Menteri Transportasi Spanyol Mundur

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Nov 2026, 08:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Kecelakaan Kereta di Spanyol Kecelakaan Kereta di Spanyol (EL Pais)

Ntvnews.id, Madrid - Menteri Transportasi Spanyol Óscar Puente memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya menyusul kecelakaan kereta api yang merenggut 69 nyawa pada pekan lalu. Ia juga membatalkan pencalonannya dalam pemilihan legislatif dini yang akan digelar pada 29 November mendatang.

Puente menyampaikan keputusan tersebut dalam sidang parlemen. Pengunduran dirinya dilakukan setelah mendapat tekanan berulang kali dari kelompok oposisi sayap kanan dan serikat pekerja yang mendesak agar dirinya bertanggung jawab atas tragedi tersebut.

"Saya ingin memberitahukan kepada Anda bahwa saya tidak hanya mengundurkan diri dari jabatan saya sebagai menteri transportasi, tetapi saya juga menarik nama saya dari daftar calon untuk pemilihan legislatif dini pada tanggal 29 November," kata Puente, seperti dilansir dari The Guardian, Jumat, 6 November 2026.

Beberapa jam sebelum mengumumkan pengunduran diri, Puente sempat menyampaikan sejumlah agenda pemerintah untuk memperbaiki standar keselamatan jaringan perkeretaapian Spanyol. Ia juga berkomitmen mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kereta cepat di negara tersebut.

Baca Juga: Spanyol Minta Bantuan Uni Eropa Selidiki Tabrakan Kereta Cepat yang Tewaskan 69 Orang

Kecelakaan maut itu berlangsung pada Rabu, 28 Oktober 2026, ketika kereta milik perusahaan pelat merah Renfe menabrak bagian belakang kereta yang tengah berhenti milik operator swasta Iryo. Peristiwa tersebut terjadi di sekitar Desa Urda, sekitar 80 mil di sebelah selatan Madrid.

Hasil penyelidikan awal mengindikasikan adanya kegagalan pada sistem keselamatan otomatis yang seharusnya mampu menghentikan seluruh kereta di sepanjang jalur sejauh 39 mil. Meski demikian, pusat kendali tetap memberikan izin kepada kereta Renfe untuk melanjutkan perjalanan.

Tragedi tersebut memunculkan kritik terhadap pengelolaan keselamatan serta kondisi infrastruktur perkeretaapian Spanyol. Kelompok oposisi dan serikat pekerja turut menyalahkan Puente karena dianggap melempar tanggung jawab kepada operator pusat kendali atas insiden tersebut.

Sebagai respons terhadap persoalan keselamatan, Puente mengungkapkan sejumlah rencana pembenahan sistem operasional kereta. Salah satunya melalui pengembangan perangkat lunak yang mampu memberikan peringatan secara otomatis ketika ditemukan ketidakwajaran dalam pergerakan lalu lintas kereta.

Pemerintah Spanyol juga berencana mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk memantau sistem perkeretaapian sekaligus meminimalkan potensi kesalahan manusia.

Selain itu, setiap keputusan penting yang dibuat petugas pusat kendali ketika sistem keselamatan otomatis mengalami gangguan nantinya wajib memperoleh persetujuan dari petugas kedua.

Pembenahan juga akan menyasar aspek ketenagakerjaan. Pemerintah berencana memperbaiki kondisi kerja petugas pusat kendali, termasuk pengaturan jadwal istirahat serta pemantauan tingkat kelelahan para pekerja.

Dalam kesempatan yang sama, Puente mengumumkan alokasi bantuan senilai 30 juta euro atau sekitar Rp612 miliar bagi keluarga korban meninggal dunia serta puluhan orang yang mengalami luka-luka akibat kecelakaan tersebut.

Di tengah tuntutan perbaikan keselamatan, serikat pengemudi kereta Semaf turut mengumumkan rencana aksi mogok kerja pada 10 dan 12 November. Aksi tersebut merupakan bentuk protes terhadap kondisi kerja yang dinilai semakin memburuk serta sistem keselamatan "yang buruk".

Tragedi kereta pada Oktober itu juga bukan satu-satunya kecelakaan fatal yang terjadi di Spanyol sepanjang tahun ini. Sebelumnya, pada Januari, tabrakan kereta di wilayah Andalusia menewaskan 46 orang di jalur utama yang menghubungkan Madrid dengan Sevilla.