Ntvnews.id, Seoul - Suasana Bandara Internasional Gimpo di Seoul mendadak menegang setelah beredar unggahan anonim di internet yang memuat ancaman penerbangan bunuh diri. Ancaman tersebut muncul dari seorang pengguna forum yang mengklaim dirinya sebagai pilot komersial.
Pengunggah itu menyatakan niat melakukan aksi ekstrem di atas bandara sebagai bentuk kekecewaan terhadap proses penggabungan Korean Air dan Asiana Airlines. Dalam unggahan yang kemudian dihapus, ia juga menyinggung aksi penusukan. Menyikapi hal itu, otoritas Korea Selatan segera meningkatkan pengamanan di sekitar bandara sekaligus menelusuri identitas pelaku.
Dikutip dari South China Morning Post, Senin, 26 Januari 2026,, aparat keamanan dan otoritas penerbangan langsung mengambil langkah antisipatif sejak ancaman tersebut terdeteksi. Unggahan itu diketahui muncul di sebuah forum daring anonim yang cukup populer di kalangan pekerja kantoran.
Hingga saat ini, polisi masih mendalami apakah penulis pesan benar-benar seorang pilot atau memiliki hubungan dengan maskapai tertentu. Ancaman itu mencuat di tengah proses integrasi Korean Air dan Asiana Airlines yang resmi bergabung pada 2024, setelah melalui pengawasan ketat regulator antimonopoli global selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Momen Prabowo Berikan Koin Kepresidenan kepada Pengawal Swiss di Bandara
Saat ini, kedua maskapai masih menjalani proses penyatuan sumber daya manusia, rute penerbangan, hingga merek dagang. Proses tersebut diperkirakan baru akan rampung pada tahun depan. Seorang pejabat Korea Airports Corporation membenarkan adanya laporan ancaman tersebut dan menyatakan pihaknya tengah memeriksa detail kejadian bersama otoritas terkait.
Penggabungan dua raksasa penerbangan Korea Selatan itu memang memicu kegelisahan di kalangan karyawan Asiana. Serikat pekerja sebelumnya menyuarakan kekhawatiran mengenai potensi pemutusan hubungan kerja serta perubahan kondisi kerja.
Meski demikian, Ketua Hanjin Group Cho Won-tae menilai akuisisi tersebut krusial demi keberlanjutan perusahaan.
Bandara/ist
"Kita mungkin akan menghadapi perbedaan di antara kita sendiri dan tantangan tak terduga di tengah perubahan yang cepat," ujar Cho.
"Saya percaya kita bisa menjadi satu perusahaan, bersatu dalam tekad untuk berkontribusi pada pembangunan ekonomi Korea melalui transportasi," lanjutnya.
Cho juga menegaskan bahwa keselamatan penumpang dan karyawan tetap menjadi prioritas utama, terlebih setelah insiden kebocoran data pribadi yang sempat menimpa ribuan pekerja Asiana pada tahun lalu.
Meski kasus kecelakaan yang disengaja oleh pilot tergolong sangat jarang terjadi di Asia, ancaman tersebut tetap menimbulkan kekhawatiran serius dan membuat aparat meningkatkan kewaspadaan di sektor penerbangan.
Bandara/ist