Ntvnews.id, Jakarta - Pengamat politik Iyyas Subiakto menilai Presiden ke-7 RI Joko Widodo masih memiliki pengaruh yang patut diperhitungkan dalam perkembangan politik nasional, meskipun telah menyelesaikan masa jabatannya sebagai presiden.
Menurut Iyyas, posisi Jokowi dalam politik Indonesia tidak semata-mata ditentukan oleh jabatan formal yang pernah diembannya, tetapi juga oleh jaringan pendukung, pengalaman politik, dan persepsi masyarakat yang terbentuk selama kepemimpinannya.
Iyyas berpandangan bahwa pengaruh tersebut berpotensi tetap memainkan peran dalam konfigurasi politik menuju Pemilu 2029.
Ketika ditanya mengenai besarnya pengaruh Jokowi terhadap masa depan politik Gibran Rakabuming Raka, Iyyas menjawab bahwa pengaruh tersebut masih sangat signifikan.
“Sangat besar apalagi kalau pak Jokowi akan menjadi ketum PSI,” ujar Iyyas dalam keterangannya, Jumat, 6 November 2026.
Pernyataan tersebut merupakan pandangan Iyyas mengenai kemungkinan perkembangan politik ke depan, bukan konfirmasi bahwa Jokowi akan menduduki posisi Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Baca Juga: 5 Fakta Menarik Sidang Ijazah Jokowi
Menurut Iyyas, keterlibatan Jokowi dalam kepemimpinan partai, apabila benar-benar terjadi, berpotensi memberikan pengaruh terhadap dinamika persaingan politik nasional.
Ia juga melihat perjalanan politik Jokowi sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi munculnya kepemimpinan baru.
Dalam pandangannya, pengaruh seorang pemimpin tidak harus berhenti ketika masa jabatannya berakhir. Pengalaman politik dan basis dukungan yang telah terbentuk masih dapat memiliki relevansi dalam proses regenerasi kepemimpinan.
Iyyas mengaitkan hal tersebut dengan momentum politik menjelang 2029, yang menurutnya dapat menjadi ruang bagi transformasi dan pergantian generasi pemimpin.
“Ini momentum masa transisi antar generasi dan transformasi,” katanya.
Ia menilai pergantian generasi kepemimpinan perlu disertai pembaruan dalam penyelenggaraan negara, terutama agar kepentingan masyarakat tetap menjadi prioritas utama.
Dalam konteks tersebut, pengaruh Jokowi terhadap figur politik generasi berikutnya, termasuk Gibran, menjadi salah satu faktor yang menurut Iyyas patut diperhitungkan.
Meski demikian, pengaruh politik Jokowi di masa mendatang tetap akan bergantung pada berbagai perkembangan, termasuk arah konsolidasi partai politik, respons masyarakat, serta kinerja para pemimpin yang memperoleh dukungannya.
Baca Juga: Kata-kata Jokowi Usai 13 Jam Bersaksi di Sidang Roy Suryo dan Dokter Tifa
Iyyas juga mengingatkan bahwa kepentingan politik kelompok tidak seharusnya mendominasi penyelenggaraan pemerintahan.
“Setelah menang pemilu atau pilpres mereka adalah pegawai rakyat,” ujarnya.
Dengan demikian, pandangan Iyyas mengenai masa depan politik Jokowi tidak hanya menempatkan mantan presiden tersebut sebagai figur berpengaruh, tetapi juga menghubungkannya dengan kemungkinan regenerasi kepemimpinan dan perubahan konfigurasi politik Indonesia menuju 2029.
Jokowi (Ntvnews.id/Adiansyah)