serikat (AS) bersama Korea Selatan (Korsel) tengah mendiskusikan kemungkinan pemindahan sejumlah sistem pencegat rudal Patriot milik AS yang saat ini ditempatkan di Korsel ke kawasan Timur Tengah.

Sistem pertahanan tersebut dipertimbangkan untuk digunakan dalam konflik yang sedang berlangsung melawan Iran.

Dilansir dari Reuters, Sabtu, 7 Maret 2026, Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Hyun, mengungkapkan hal itu saat menjawab pertanyaan dalam sidang parlemen. Pernyataan tersebut muncul setelah adanya laporan media yang menyebutkan beberapa unit sistem pencegat rudal AS telah dipindahkan ke Pangkalan Udara Osan dari berbagai lokasi lain di Korea Selatan.

Cho menegaskan dirinya tidak dapat memberikan komentar lebih lanjut ketika ditanya apakah rencana Washington adalah segera memindahkan sistem rudal Patriot tersebut untuk digunakan dalam operasi militer melawan Iran.

Baca Juga: Rusia dan China Dukung Iran di Tengah Operasi Militer AS dan Israel

Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah Seoul hingga saat ini belum menerima permintaan bantuan militer apa pun dari Washington.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa dirinya terbuka terhadap bantuan dari negara mana pun terkait konflik yang melibatkan Iran.

Dalam pernyataan terpisah, United States Forces Korea (USFK) menyebut pihaknya tidak dapat memberikan tanggapan mengenai laporan media tentang kemungkinan pemindahan sistem rudal Patriot tersebut.

"Untuk alasan keamanan operasional, kami tidak berkomentar tentang pergerakan, relokasi, atau potensi penempatan ulang kemampuan atau aset-aset militer tertentu," demikian pernyataan USFK.

Ilustrasi serangan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah pemukiman penduduk Iran. (ANTARA/Anadolu/py) <b>(Antara)</b> Ilustrasi serangan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah pemukiman penduduk Iran. (ANTARA/Anadolu/py) (Antara)

Beberapa laporan media yang mengutip sumber pemerintah Korea Selatan menyebutkan bahwa sistem rudal Patriot itu tengah dipersiapkan untuk kemungkinan pengerahan ulang ke kawasan Timur Tengah. Disebutkan pula bahwa sejumlah pesawat angkut militer jumbo milik AS telah mendarat di Pangkalan Udara Osan guna mengangkut sistem pertahanan tersebut.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah memang terus meningkat sejak AS dan Israel meluncurkan serangan gabungan berskala besar terhadap Iran sejak Sabtu, 28 Februari 2026 waktu setempat. Operasi militer itu hingga kini masih berlangsung.

Baca Juga: KPK Akan Panggil Suami dan Anak Fadia Arafiq Terkait Dugaan Aliran Dana

Presiden Trump menyatakan bahwa operasi tersebut bertujuan melumpuhkan program nuklir Iran sekaligus menghancurkan kemampuan rudal balistik jarak jauh milik Teheran.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan menggunakan rudal dan drone yang menargetkan berbagai titik di Israel serta pangkalan militer AS di negara-negara kawasan Teluk. Salah satu serangan drone Iran dilaporkan menghantam pangkalan AS di Kuwait dan menewaskan sedikitnya enam tentara Amerika.

Di sisi lain, Korea Selatan sendiri menjadi lokasi penempatan besar pasukan AS dalam kerangka pertahanan bersama menghadapi ancaman dari North Korea yang memiliki senjata nuklir. Sekitar 28.500 personel militer AS ditempatkan di negara tersebut, termasuk berbagai sistem pertahanan udara-ke-permukaan seperti sistem pencegat rudal Patriot.

x|close