Ntvnews.id, Istanbul - Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB Mike Waltz, mengatakan adanya peluang bagi Iran untuk kembali ke meja perundingan sebagai upaya mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Pernyataan itu disampaikan Waltz saat menghadiri acara Al-Monitor Live di sela-sela Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di New York, Minggu, 20 September 2026. Ia menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump meyakini waktu berada di pihak Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran yang telah berlangsung sejak 28 Februari.
"Saya yakin memang demikian," kata Waltz ketika ditanya penasihat senior Al-Monitor Andrew Parasiliti mengenai keyakinan AS bahwa waktu berpihak kepada mereka.
Waltz kemudian menegaskan kembali bahwa Iran masih memiliki kesempatan untuk kembali melakukan perundingan.
Baca Juga: Trump Unggah Peta Berbendera AS, Meksiko hingga Greenland Diselimuti Simbol Amerika
Ia juga membantah laporan yang menyebut Iran mengajukan penghentian sanksi Amerika Serikat dan tuntutan kompensasi sebagai syarat untuk melanjutkan pembicaraan. Menurut Waltz, laporan tersebut tidak benar.
"Rezim Iran saat ini berada di titik terlemahnya sejak 1979 dan kondisinya semakin melemah," kata Waltz menyoroti soal tekanan ekonomi dan ambruknya mata uang Iran.
"Mereka (Iran) akan kembali (ke meja perundingan), yang saya harap berlangsung secara damai dan diplomatis," tambahnya.
Mengenai situasi Gaza, Waltz menyebut pendekatan Pemerintah Amerika Serikat sebagai "jenis multilateralisme baru".
Baca Juga: Netanyahu Tolak 15 Poin Proposal Board of Peace Bentukan Amerika, Tak Akan Tarik Pasukan dari Gaza
Ia mengatakan pembahasan bersama Israel mengenai penerapan rencana 20 poin Presiden Donald Trump untuk Gaza dapat kembali dilakukan setelah pemilu parlemen Israel yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober.
Rencana tersebut memuat sejumlah agenda, termasuk pembentukan pemerintahan teknokratis Palestina, pembangunan kembali Gaza, serta pembentukan Pasukan Stabilisasi Internasional. Namun, pembicaraan terkait pelucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel masih menghadapi kebuntuan.
Waltz juga menyebut terdapat calon anggota yang menunjukkan ketertarikan untuk bergabung dalam Perjanjian Abraham sebagai bagian dari upaya normalisasi hubungan dengan Israel. Namun, ia tidak mengungkap negara-negara yang dimaksud.
Ia turut menyambut keputusan Israel dan Maroko pada awal September untuk saling menempatkan duta besar.
Sementara mengenai Irak, Waltz mengapresiasi langkah Perdana Menteri (PM) Iran Ali al-Zaidi yang disebut berupaya menempatkan milisi yang mendapat dukungan Iran di bawah kendali negara. Menurutnya, melemahnya Iran dapat menjadi peluang untuk membatasi pengaruh kelompok-kelompok tersebut.
(Sumber: Antara)
Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB Mike Waltz. (Antara)