Ntvnews.id, Jakarta - Sebuah poster digital yang beredar di media sosial mengeklaim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah menyatakan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) punah total akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Poster tersebut memperlihatkan ilustrasi hutan yang dilalap api, kerangka orangutan, serta kawasan hutan yang mengalami kerusakan. Gambar itu juga mencantumkan logo kementerian dan narasi yang menyebut seluruh populasi orangutan Kalimantan telah habis terbakar, sementara habitat alaminya rusak secara permanen.
Berikut tulisan yang tercantum dalam poster:
“ORANGUTAN KALIMANTAN (Pongo pygmaeus) DINYATAKAN PUNAH TOTAL BERDASARKAN PERNYATAAN KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA.”
Lantas, benarkah KLHK menyatakan orangutan Kalimantan telah punah akibat karhutla?
Unggahan yang menarasikan KLHK menyatakan orang utan Kalimantan punah akibat karhutla. Faktanya, pernyataan tersebut tidak berdasar. (Facebook) (Antara)
Penjelasan:
Hasil penelusuran tidak menemukan pengumuman resmi pemerintah yang menyatakan orangutan Kalimantan telah punah sepenuhnya. Sebaliknya, sejumlah laporan Kementerian Kehutanan menunjukkan bahwa satwa tersebut masih ditemukan di berbagai wilayah Kalimantan dan menjadi bagian dari penanganan satwa terdampak karhutla.
Dilansir dari ANTARA, Kementerian Kehutanan mencatat 290 individu satwa liar terdampak karhutla masih menjalani penanganan hingga 8 Oktober 2026. Sebanyak 272 individu di antaranya ditangani oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang tersebar di empat provinsi di Kalimantan.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi menyampaikan bahwa jumlah tersebut termasuk 96 individu orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Dari total itu, sebanyak 25 individu ditangani di wilayah Kalimantan Tengah.
Ristianto menjelaskan bahwa data tersebut merupakan akumulasi penanganan orangutan di seluruh wilayah Kalimantan Tengah. Angka itu tidak terbatas pada satwa yang terdampak langsung di Taman Nasional Tanjung Puting.
Proses penanganan satwa liar tersebut meliputi evakuasi, penggiringan menuju habitat yang lebih aman, translokasi, perawatan, hingga rehabilitasi.
Bukti lain bahwa orangutan masih ditemukan di Kalimantan terlihat dari kegiatan pelepasliaran yang dilakukan BKSDA Kalimantan Barat. Dalam laporan ANTARA pada 1 November 2026, sembilan orangutan yang sebelumnya diselamatkan dari kawasan terdampak karhutla di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara dikembalikan ke alam.
Pelepasliaran tersebut berlangsung pada 29 Oktober 2026 di Hutan Lindung Batu Nyambu, Kabupaten Ketapang. Sebelum dikembalikan ke habitatnya, sembilan orangutan itu menjalani proses pemulihan dan perawatan intensif di pusat rehabilitasi YIARI.
Saat ditemukan, seluruh orangutan mengalami dehidrasi dan kekurangan gizi karena kehilangan habitat serta sumber makanan. Dua di antaranya bahkan mengalami luka bakar pada bagian kaki yang diduga disebabkan bara api di lahan gambut.
Selain menyelamatkan satwa, pemerintah juga berupaya melindungi habitat orangutan dari kebakaran. Kementerian Kehutanan, sebagaimana dilaporkan ANTARA, membangun sekat bakar sepanjang sekitar 3,2 kilometer di Desa Paring Lahung, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah.
Pembangunan sekat tersebut bertujuan untuk menghambat penyebaran api agar tidak meluas ke kawasan yang menjadi habitat orangutan.
Dokumentasi Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) melalui situs resminya juga memperlihatkan keberadaan orangutan dan sejumlah satwa endemik lain di Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur. Yayasan tersebut turut memantau orangutan yang telah dilepasliarkan serta kondisi keanekaragaman hayati di kawasan hutan tersebut.
Kesimpulan:
Klaim bahwa KLHK menyatakan orangutan Kalimantan telah punah total akibat karhutla tidak benar. Data penanganan satwa, kegiatan rehabilitasi dan pelepasliaran, serta pemantauan habitat menunjukkan bahwa orangutan Kalimantan masih ditemukan dan menjadi bagian dari upaya konservasi.
Klaim: KLHK menyatakan orangutan Kalimantan punah akibat karhutla.
Rating: Hoaks
(Sumber: Antara)
Arsip - Bayi orang utan yang ditemukan lemas di Kutai Timur, Minggu (11/10/2026) kini telah menerima penanganan medis oleh Tim BKSDA Kaltim berkolaborasi dengan Centre for Orangutan Protection (COP). (Antara)