Trump Ingin Irlandia dan Irlandia Utara Bersatu Kembali

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Sep 2026, 09:05
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Zaki Islami
Editor
Bagikan
Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan sebagai bagian dari KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan sebagai bagian dari KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat pernyataan yang menjadi perhatian publik. Dalam kunjungannya ke Irlandia, Trump mengungkapkan keinginannya agar Republik Irlandia dan Irlandia Utara kembali bersatu.

Dilansir dari ABC, Senin, 14 September 2026, Trump membahas isu yang sensitif secara politik tersebut saat menjalani kunjungan selama dua hari di Irlandia. Kedatangannya untuk menghadiri turnamen di fasilitas golf miliknya juga menuai sorotan karena dinilai mencampurkan peran sebagai presiden dengan kepentingan bisnis pribadinya.

Trump sebelumnya bertemu dengan Perdana Menteri Irlandia Micheal Martin di Dublin. Setelah pertemuan tersebut, Trump menyatakan bahwa reunifikasi Republik Irlandia dengan Irlandia Utara, yang telah terpisah selama lebih dari satu abad, akan menjadi sesuatu yang luar biasa.

"Saya tidak ingin menimbulkan masalah, tetapi saya sangat ingin melihatnya bersatu," ujar Trump kepada wartawan ketika ditanya mengenai pandangannya terhadap rencana reunifikasi tersebut.

"Hal itu pada akhirnya pasti akan terjadi. Jadi, sebaiknya hal itu terjadi sekarang saja. Menurut saya, itu akan menjadi hal yang luar biasa," katanya. Trump juga menyebut bahwa 'Inggris akan memiliki suara dalam hal ini'.

Pulau Irlandia diketahui terbagi menjadi Republik Irlandia di wilayah selatan dan Irlandia Utara yang masih menjadi bagian dari Inggris Raya sejak 1921. Berdasarkan Perjanjian Jumat Agung atau Good Friday Agreement 1998, referendum dapat digelar apabila pemerintah Inggris menilai terdapat kemungkinan mayoritas masyarakat Irlandia Utara mendukung bergabung dengan Republik Irlandia.

Baca Juga: Trump Perintahkan Hapus Produk Kanada dari Kontrak AS

Kesepakatan tersebut sekaligus mengakhiri konflik sektarian selama sekitar tiga dekade di Irlandia Utara yang menewaskan sekitar 3.000 orang.

Selain warga Irlandia Utara, masyarakat Republik Irlandia juga harus memberikan persetujuan melalui pemungutan suara agar reunifikasi dapat terlaksana. Selama ini, pemerintah AS mengambil posisi netral dalam persoalan tersebut.

Perdana Menteri Inggris Andy Burnham pada bulan lalu menegaskan bahwa referendum mengenai penyatuan Irlandia 'tidak masuk dalam agenda'. Pernyataan tersebut kemudian mendapat kecaman dari Sinn Fein, partai yang mendukung reunifikasi.

Ketika ditanya mengenai pernyataan Trump, juru bicara kantor Burnham merujuk pada pernyataan Burnham di parlemen pada Rabu. Saat itu, Burnham berjanji akan 'berpegang teguh 100 persen pada Perjanjian Jumat Agung'.

Sementara itu, kunjungan Trump ke Dublin juga diwarnai aksi demonstrasi. Polisi bahkan menutup akses menuju Phoenix Park, lokasi Trump mengunjungi kediaman resmi perdana menteri, presiden, serta para duta besar Irlandia.

Sejumlah demonstran terlihat membawa bendera Irlandia dan Palestina. Mereka juga meneriakkan berbagai slogan, termasuk 'Donald Trump tidak diterima di sini' dan 'Pemerintah Irlandia, memalukan'.

TERKINI

Trump Ingin Irlandia dan Irlandia Utara Bersatu Kembali

Luar Negeri Senin, 14 Sep 2026 | 09:05 WIB

Aljazair Tutup Wilayah Udara untuk Penerbangan UEA

Luar Negeri Senin, 14 Sep 2026 | 08:45 WIB

BRICS Desak Negara Timur Tengah Tahan Diri dalam Konflik

Luar Negeri Senin, 14 Sep 2026 | 08:25 WIB

India dan China Sepakat Cari Solusi Sengketa Perbatasan

Luar Negeri Senin, 14 Sep 2026 | 08:20 WIB

Barcak Obama Peringatkan AI Bisa Sangat Berbahaya

Luar Negeri Senin, 14 Sep 2026 | 08:15 WIB
Load More
x|close