Ntvnews.id, Taheran - Pasukan Garda Revolusi Iran kembali menetapkan wilayah perairan baru sebagai zona terlarang di sekitar Selat Hormuz. Area tersebut tidak hanya berada di sekitar selat, tetapi juga membentang hingga wilayah Laut Arab.
Dilansir dari AFP, Kamis, 10 September 2026, Iran mengumumkan penetapan zona terlarang itu pada awal pekan ini. Kebijakan tersebut diberlakukan ketika Teheran masih melakukan pembicaraan dengan Oman mengenai jalur pelayaran sementara yang melewati Selat Hormuz.
Sejak perang dengan Amerika Serikat (AS) pecah pada 28 Februari, pasukan Iran telah membatasi aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz. Di sisi lain, Washington menerapkan blokade sebagai tindakan balasan terhadap sejumlah pelabuhan Iran.
Juru bicara Garda Revolusi Iran, Hossein Mohebi, menjelaskan cakupan wilayah yang kini ditetapkan sebagai zona terlarang dalam wawancara dengan televisi pemerintah.
Menurutnya, area tersebut meliputi "sebagian Laut Oman dan sebagian Laut Arab, di sepanjang rute yang mengarah ke Selat Hormuz".
Mohebi mengatakan koordinat secara rinci mengenai zona tersebut akan diumumkan pada waktu berikutnya. Ia memperingatkan kapal yang masuk tanpa melakukan koordinasi akan menghadapi tindakan dari pasukan Iran.
"Jika sebuah kapal memasuki wilayah tersebut tanpa koordinasi, kapal itu akan dikenai sanksi oleh kami," ujar Hossein Mohebi.
Ia menjelaskan sanksi tersebut dapat berdampak pada akses kapal terhadap sejumlah layanan apabila nantinya hendak melewati Selat Hormuz.
Baca Juga: Iran Siapkan Zona Terlarang di Dekat Selat Hormuz
"Artinya, sebagai contoh, jika kapal tersebut nantinya ingin datang dan menggunakan Selat Hormuz, atau ingin mendapatkan layanan di suatu tempat-seperti asuransi atau layanan terkait lainnya-kami tidak akan memberikan layanan-layanan tersebut," lanjutnya.
Pemerintah Iran juga meminta setiap kapal memperoleh izin terlebih dahulu sebelum melintasi Selat Hormuz. Teheran menegaskan bahwa sistem navigasi yang memungkinkan kapal melintas secara bebas seperti sebelum perang tidak lagi berlaku.
Pada Selasa, pasukan Iran mengklaim telah menyerang 10 kapal yang berupaya melewati Selat Hormuz tanpa melakukan koordinasi. Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei sebelumnya menyebut Amerika Serikat setiap malam berusaha membantu sekitar lima hingga enam kapal agar dapat melintasi selat tersebut.
Dalam pernyataan pada Rabu, Mohebi juga mengungkapkan syarat yang menurut Iran diperlukan agar konflik dengan Amerika Serikat dapat dihentikan.
Ia mengatakan perang dapat berakhir apabila Washington menghentikan "ancaman-ancaman baru, menarik pasukan rezim Israel dari Lebanon, dan mengakhiri blokade terhadap Yaman".
Selain itu, Mohebi meminta Amerika Serikat membebaskan aset Iran senilai US$24 miliar yang saat ini dibekukan. Ia juga mendesak Washington tidak melakukan intervensi terhadap kemampuan nuklir dan rudal Iran.
Teheran hingga kini tetap menyatakan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sebelum Amerika Serikat memenuhi sejumlah tuntutan yang diajukan pemerintah Iran.
Peta Selat Hormuz dan pesisir Fujairah di Dubai, Uni Emirat Arab. (Antara)