Iran Ancam Serangan Pendahuluan ke Israel dan Pangkalan AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Jan 2026, 05:40
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat. /ANTARA/Anadolu/py/am. Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat. /ANTARA/Anadolu/py/am. (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Kepala Angkatan Darat Iran Mayor Jenderal Amir Hatami melontarkan ancaman akan melancarkan serangan militer pre-emptive atau serangan pendahuluan terhadap Israel serta pangkalan-pangkalan Amerika Serikat (AS).

Dilansir dari DW, Jumat, 9 Januari 2026, ancaman tersebut disampaikan sebagai respons atas pernyataan keras rezim Zionis dan Washington yang dinilai terus menargetkan Republik Islam Iran.

Sebelumnya, Israel dan Amerika Serikat kembali mengeluarkan ancaman untuk menyerang Teheran di tengah gelombang unjuk rasa besar yang melanda Iran. Aksi protes tersebut bermula dari tekanan ekonomi yang semakin berat, lalu berkembang menjadi tuntutan untuk menjatuhkan pemerintahan.

Di tengah eskalasi demonstrasi, Presiden AS Donald Trump turut memberikan pernyataan pada Minggu lalu.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan campur tangan AS dalam protes tersebut, Trump menyatakan: "Kami akan mengamati. Kami mengawasinya dengan sangat cermat. Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, saya pikir mereka akan mendapat balasan yang sangat keras dari Amerika Serikat.”

Baca Juga: Korban Aksi Protes Iran Terus Bertambah, Ketegangan Internasional Meningkat

Berbicara di hadapan para taruna akademi militer pada Rabu, Jenderal Hatami menegaskan sikap keras terhadap Washington dan Tel Aviv. "Saat ini tidak ada keraguan tentang permusuhan Presiden AS [Donald Trump] dan Perdana Menteri Israel [Benjamin Netanyahu] yang kriminal terhadap bangsa Iran." Ia menuding kedua pemimpin tersebut telah mencampuri urusan dalam negeri Iran.

“Republik Islam menganggap intensifikasi retorika semacam itu terhadap bangsa Iran sebagai ancaman dan tidak akan membiarkan kelanjutannya tanpa tanggapan,” katanya kepada para pelajar.

Hatami juga menekankan bahwa kekuatan militer Iran kini berada pada tingkat kesiapan yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. “Saya dapat mengatakan dengan yakin bahwa kesiapan angkatan bersenjata Iran saat ini jauh

lebih besar daripada sebelum perang. Jika musuh melakukan kesalahan, mereka akan menghadapi respons yang lebih tegas, dan kami akan memotong tangan setiap agresor," paparnya.

Arsip foto - Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (ANTARA/Anadolu) <b>(Antara)</b> Arsip foto - Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (ANTARA/Anadolu) (Antara)

Senada dengan itu, Dewan Pertahanan Iran yang baru dibentuk menyatakan bahwa Teheran memiliki opsi untuk merespons lebih dulu sebelum serangan musuh benar-benar terjadi. Dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah, dewan menegaskan bahwa tuduhan dan pernyataan intervensionis terhadap Iran dapat dikategorikan sebagai tindakan bermusuhan apabila melampaui sekadar retorika.

Dewan tersebut menegaskan bahwa keamanan, kemerdekaan, dan keutuhan wilayah Iran merupakan garis merah yang tidak dapat diganggu gugat. Mereka memperingatkan bahwa sikap bermusuhan yang berkelanjutan akan memicu respons, dengan seluruh konsekuensi menjadi tanggung jawab pihak yang memulainya. Dalam kerangka pertahanan yang sah, Iran menegaskan tidak membatasi diri hanya untuk bereaksi setelah serangan terjadi, dan akan memasukkan indikasi ancaman nyata dalam perhitungan keamanannya.

Baca Juga: Arab Saudi Akui Bocorkan Informasi Penting untuk Membantu Israel Gagalkan Serangan Iran

“Setiap pelanggaran terhadap kepentingan nasional, campur tangan dalam urusan internal, atau tindakan yang mengancam stabilitas Iran akan ditanggapi dengan respons yang proporsional, tepat sasaran, dan tegas. Peningkatan bahasa yang mengancam dan perilaku intervensionis yang melampaui sekadar gertakan verbal dapat diartikan sebagai perilaku bermusuhan," katanya, seperti dikutip dari Middle East Monitor.

Sementara itu, untuk meredam kemarahan publik di balik gelombang protes, pemerintah Iran mulai menyalurkan subsidi sekitar £5 per bulan guna menutup kenaikan harga bahan pangan pokok seperti beras, daging, dan pasta sejak Rabu. Lonjakan harga kebutuhan pokok disebut sebagai pemicu utama demonstrasi yang berujung kerusuhan.

Aksi protes sendiri bermula pada 28 Desember, setelah nilai mata uang Iran, rial, anjlok tajam di tengah pengetatan sanksi internasional serta dampak perang dengan Israel pada Juni lalu. Memasuki hari ke-11 pada Rabu, unjuk rasa belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan sejumlah kota baru seperti Bojnourd, Kerman, Rasht, Shiraz, dan Tabriz, serta beberapa kota kecil lainnya, ikut menjadi titik demonstrasi.

x|close