Warga Israel Makin Banyak Pindah dan Investasi di Siprus

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Sep 2026, 09:35
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Bendera Israel/ist Bendera Israel/ist

Ntvnews.id, Siprus - Ketidakpastian situasi keamanan di Israel sejak serangan 7 Oktober 2023 serta rangkaian perang setelahnya membuat semakin banyak warga Israel mempertimbangkan Siprus sebagai tempat tinggal.

Pulau yang berada tidak jauh dari Israel tersebut kini tidak hanya dipandang sebagai destinasi wisata maupun lokasi investasi. Bagi sebagian warga Israel, Siprus mulai dipertimbangkan sebagai tempat tinggal permanen sekaligus "Rencana B" jika kondisi di Israel semakin memburuk.

Sejumlah warga Israel yang berbicara kepada DW dengan syarat identitas mereka dirahasiakan menceritakan alasan di balik keputusan tersebut.

"Saya ingin punya Rencana B kalau situasi di Israel semakin sulit," kata seorang warga Israel yang baru-baru ini membeli rumah di sebuah kompleks perumahan besar di distrik Limassol, Siprus, dikutip dari DW, Rabu, 23 September 2026.

Warga Israel lainnya menyebut faktor jarak dan kemiripan kondisi lingkungan antara kedua wilayah menjadi alasan ketertarikan mereka terhadap Siprus.

"Hanya 40 menit naik pesawat, pemandangannya sama, iklimnya sama. Rasanya seperti berada di Israel tanpa benar-benar berada di sana."

Selain alasan tempat tinggal, perpindahan tersebut juga didorong kepentingan bisnis. Sejumlah perusahaan Israel disebut telah memindahkan sebagian aktivitas operasionalnya ke Siprus untuk mempermudah kegiatan bisnis dengan negara-negara Uni Eropa.

Baca Juga: Iran Eksekusi Mati Lagi Pria yang Jadi Mata-mata Israel

Republik Siprus memiliki jumlah penduduk kurang dari satu juta jiwa. Berdasarkan perkiraan yang dikutip media Israel, sedikitnya 3.000 keluarga Israel kini menetap secara permanen di negara tersebut dan jumlahnya bertambah beberapa ratus keluarga setiap tahun.

Media Israel juga melaporkan puluhan ribu warga Israel telah memiliki properti di Siprus. Surat kabar Israel Hayom menyebut sekitar 20.000 warga Israel mempunyai properti di negara tersebut meski tidak menetap sepanjang tahun.

Data Kantor Pertanahan Siprus yang disampaikan kepada parlemen menunjukkan terdapat 3.851 transaksi pengalihan kepemilikan dan kontrak penjualan properti yang melibatkan pembeli asal Israel sepanjang 2021 hingga 2024. Data tersebut mencakup tiga distrik pesisir, yakni Larnaca, Paphos, dan Limassol.

Investasi Israel Merambah Berbagai Proyek

Minat warga dan investor Israel terhadap Siprus tidak hanya terlihat dari pembelian rumah dan apartemen. Investasi juga mengalir ke sektor tanah, pariwisata, hingga proyek berskala besar.

Salah satu investor yang cukup menonjol adalah grup perhotelan Israel Fattal. Nilai investasinya di Siprus diperkirakan mencapai ratusan juta euro melalui sejumlah proyek hotel di Limassol, Paphos, dan Larnaca.

Di Larnaca, investor yang memiliki kepentingan Israel turut terlibat dalam proyek revitalisasi hotel bersejarah Palm Beach. Nilai investasinya disebut lebih dari €110 juta atau sekitar Rp2,25 triliun.

Pangkalan Udara Siprus <b>(Antara)</b> Pangkalan Udara Siprus (Antara)

Selain itu, terdapat proyek Aqua Residences dengan nilai sekitar €40 juta atau setara Rp817 miliar. Proyek tersebut mencakup pembangunan dua menara setinggi 15 lantai di kawasan pesisir.

Sementara di distrik Limassol, seorang investor Israel berencana mengembangkan kembali Trozena, desa yang telah lama ditinggalkan. Rencana tersebut meliputi renovasi sekitar 60 rumah, pembangunan fasilitas wisata, area perkemahan, serta kilang anggur.

Namun, proyek yang berada di kawasan lindung Natura 2000 itu menuai penolakan dan penyelidikan dari otoritas terkait. Sejumlah pekerjaan disebut telah dimulai sebelum izin perencanaan dan izin bangunan diperoleh.

Kehadiran Komunitas Israel Semakin Terlihat

Pertumbuhan komunitas Israel di Siprus juga terlihat dari berkembangnya berbagai fasilitas yang ditujukan untuk mereka.

Sejumlah tempat ibadah, usaha, serta layanan khusus warga Israel mulai bermunculan di Larnaca, Limassol, dan Paphos. Salah satunya restoran yang menyediakan makanan kosher.

Papan iklan berbahasa Ibrani juga semakin mudah ditemui di sejumlah ruas jalan. Bahkan, materi kampanye politik Israel sempat terpampang di jalan raya Siprus. Pada musim panas lalu, papan reklame Partai Yashar pimpinan Gadi Eisenkot yang menyasar pemilih Israel terlihat di sejumlah lokasi.

Rencana pembangunan sekolah swasta Yahudi di Polemidia, dekat Limassol, juga menjadi salah satu indikator meningkatnya keberadaan komunitas Israel. Sekolah tersebut direncanakan mampu menampung hingga 1.500 siswa.

Mengingatkan pada Arus Modal Rusia

Meningkatnya aktivitas warga dan investor Israel kemudian memunculkan perdebatan politik mengenai investasi asing serta kepemilikan properti di Siprus.

Perdebatan tersebut turut dikaitkan dengan pengalaman Siprus menerima aliran modal besar dari Rusia. Arus investasi Rusia meningkat setelah Siprus memperluas program kewarganegaraan melalui investasi pascakrisis keuangan 2013.

Kritik politik antara lain disampaikan Sekretaris Jenderal Partai Progresif Rakyat Pekerja Siprus (AKEL), Stefanos Stefanou, serta anggota Parlemen Eropa dan pemimpin Partai Direct Democracy, Fidias Panayiotou.

AKEL yang merupakan partai kiri utama di Siprus dan berada di kubu oposisi menyoroti penjualan tanah kepada warga asing. Stefanou secara khusus menyinggung pembelian oleh warga Israel serta pembangunan kompleks hunian tertutup dengan fasilitas dan infrastruktur sendiri.

Sementara itu, Panayiotou menyampaikan kritik lebih jauh dengan mengklaim bahwa "Israel sedang membeli Siprus" dan memperingatkan potensi ketergantungan ekonomi Siprus terhadap modal dari Israel.

Pernyataan tersebut mendapat respons dari pihak Israel.

Duta Besar Israel untuk Siprus Oren Anolik membantah adanya pengaruh Israel yang berlebihan. Ia menyebut ribuan warga Israel yang tinggal dan menjalankan usaha di Siprus telah menjadi bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi negara tersebut.

Anolik juga memperingatkan bahwa menjadikan kewarganegaraan tertentu sebagai sasaran kritik serta menggunakan stereotip mengenai "kekuatan ekonomi asing" dapat memicu antisemitisme.

Pemerintah Siprus Tetap Dorong Investasi Asing

Pemerintah Siprus menjadikan investasi asing sebagai salah satu bagian penting dalam strategi perekonomiannya. Presiden Nikos Christodoulides berulang kali menyampaikan keinginan menjadikan Siprus sebagai tujuan investasi internasional.

Terkait investasi dari Israel, mantan Menteri Energi dan Perdagangan George Papanastasiou pada 2025 menyatakan pemerintah "senang melihat pengusaha Israel hadir di banyak sektor perekonomian Siprus," termasuk bidang pariwisata, teknologi, energi, kesehatan, dan properti.

Pembatasan Pembelian Properti Dibahas di Parlemen

Isu tersebut kini turut menjadi pembahasan di parlemen Siprus dan berkembang menjadi perdebatan mengenai pembelian properti oleh warga negara dari luar Uni Eropa secara umum.

Anggota parlemen sedang membahas usulan legislasi yang diajukan dua partai besar, yakni AKEL yang berhaluan kiri dan Democratic Rally (DISY) yang berhaluan kanan-tengah. Kedua usulan tersebut bertujuan membatasi pembelian tanah oleh warga negara non-Uni Eropa.

Anggota parlemen DISY Nikos Georgiou mengatakan kepada DW bahwa "dalam beberapa tahun terakhir, pembelian tanah oleh warga negara asing telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya," sehingga mempengaruhi "komposisi demografis, harga tanah dan, dalam beberapa kasus, keamanan nasional."

Georgiou menegaskan bahwa usulan tersebut "tidak ditujukan terhadap negara atau warga negara tertentu." Ia juga mengatakan pembahasan mengenai isu tersebut harus dilakukan "tanpa menakut-nakuti masyarakat, tanpa retorika yang diarahkan terhadap warga dari negara ketiga mana pun."

AKEL turut mengajukan proposal legislasi dengan tujuan serupa. Anggota parlemen AKEL Giorgos Koukoumas mengatakan kepada DW bahwa partainya menyoroti pembelian properti secara besar-besaran dan tidak terkendali oleh warga negara asing karena menjadi "salah satu faktor yang mendorong harga properti naik hingga tingkat yang membuat warga Siprus pada umumnya tidak lagi mampu membeli, bahkan menyewa rumah, di pusat-pusat kota negara tersebut."

Koukoumas juga mengungkapkan kekhawatiran yang menurutnya dirasakan sebagian masyarakat Siprus, terutama terkait aktivitas pembelian properti oleh warga Israel.

Menurutnya, kekhawatiran tersebut "jelas berkaitan dengan kenyataan bahwa warga Israel melakukan akuisisi besar-besaran terhadap perusahaan-perusahaan besar dan lahan yang luas, laporan berulang media Israel yang berbicara mengenai pembentukan 'Israel kedua di Siprus,' ditambah dengan kehadiran intelijen Israel di pulau kami serta hubungan dengan Israel di bidang pertahanan dan keamanan yang dalam beberapa tahun terakhir terus didorong oleh pemerintah Siprus."

TERKINI

Warga Israel Makin Banyak Pindah dan Investasi di Siprus

Luar Negeri Rabu, 23 Sep 2026 | 09:35 WIB

Penembakan di Sekolah Turki, 11 Siswa Terluka

Luar Negeri Rabu, 23 Sep 2026 | 09:25 WIB

DPR Fit and Proper Test 25 Calon Dubes, Siapa Saja?

News Rabu, 23 Sep 2026 | 09:07 WIB

Trump Diboikot Media AS, Gedung Putih Luncurkan Trump TV

Luar Negeri Rabu, 23 Sep 2026 | 09:01 WIB

Ini Penyebab Media AS Boikot Liputan Trump

Luar Negeri Rabu, 23 Sep 2026 | 08:25 WIB

Trump di PBB Sebut Dirinya Telah Wujudkan Perdamaian Dunia

Luar Negeri Rabu, 23 Sep 2026 | 07:50 WIB
Load More
x|close