PBB Sebut Berakhirnya New START Sebagai Masa Kelam Bagi Keamanan Dunia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Feb 2026, 17:30
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip foto - Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, berbicara pada jumpa pers di Markas Besar PBB, di New York, Amerika Serikat, Jumat, 28 Februari 2025. ANTARA/Xinhua/HO-UN Photo/Manuel Elias/aa. Arsip foto - Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, berbicara pada jumpa pers di Markas Besar PBB, di New York, Amerika Serikat, Jumat, 28 Februari 2025. ANTARA/Xinhua/HO-UN Photo/Manuel Elias/aa. (Antara)

Ntvnews.id, Hamilton, Kanada - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai berakhirnya perjanjian terakhir antara Amerika Serikat dan Rusia mengenai pengendalian senjata nuklir sebagai sebuah "masa kelam" bagi perdamaian dan keamanan internasional.

Perjanjian Pengurangan dan Pembatasan Senjata Serangan Strategis Lebih Lanjut atau New START resmi berakhir pada Kamis, 5 Februari 2026. Berakhirnya perjanjian tersebut menandai tidak adanya lagi pembatasan yang mengikat antara dua negara dengan kekuatan nuklir terbesar di dunia setelah berjalan selama sekitar 15 tahun.

“Berakhirnya Traktat New START tengah malam ini merupakan masa yang kelam bagi perdamaian dan keamanan internasional,” kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam pernyataannya pada Rabu, 4 Februari 2026.

Ia menambahkan, “kita menghadapi dunia tanpa batasan yang mengikat terkait persenjataan nuklir strategis antara Federasi Rusia dan Amerika Serikat.”

Baca Juga: PBB: Anak-Anak Gaza Meninggal Akibat Dingin, Krisis Kemanusiaan Kian Memburuk

Guterres menyatakan, selama ini mekanisme pengendalian senjata nuklir antara kedua negara berperan penting dalam menjaga stabilitas global, mencegah potensi bencana nuklir, serta menekan risiko kesalahan perhitungan yang dapat berakibat fatal.

Baca Juga: China Desak Negara Penunggak Iuran PBB Segera Dilunaskan

Dari Perundingan Pembatasan Senjata Strategis atau Strategic Arms Limitation Talks (SALT) hingga New START, perjanjian bilateral antara Amerika Serikat dan Rusia telah memangkas ribuan hulu ledak nuklir serta memperkuat keamanan dunia, katanya.

“Pembubaran capaian selama puluhan tahun ini tidak bisa terjadi pada waktu yang lebih buruk,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa “risiko penggunaan senjata nuklir saat ini merupakan yang tertinggi dalam beberapa dekade.”

Guterres juga menegaskan bahwa "risiko penggunaan senjata nuklir saat ini merupakan yang tertinggi dalam beberapa dekade."

Ia memperingatkan, absennya pembatasan strategis yang dapat diverifikasi berpotensi memicu kekhawatiran serius terhadap keamanan global, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Meski demikian, Guterres menilai situasi ini juga dapat menjadi momentum untuk memperbarui dan menyelaraskan kembali upaya pengendalian senjata di tingkat global.

Baca Juga: Inggris Ambil Alih Presidensi DK PBB, Bakal Lakukan Hal Ini

“Dunia kini menantikan Federasi Rusia dan Amerika Serikat untuk melaksanakan apa yang mereka ucapkan,” katanya, sambil mendorong kedua negara kembali duduk di meja perundingan.

Ia menyerukan tercapainya kesepakatan pengganti yang “memulihkan batasan yang bisa diverifikasi, mengurangi risiko, dan memperkuat keamanan kolektif.”

New START ditandatangani oleh Amerika Serikat dan Rusia pada 8 April 2010 di Praha dan mulai berlaku pada 5 Februari 2011. Perjanjian tersebut menggantikan START I yang berakhir pada 2009 serta Strategic Offensive Reductions Treaty (SORT) tahun 2002, sebagaimana dicatat oleh Arms Control Association yang berbasis di Amerika Serikat.

(Sumber: Antara) 

x|close