Ntvnews.id, Jakarta - Seorang sumber politik Iran mengatakan kepada RIA Novosti bahwa belum mungkin memastikan kapan permusuhan di konflik Timur Tengah akan berakhir.
“Tidak mungkin menyebut hari atau jam pasti gencatan senjata. Hal ini akan jelas ketika pihak lawan menyadari biaya yang ditimbulkan sangat besar,” kata sumber itu.
Ia menekankan pentingnya bagaimana perang akan berakhir. “Jalannya permusuhan dan cara berakhirnya akan menjadi faktor penentu bagi masa depan,” tambahnya.
Sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan satu-satunya cara mengakhiri konflik di Timur Tengah adalah pengakuan hak sah Tehran, pembayaran ganti rugi, dan jaminan internasional agar agresi tidak terulang.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah sasaran di Iran, termasuk di Tehran. Agresi militer AS dan rezim Zionis itu menimbulkan kerusakan dan korban jiwa warga sipil.
Iran merespons dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
AS dan Israel awalnya mengklaim serangan “preemptive” itu perlu untuk menghadapi ancaman program nuklir Iran, namun kemudian menegaskan ingin melihat perubahan kekuasaan di Iran.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei syahid pada hari pertama operasi militer AS dan sekutu utamanya di Timur Tengah itu. Republik Islam menetapkan 40 hari berkabung.
Presiden Rusia Vladimir Putin menilai pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran internasional yang sinis.
Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam operasi AS-Israel tersebut, dan menuntut de-eskalasi serta penghentian permusuhan segera.
ANTARA
Pendemo Iran mengibarkan bendera Iran dan Palestina dalam aksi anti-Israel di Tehran. (AP News)