Ntvnews.id, Taheran - Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim berhasil menangkap kapal selam nirawak milik Amerika Serikat (AS) di pintu masuk Selat Hormuz.
Media pemerintah Iran menyebut kapal selam tanpa awak tersebut merupakan Dive-LD, kendaraan bawah laut otonom berukuran besar yang diproduksi oleh perusahaan pertahanan asal California, Anduril.
"Kami telah menjebak salah satu kapal selam tak berawak paling modern, cerdas, dan canggih milik tentara teroris Amerika di pintu masuk Selat Hormuz," demikian pernyataan resmi IRGC, dikutip dari Reuters, Kamis, 10 September 2026.
IRGC kemudian menjelaskan kemampuan kapal selam tersebut.
"Kapal selam ini dilengkapi dengan teknologi terkini."
Dive-LD memiliki panjang sekitar 5,9 meter. Kendaraan bawah laut tersebut dirancang untuk menjalankan berbagai misi, mulai dari penanganan ranjau, pemetaan dasar laut, pengumpulan informasi intelijen, hingga pemeriksaan infrastruktur bawah laut seperti kabel dan jaringan pipa.
Berdasarkan informasi di situs Anduril, Dive-LD mampu beroperasi selama maksimal 10 hari tanpa harus kembali ke pangkalan. Kapal selam nirawak itu juga dirancang untuk menyelam hingga kedalaman 6.000 meter atau sekitar 19.700 kaki.
Baca Juga: Iran Siapkan Zona Terlarang di Dekat Selat Hormuz
Juru bicara Pentagon membenarkan bahwa kendaraan nirawak bawah air milik AS mengalami kerusakan lebih dari sehari sebelum laporan mengenai penangkapannya muncul.
"Pesawat tanpa awak itu sedang melakukan survei perairan regional untuk mendukung operasi yang sedang berlangsung," kata jubir itu.
"Pesawat tanpa awak yang rusak itu adalah model lama yang tidak mengumpulkan data sensitif maupun membawa peralatan sonar atau radar rahasia," imbuh dia.
Markas Besar Pertahanan Amerika Serikat, Pentagon (Antara)
Klaim penangkapan kapal selam nirawak AS tersebut memberikan gambaran mengenai penggunaan kendaraan bawah air tanpa awak dalam operasi militer.
Washington selama ini memang mengembangkan dan menginvestasikan teknologi sistem angkatan laut tanpa awak, termasuk kapal selam serta kapal permukaan. Sistem tersebut digunakan untuk memantau wilayah laut, mengumpulkan informasi intelijen, hingga mendeteksi dan melacak kapal maupun kapal selam lawan.
Penggunaan teknologi nirawak juga ditujukan untuk menekan biaya operasi sekaligus mengurangi risiko yang harus dihadapi personel militer di lapangan.
Klaim penangkapan kapal selam tersebut muncul ketika ketegangan militer antara AS dan Iran meningkat di sekitar Selat Hormuz. IRGC sebelumnya dilaporkan menyerang kapal induk dan kapal perang AS.
Sementara itu, pasukan AS juga telah lebih dahulu menargetkan sejumlah kapal tanker milik Iran sebagai bagian dari eskalasi konflik kedua negara.
Foto yang dirilis pada 21 Juli 2019 ini menunjukkan kapal tanker minyak Inggris Stena Impero dikelilingi oleh perahu cepat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Selat Hormuz, Iran. ANTARA/Xinhua/HO ISNA/Morteza Akhoundi (Antara)