Drone Bawah Air AS Ditaklukan, Iran Siap Tiru

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 11 Sep 2026, 09:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Zaki Islami
Editor
Bagikan
Arsip Foto - Bendera Iran terlihat di markas besar PBB di New York, AS, Rabu (8/1/2020). ANTARA/Xinhua/Li Muzi/am. Arsip Foto - Bendera Iran terlihat di markas besar PBB di New York, AS, Rabu (8/1/2020). ANTARA/Xinhua/Li Muzi/am. (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Penyitaan drone bawah air milik militer Amerika Serikat (AS) oleh Iran membuka kemungkinan bagi Teheran untuk mengkaji teknologi wahana tersebut, termasuk melakukan rekayasa balik atau reverse engineering.

Insiden tersebut dinilai dapat menjadi pukulan bagi Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon serta perusahaan pembuat drone, Anduril. Meski militer AS dan Anduril berupaya mengurangi arti penting insiden itu, jatuhnya wahana tersebut ke tangan Iran tetap menimbulkan kekhawatiran terkait potensi kebocoran teknologi.

Dilansir dari Reuters, Jumat, 11 September 2026, Drone bernama Dive-LD itu merupakan wahana bawah air otonom generasi baru yang dirancang menjalankan misi pengawasan jarak jauh. Wahana tersebut mampu beroperasi selama berhari-hari dengan intervensi manusia yang minim.

Iran diperkirakan akan berupaya membongkar perangkat keras Dive-LD untuk mempelajari teknologi dan metode pembuatannya.

Peneliti senior sekaligus Direktur Center for Defense Concepts and Technology di Hudson Institute, Bryan Clark, mengatakan komponen fisik drone tetap dapat dipelajari meskipun perangkat lunaknya telah dilengkapi sistem pertahanan.

Clark juga menilai para insinyur Iran memiliki kemampuan untuk melakukan rekayasa balik terhadap sistem mekanis drone tersebut. Hal itu didukung rekam jejak Iran dalam mempelajari dan mengembangkan kembali berbagai alat utama sistem persenjataan (alutsista) buatan AS.

Potensi Iran mengembangkan teknologi serupa secara mandiri juga menjadi perhatian sejumlah pakar.

"Tentu saja Iran akan memanfaatkan setiap kesempatan sebagai kemenangan propaganda," ujar Farzin Nadimi, peneliti senior di Washington Institute for Near East Policy.

"Hal ini dapat membantu (Garda Revolusi Iran/IRGC) membuat versi yang lebih baik dari desain mereka sendiri," lanjutnya.

Baca Juga: Trump Prediksi Perang AS-Iran Berakhir Usai Pemilu Paruh Waktu

Keinginan Teheran untuk melakukan rekayasa balik terhadap drone tersebut bahkan disampaikan secara terbuka melalui media sosial.

Kedutaan Besar Iran di Hyderabad menyindir insiden tersebut melalui akun X resminya.

"Upacara unboxing oleh para insinyur rekayasa balik kami, besok pagi," tulis kedutaan tersebut.

Rekam Jejak Rekayasa Balik Iran

Kekhawatiran Amerika Serikat terkait kemungkinan teknologi militernya dipelajari Iran memiliki dasar. Teheran sebelumnya telah beberapa kali memperoleh akses terhadap teknologi militer canggih AS yang kemudian diklaim berhasil ditiru atau dikembangkan kembali.

Pada 2011, Iran berhasil menangkap drone pengintai siluman RQ-170 Sentinel milik AS. Presiden AS saat itu, Barack Obama, bahkan secara terbuka meminta agar Teheran mengembalikan pesawat tersebut.

Iran kemudian mengklaim berhasil melakukan rekayasa balik terhadap RQ-170 Sentinel dan memperkenalkan drone produksi dalam negeri yang memiliki desain sangat menyerupai pesawat pengintai AS tersebut.

Ancaman terhadap teknologi maritim AS juga sebelumnya telah menjadi perhatian Washington.

Pada 2022, kapal patroli Angkatan Laut AS bersama helikopter MH-60S Seahawk segera dikerahkan ke kawasan Teluk setelah kapal Angkatan Laut Iran berupaya menarik wahana permukaan tanpa awak Saildrone milik AS.

AS Berusaha Redam Kekhawatiran

Ilustrasi - Bendera Amerika Serikat dengan bendera Iran. <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Bendera Amerika Serikat dengan bendera Iran. (Antara)

Di sisi lain, Angkatan Laut AS berupaya meredakan kekhawatiran mengenai kemungkinan terbongkarnya teknologi sensitif. Militer AS menyatakan Dive-LD yang diamankan Iran merupakan model lama yang mengalami gangguan teknis hingga akhirnya terombang-ambing di laut sebelum ditemukan dan disita.

Juru Bicara US Central Command atau Central Command (Centcom), Kapten Angkatan Laut AS Tim Hawkins, memastikan tidak ada teknologi rahasia penting yang berhasil diperoleh Iran.

"Drone yang rusak tersebut adalah model lama yang tidak mengumpulkan data sensitif maupun membawa peralatan radar atau sonar bersandi rahasia," ujar Hawkins.

Baca Juga: AS Hancurkan 5 Kapal Tanker Iran

Sementara itu, Anduril belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi mengenai insiden tersebut.

Walaupun disebut sebagai model lama oleh militer AS, Dive-LD yang dipasarkan Anduril memiliki kemampuan yang tergolong canggih.

Anduril mempromosikan Dive-LD sebagai wahana bawah air otonom berukuran besar yang memiliki tingkat keandalan dan fleksibilitas tinggi. Drone tersebut diklaim mampu bertahan hingga 10 hari dalam kondisi ekstrem.

Teknologi Dive-LD juga memiliki nilai strategis karena wahana tersebut pernah digunakan sebagai basis pengujian dalam pengembangan drone Ghost Shark milik Australia.

TERKINI

Load More
x|close