Ntvnews.id, Riyadh - Arab Saudi melayangkan peringatan keras kepada Uni Emirat Arab (UEA) terkait perkembangan situasi di Yaman. Langkah ini memicu pertanyaan mengenai dinamika terbaru hubungan kedua negara sekutu tersebut.
Seperti dilansir dari Al Arabiya, Kamis, 1 Januari 2026, koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi melancarkan serangan udara ke kota pelabuhan Mukalla, Yaman. Aksi ini dilakukan setelah dua kapal yang diduga membawa muatan senjata tiba dari Pelabuhan Fujairah di UEA.
Pihak Saudi menyebut serangan itu menyasar persenjataan dan kendaraan tempur dalam jumlah besar yang diturunkan dari kapal-kapal tersebut. Juru bicara Pasukan Koalisi pimpinan Saudi, Brigjen Turki al-Maliki, mengatakan awak kapal kedapatan mematikan sistem pelacakan sebelum menurunkan muatan di Pelabuhan Mukalla.
Baca Juga: Yaman Cabut Perjanjian Pertahanan dan Minta UEA Tarik Pasukan
Persenjataan dan kendaraan tempur itu diduga ditujukan untuk mendukung kelompok separatis Dewan Transisi Selatan (STC), yang beroperasi di wilayah Hadramaut dan al-Mahrah, kawasan Yaman yang selama ini dilanda konflik.
"Awak kedua kapal itu menonaktifkan sistem pelacakan mereka dan menurunkan sejumlah besar senjata dan kendaraan tempur untuk mendukung pasukan Dewan Transisi Selatan (STC)," demikian laporan kantor berita Saudi Press Agency (SPA).
SPA juga menyebut serangan udara dilakukan sebagai respons atas ancaman eskalasi situasi keamanan. "Mengingat bahaya dan eskalasi yang ditimbulkan oleh senjata-senjata ini... Angkatan Udara koalisi melancarkan operasi militer terbatas pagi ini yang menargetkan persenjataan dan kendaraan tempur yang telah diturunkan dari kedua kapal di pelabuhan al-Mukalla," tulis laporan tersebut.
Dalam beberapa pekan terakhir, STC yang didukung UEA dilaporkan berupaya menghidupkan kembali negara Yaman Selatan yang pernah merdeka. Kelompok ini disebut telah menguasai sebagian besar wilayah tertentu dengan mengusir pasukan pemerintah Yaman beserta sekutunya.
Tangkapan layar menunjukkan kebakaran akibat serangan udara oleh jet tempur Arab Saudi di Pelabuhan Mukalla, Hadramout, Yaman, 30 Desember 2025. (ANTARA/Xinhua/Stringer/aa) (Antara)
Koalisi pimpinan Saudi menegaskan komitmennya untuk mendukung pemerintah Yaman dalam menghadapi kelompok separatis. Riyadh juga mendesak STC agar mundur secara damai dari wilayah yang baru dikuasai.
Sebuah video yang dirilis koalisi Saudi disebut memperlihatkan proses pengiriman senjata setelah kapal-kapal dari UEA berlabuh di Yaman. Al-Maliki menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius.
"Ini merupakan pelanggaran nyata terhadap langkah-langkah deeskalasi dan upaya untuk mencapai solusi damai, serta pelanggaran terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) No. 2216 tahun 2015," ujar Al-Maliki.
Ia menambahkan bahwa serangan dilakukan atas permintaan Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman guna melindungi warga sipil di Hadramaut dan al-Mahrah, serta diklaim telah sesuai dengan hukum humaniter internasional.
Perkembangan ini mempertegang hubungan Saudi–UEA, yang selama ini mendukung faksi-faksi berbeda dalam politik Yaman. Arab Saudi secara terbuka mengaitkan kemajuan STC dengan dukungan Abu Dhabi. Dalam pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri Saudi menyebut langkah UEA sebagai ancaman serius.
"Kerajaan mencatat bahwa langkah-langkah yang diambil oleh negara saudara Uni Emirat Arab adalah sangat berbahaya," demikian pernyataan tersebut.
Baca Juga: 1.050 Petugas Kebersihan Diturunkan untuk Pastikan Natal Bersih dan Nyaman
Ketegangan ini menandai retaknya hubungan dua sekutu lama yang selama bertahun-tahun tergabung dalam koalisi melawan pemberontak Houthi yang didukung Iran. Meski tetap menjalin hubungan erat dan sama-sama anggota OPEC, Riyadh dan Abu Dhabi belakangan bersaing dalam pengaruh politik dan ekonomi di Timur Tengah serta Laut Merah.
Dewan Kepresidenan Yaman yang didukung Saudi bahkan mengumumkan keadaan darurat nasional, menghentikan kerja sama keamanan dengan UEA, serta memerintahkan seluruh pasukan UEA meninggalkan Yaman dalam waktu 24 jam. Pembatasan akses perbatasan, bandara, dan pelabuhan laut juga diberlakukan, kecuali dengan izin langsung dari Saudi.
Menanggapi hal tersebut, UEA menyatakan akan menarik pasukan yang tersisa dari Yaman. Kementerian Pertahanan UEA, seperti dikutip AFP, menyebut penarikan dilakukan secara sukarela dan membantah tuduhan mendukung serangan separatis.
Abu Dhabi menegaskan bahwa pengiriman ke Mukalla hanya berisi kendaraan untuk pasukannya sendiri.
"UEA mengutuk klaim yang dibuat mengenai pemberian tekanan atau arahan kepada pihak Yaman mana pun untuk melakukan operasi militer," tegas pernyataan resmi tersebut.
UEA juga menambahkan, "Pengiriman yang dimaksud tidak berisi senjata apa pun, dan kendaraan yang dibongkar tidak ditujukan untuk pihak Yaman mana pun."
Meski saling melontarkan tudingan, kedua negara menyatakan kesiapan untuk menempuh jalur dialog.
"Diplomasi masih menjadi pilihan untuk menghentikan eskalasi lebih lanjut," ujar seorang sumber yang dekat dengan koalisi militer Saudi kepada AFP.
Namun demikian, STC tetap bersikukuh tidak akan mundur dari wilayah yang telah dikuasai.
"Tidak masuk akal jika pemilik tanah diminta untuk meninggalkan tanahnya sendiri. Situasi ini mengharuskan untuk tetap tinggal dan memperkuat pertahanan," tegas kelompok tersebut.
Tangkapan layar menunjukkan kebakaran akibat serangan udara oleh jet tempur Arab Saudi di Pelabuhan Mukalla, Hadramout, Yaman, 30 Desember 2025. (ANTARA/Xinhua/Stringer/aa) (Antara)