Ntvnews.id, Tokyo - Pemerintah Jepang mengumumkan rencana pelepasan cadangan minyak, baik milik negara maupun sektor swasta, guna menstabilkan pasar energi. Langkah tersebut diambil sebagai respons terhadap meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyampaikan bahwa kebijakan tersebut mulai diberlakukan dalam waktu dekat untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan energi dunia.
"Pemerintah Jepang telah memutuskan untuk merilis cadangan minyaknya sejak 16 Maret untuk meringankan pasokan dan permintaan di pasar energi global," kata Takaichi, dilansir dari Kyodo, Jumat, 13 Maret 2026.
Dalam tahap awal, pemerintah Jepang akan mengeluarkan cadangan minyak milik perusahaan swasta yang cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 15 hari. Setelah itu, cadangan nasional akan dilepas untuk memenuhi kebutuhan kilang minyak di Jepang selama satu bulan ke depan.
Baca Juga: Jepang Evakuasi Warganya dari Iran
"Selain itu, kami akan memanfaatkan sebaik mungkin pasokan darurat yang dikelola bersama dengan negara-negara penghasil minyak," kata Takaichi.
Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil secara mandiri oleh pemerintah Jepang tanpa menunggu kebijakan resmi dari International Energy Agency (IEA) terkait pelepasan cadangan minyak secara global.
Menurut Takaichi, situasi di Timur Tengah yang semakin memanas membuat kondisi pasar energi sulit diprediksi, sehingga pemerintah perlu bertindak cepat untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan.
Arsip - Sanae Takaichi berbicara dalam kampanye pemilihan ketua Partai Demokrat Liberal (LDP) di Tokyo, Jepang (22/9/2025). (ANTARA)
Ketegangan di kawasan tersebut juga berdampak pada penutupan jalur strategis Selat Hormuz, yang selama ini menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dunia. Akibatnya, pasokan minyak menuju Jepang diperkirakan dapat mengalami penurunan signifikan pada akhir Maret 2026.
Jepang sendiri diketahui sangat bergantung pada energi fosil dari Timur Tengah. Sekitar 95 persen impor minyak mentah Jepang berasal dari kawasan tersebut, sementara sekitar 11 persen impor gas alam cair juga dipasok dari wilayah yang sama.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi berbicara pada konferensi pers di kediaman resmi perdana menteri di Tokyo, Jepang, 19 Januari 2026. (Rodrigo Reyes Marin/Pool via Xinhua) (Antara)