Intelijen AS Nilai Pemerintahan Iran Masih Kuat Meski Dibombardir AS-Israel

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Mar 2026, 08:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Sebuah rudal diluncurkan dari sebuah kapal perang selama latihan militer Iran. ANTARA/Anadolu/am. Ilustrasi - Sebuah rudal diluncurkan dari sebuah kapal perang selama latihan militer Iran. ANTARA/Anadolu/am. (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Laporan intelijen dari Amerika Serikat menyebutkan bahwa struktur kepemimpinan di Iran masih relatif utuh dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan runtuh dalam waktu dekat, meskipun negara itu telah menghadapi serangan intensif dari Amerika Serikat dan Israel selama hampir dua pekan. Informasi tersebut diungkapkan oleh tiga sumber yang mengetahui isi laporan tersebut.

Dokumen intelijen tersebut memberikan gambaran bahwa pemerintahan Iran tetap stabil dan masih mampu mengendalikan situasi domestik.

Laporan itu memberikan "analisis yang konsisten bahwa rezim tersebut tidak dalam bahaya untuk kolaps dan tetap mengendalikan publik Iran," kata salah satu sumber, seperti dilaporkan Reuters, Jumat, 13 Maret 2026.

Sumber tersebut menyebut laporan terbaru itu disusun dalam beberapa hari terakhir. Di tengah meningkatnya tekanan politik akibat melonjaknya harga minyak dunia, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan bahwa operasi militer besar yang dilancarkan Washington yang disebut sebagai yang terbesar sejak 2003 akan segera diakhiri.

"segera." singkatnya.

Baca Juga: Intelijen AS Akui Rezim Iran Masih Kuat Meski Dibombardir AS-Israel Hampir 2 Pekan

Meski demikian, mencari solusi yang dapat diterima oleh semua pihak dinilai tidak mudah, terutama jika kelompok garis keras di Iran tetap mempertahankan sikap mereka. Laporan intelijen itu juga menekankan bahwa kepemimpinan ulama di Iran masih solid, meskipun Pemimpin Tertinggi sebelumnya, Ali Khamenei, dilaporkan tewas pada 28 Februari, hari pertama operasi militer AS dan Israel.

Dalam pembicaraan tertutup, sejumlah pejabat Israel juga mengakui tidak ada jaminan bahwa perang ini akan berujung pada jatuhnya pemerintahan ulama di Iran. Hal tersebut diungkapkan seorang pejabat senior Israel kepada Reuters.

Sumber-sumber tersebut menambahkan bahwa kondisi di lapangan masih dinamis dan perkembangan politik di dalam negeri Iran dapat berubah sewaktu-waktu.

Sementara itu, Office of the Director of National Intelligence dan Central Intelligence Agency menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut.

Masyarakat berkumpul untuk menyatakan kesetiaan kepada Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, di Lapangan Enghelab di Teheran, Iran. <b>(Anadolu)</b> Masyarakat berkumpul untuk menyatakan kesetiaan kepada Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, di Lapangan Enghelab di Teheran, Iran. (Anadolu)

Sejak operasi militer dimulai, Amerika Serikat dan Israel telah menargetkan berbagai fasilitas strategis Iran, termasuk sistem pertahanan udara, fasilitas nuklir, serta sejumlah tokoh penting dalam struktur kepemimpinan negara itu.

Ketika mengumumkan dimulainya operasi militer, Trump bahkan sempat menyerukan kepada rakyat Iran untuk "mengambil alih pemerintahan Anda." Namun, para pejabat senior di pemerintahannya kemudian membantah bahwa tujuan utama operasi tersebut adalah menggulingkan pemerintahan Iran.

Selain Khamenei, serangan yang terjadi juga dilaporkan menewaskan puluhan pejabat tinggi serta beberapa komandan penting dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), pasukan paramiliter elit yang memiliki pengaruh besar dalam perekonomian Iran.

Baca Juga: KPK Duga Pemuda Pancasila Terima Aliran Dana Setiap Bulan Dalam Kasus Rita Widyasari

Meski demikian, laporan intelijen AS menyatakan IRGC bersama para pemimpin sementara yang menggantikan Khamenei masih mampu mempertahankan kendali atas negara tersebut. Awal pekan ini, Assembly of Experts sekelompok ulama Syiah senior menetapkan putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru.

Sumber lain yang mengetahui perkembangan situasi menyebut Israel tidak berniat membiarkan sisa struktur pemerintahan lama tetap bertahan. Namun hingga kini belum jelas bagaimana operasi militer yang berlangsung dapat benar-benar menggulingkan pemerintahan Iran.

Menurut sumber tersebut, kemungkinan besar perubahan rezim hanya dapat terjadi melalui operasi darat yang memungkinkan masyarakat Iran turun ke jalan melakukan protes dengan aman.

Sejauh ini, pemerintahan Trump juga belum menutup kemungkinan untuk mengirim pasukan Amerika Serikat ke wilayah Iran.

x|close