Mendag Tegaskan Ritel Modern Jadi Katalis Pengentasan Kemiskinan dan Ekspansi UMKM ke Pasar Global

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Nov 2026, 09:40
thumbnail-author
April
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Perdagangan Budi Santoso resmi menutup gelaran Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 pada Minggu, (18/10). (Istimewa) Menteri Perdagangan Budi Santoso resmi menutup gelaran Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 pada Minggu, (18/10). (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa sektor ritel modern memiliki peran strategis yang tidak hanya terbatas pada pertumbuhan ekonomi nasional, melainkan juga menjadi instrumen efektif dalam mengentaskan kemiskinan serta memfasilitasi ekspansi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menuju pasar ekspor.

Pernyataan tersebut disampaikan Budi di Jakarta, seiring dengan penguatan sinergi antara pemerintah dan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dalam mengoptimalkan penyerapan produk lokal. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, porsi produk lokal di berbagai gerai ritel modern saat ini telah mendekati angka 80 persen.

"Memang salah satu kolaborasi kita di ritel modern adalah bagaimana kita mengurangi kemiskinan ya, menghilangkan kemiskinan. Makanya kita ada beberapa program bagaimana produk-produk lokal kita bisa masuk di ritel modern," ujar Budi Santoso, dikutip, Selasa, 3 November 2026.

Menurut Mendag, jaringan ritel modern berfungsi ganda sebagai gerbang kurasi sekaligus wadah standardisasi mutu produk. Ketika produk UMKM mampu menembus jaringan ritel modern, hal tersebut menandakan bahwa proses standardisasi—termasuk yang difasilitasi oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) telah berjalan dengan baik, sehingga kualitas dan mutu barang senantiasa terjaga bagi konsumen domestik.

Keberhasilan kurasi produk di pasar domestik melalui ekosistem ritel ini selanjutnya diposisikan sebagai pijakan awal untuk mendongkrak daya saing produk lokal di kancah internasional melalui program bertajuk "Dari Lokal untuk Global".

Sejumlah kisah sukses telah tercatat dari program kurasi ini. Salah satunya adalah UMKM PUKA (Pulas Katumbiri), produsen aksesoris dan karya disabilitas, yang berhasil membukukan transaksi senilai 40 juta dolar AS di ajang Trade Expo Indonesia (TEI) serta sukses menembus pasar ekspor ke Singapura. Selain itu, komoditas kerupuk buatan UMKM nasional juga mencatatkan pencapaian gemilang dengan nilai ekspor hingga 10 juta dolar AS ke Belanda.

Baca Juga: Bertemu Menteri Perdagangan Kanada, Airlangga Dorong Percepatan ICA-CEPA

"Hal ini mengindikasikan adanya penerimaan yang besar dari dunia internasional akan produk UMKM nasional kita," tambahnya.

Momentum positif ekspor nasional turut tecermin dari penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 yang berlangsung pada 14–18 Oktober lalu di Jakarta. Ajang tersebut mencatatkan lonjakan signifikan, baik dari segi partisipasi pelaku usaha maupun kehadiran pembeli (buyer) internasional.

Jumlah peserta pameran meningkat dari 1.500 peserta pada tahun sebelumnya menjadi 1.873 peserta. Sementara itu, kehadiran pembeli asing melonjak dari 8.045 menjadi 9.600 buyer.

Dari segi transaksi, total potensi transaksi ekspor pada TEI 2026 mencapai 22,094 miliar dolar AS, dengan kontribusi ekspor khusus dari sektor UMKM menembus angka 510 juta dolar AS. Adapun total kesepakatan perdagangan yang terjalin mencakup 426 nota kesepahaman (MoU), di mana pada hari pertama saja telah membukukan 168 MoU senilai 13,2 miliar dolar AS.

Mendag mengungkapkan bahwa pencapaian transaksi yang masif tersebut tidak lepas dari pelaksanaan business matching yang dilakukan secara intensif sejak satu tahun sebelum pameran dimulai.

"Produk-produk yang dipamerkan di Trade Expo itu sudah kita carikan buyer-nya, sehingga ketika sampai di Trade Expo sebenarnya mereka sudah ketemu secara online dan mengunjungi perusahaan," pungkas Budi.