Ntvnews.id, Seoul - Pemerintah Korea Selatan (Korsel) mengumumkan rencana pembangunan dua reaktor nuklir baru yang ditargetkan rampung paling lambat pada 2038. Kebijakan ini ditempuh seiring meningkatnya kebutuhan energi bersih serta upaya menekan emisi karbon di sektor kelistrikan.
Menteri Iklim Korea Selatan Kim Sung-whan, dalam konferensi pers di Seoul pada Senin, 26 Januari 2026, menyatakan bahwa pemerintah akan melaksanakan seluruh tahapan yang diperlukan guna menuntaskan pembangunan dua reaktor nuklir berkapasitas besar pada rentang 2037–2038.
Proyek tersebut merupakan bagian dari rencana dasar energi ke-11 yang dirumuskan oleh pemerintahan sebelumnya.
Kim menekankan bahwa penurunan emisi karbon di sektor energi hanya dapat dicapai dengan mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dan gas alam cair.
Baca Juga: Presiden Korsel Minta China Jadi Mediator Isu Nuklir Korea Utara
“Karena itu, kita membutuhkan pengoperasian sistem kelistrikan yang berpusat pada energi terbarukan dan tenaga nuklir,” ujarnya, dikutip dari Anadolu, Selasa, 27 Januari 2026.
Rencana pembangunan reaktor nuklir tambahan ini mendapat respons positif dari publik. Pekan lalu, dua survei yang dipesan pemerintah menunjukkan sekitar 80 persen responden menilai tenaga nuklir masih diperlukan, sementara sekitar 60 persen menyatakan dukungan terhadap pembangunan reaktor baru.
Ilustrasi Fasilitas Nuklir Iran yang diserang oleh AS dan Israel (Antara)
Perusahaan energi milik negara, Korea Hydro & Nuclear Power Co. (KHNP), dijadwalkan segera membuka proses lelang untuk menentukan kota atau wilayah yang akan menjadi lokasi pembangunan dua reaktor tersebut. Penetapan lokasi ditargetkan pada 2027.
Kementerian terkait menyebutkan bahwa KHNP menargetkan perolehan izin dari otoritas pengawas keselamatan nuklir pada 2031, sehingga proses konstruksi dapat diselesaikan sesuai jadwal, yakni pada 2037–2038.
Ilustrasi - Fasilitas nuklir Iran. (ANTARA)