Filipina dan Chila Saling Sindir Buntut Persoalan Laut China Selatan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 11 Sep 2026, 08:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Arsip - Ilustrasi - Laut China Selatan. ANTARA/Anadolu/py Arsip - Ilustrasi - Laut China Selatan. ANTARA/Anadolu/py (Antara)

Ntvnews.id, Manila - China atau Tiongkok dan Filipina kembali terlibat ketegangan terkait sengketa Laut China Selatan. Perseteruan terbaru terjadi setelah kedua negara saling menanggapi pernyataan mengenai putusan arbitrase internasional atas klaim maritim Beijing.

Ketegangan tersebut muncul dalam forum Seoul Defense Dialogue di Korea Selatan. Saat itu, Menteri Pertahanan Nasional Filipina Gilberto Teodoro Jr. menerima sebuah nota dari Tiongkok ketika sedang menjawab pertanyaan dalam forum.

Teodoro mengatakan nota tersebut memuat sejumlah sikap Tiongkok terkait sengketa Laut China Selatan. Ia kemudian membacakan isi nota sekaligus memberikan tanggapan terhadap setiap poin di hadapan para peserta forum.

"Posisi Tiongkok mengenai arbitrase Laut China Selatan jelas, konsisten, dan tegas," demikian isi nota tersebut. Teodoro menjawab, "Tiongkok tidak punya posisi."

Ketika nota itu menyebut putusan arbitrase bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar hukum internasional, Teodoro merujuk pada Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS).

"Jadi, yang kalian tandatangani, UNCLOS, melanggar hukum internasional?" katanya, dikutip dari Anadolu, Jumat, 11 September 2026.

Nota Beijing juga menyatakan putusan arbitrase tersebut "ilegal, batal, dan tidak sah". Menanggapi hal itu, Teodoro menilai Tiongkok menolak putusan tersebut karena tidak ingin tunduk pada ketentuan UNCLOS.

Baca Juga: China Mulai Khawatir Mobil Baru Dikembangkan Terlalu Cepat, AI Jadi Sorotan

Saat membacakan bagian nota yang menyatakan Tiongkok tidak menerima ataupun mengakui putusan arbitrase, Teodoro memberikan jawaban singkat, "Tentu saja, karena kalian kalah."

Teodoro selanjutnya menyebut nota tersebut sebagai bentuk "pemaksaan, intimidasi, dan agresi nyata". Ia juga mengatakan akan menyimpan nota tersebut sebagai pengingat atas apa yang disebutnya sebagai "betapa putus asanya Tiongkok".

Tiongkok Kecam "Provokasi" Filipina

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Mao Ning merespons pernyataan Teodoro pada Rabu (9/9). Mao mengaku belum mengetahui secara rinci apa yang terjadi dalam forum tersebut, tetapi menegaskan sikap Beijing terhadap putusan arbitrase Laut China Selatan tetap sama.

Mao menuding Filipina secara sepihak membawa sengketa tersebut ke proses arbitrase. Ia juga menuduh Manila melakukan "distorsi serta penyalahgunaan" terhadap mekanisme penyelesaian sengketa yang diatur dalam UNCLOS.

Menurut Mao, Filipina juga telah melanggar UNCLOS dan merusak "integritas serta kewibawaannya".

Ilustrasi Kapal China dan Filipina Alami Tabrakan di Wilayah Sengketa <b>(Istimewa)</b> Ilustrasi Kapal China dan Filipina Alami Tabrakan di Wilayah Sengketa (Istimewa)

Mao kemudian meminta Teodoro "menghentikan provokasi dan pertunjukan" serta tidak mengambil tindakan yang dapat merusak hubungan Tiongkok-Filipina dan stabilitas kawasan Laut China Selatan.

Pada 2016, Pengadilan Arbitrase Permanen yang berkedudukan di Den Haag memutuskan klaim maritim luas Tiongkok di Laut China Selatan tidak memiliki dasar hukum berdasarkan UNCLOS. Sejak putusan tersebut dikeluarkan, Beijing menolak dan tidak mengakuinya.

Perselisihan terbaru antara kedua negara berlangsung ketika ketegangan atas klaim wilayah yang saling tumpang tindih di Laut China Selatan masih terus terjadi. Kawasan tersebut merupakan salah satu jalur perdagangan laut tersibuk di dunia, dengan nilai perdagangan mencapai triliunan dolar AS setiap tahunnya.

x|close