Ntvnews.id, Teheran - Sejumlah negara dilaporkan berupaya memediasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Rusia dan Turki disebut menjadi pihak yang aktif mendorong proses negosiasi guna meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Seorang sumber yang dekat dengan pemerintah Iran menyatakan bahwa komunikasi diplomatik masih berlangsung hingga saat ini.
Upaya negosiasi juga terus dilakukan oleh berbagai pihak internasional dan regional.
"Saat ini, komunikasi masih berlangsung dan upaya negosiasi telah ditempuh oleh sejumlah pihak internasional dan kawasan, khususnya Rusia dan Turki," kata seorang sumber yang dekat dengan pemerintah Iran kepada RIA Novosti, Kamis 12 Maret 2026.
Namun demikian, menurut sumber tersebut, Iran belum bersedia menerima kesepakatan gencatan senjata pada tahap ini meskipun tidak menutup kemungkinan adanya mediasi.
Baca Juga: Trump: Perang AS-Israel Melawan Iran Akan Segera Berakhir
"Iran pada dasarnya tidak menolak prinsip mediasi itu sendiri, tetapi pada saat ini, mereka tidak setuju akan adanya gencatan senjata," ucap sumber itu.
Sebelumnya, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan bahwa Moskow siap membantu upaya meredakan ketegangan di Timur Tengah.
Meski begitu, ia mengakui bahwa langkah tersebut membutuhkan koordinasi dengan berbagai pihak terkait.
Konflik meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu 28 Februari melancarkan serangan gabungan terhadap Iran, termasuk wilayah ibu kota Teheran.
Serangan tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur serta menimbulkan korban jiwa.
Mojtaba Khamenei dan Donald Trump (Istimewa)
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan yang menyasar wilayah Israel dan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di berbagai wilayah Timur Tengah.
Amerika Serikat dan Israel pada awalnya menyatakan bahwa serangan tersebut bertujuan untuk menangkal ancaman dari program nuklir Iran.
Namun kemudian disebutkan bahwa langkah itu juga berkaitan dengan upaya mendorong perubahan kekuasaan di Iran.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan gugur pada hari pertama serangan gabungan tersebut.
Baca juga: Trump Buka Peluang Negosiasi dengan Iran, Namun...
Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengecam serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta menyerukan deeskalasi dan penghentian permusuhan secepatnya.
(Sumber: Antara)
Asap membubung setelah ledakan di tengah kota Teheran, Iran, Jumat 6 Maret 2026. (ANTARA/Xinhua/Shadati/aa.) (Antara)