Sebelum Kapal Bergerak, Ada Nyawa yang Harus Dipastikan Selamat

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Sep 2026, 08:55
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
armada PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) armada PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Laut tidak pernah benar-benar sunyi.

Bahkan ketika dari kejauhan permukaannya tampak tenang, selalu ada kehidupan yang bergerak di atasnya. Kapal-kapal datang dan pergi membawa bahan baku, energi, dan hasil produksi. Nelayan mencari penghidupan. Awak kapal berjaga dalam hitungan jam yang panjang. Di pelabuhan, setiap gerakan kapal harus diperhitungkan dengan cermat karena sedikit kesalahan dapat berujung pada risiko besar.

Namun, di balik hiruk-pikuk itu, ada satu hal yang nilainya jauh melampaui angka produksi dan keuntungan: nyawa manusia.

Pada pagi 24 Januari 2026, sekitar pukul 10.30 WIB, sebuah kapal nelayan terbalik di perairan Jawa Satu Power, Cilamaya, Jawa Barat.

Kejadian itu berlangsung ketika salah satu armada PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM), IPCM Abimanyu IV, sedang melakukan manuver untuk pelayanan sandar kapal SC PRIMA CONCORD di Terminal Khusus Jawa Satu Power.

Di tengah aktivitas operasional tersebut, kabar tentang kapal nelayan yang mengalami kecelakaan segera mengubah situasi.

Nakhoda IPCM Abimanyu IV, Capt. Surahman, bersama awak kapal bergerak melakukan tindakan penyelamatan. Di sisi lain, petugas pandu IPCM Capt. Apridiyanto yang telah berada di kapal SC PRIMA CONCORD untuk proses penyandaran terus berkoordinasi.

Operasi yang semula berkaitan dengan pergerakan kapal berubah menjadi misi yang jauh lebih sederhana sekaligus jauh lebih berarti: menyelamatkan manusia.

Sepuluh awak kapal nelayan yang menurut informasi di lapangan berasal dari Muara Angke akhirnya berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.

Baca Juga: Danantara Minta Pengembangan Pelabuhan Teluk Bayur Diselaraskan dengan Pelindo

Tidak ada laporan tentang target produksi. Tidak ada angka pendapatan yang harus dicapai. Tidak ada penghargaan yang menunggu di ujung operasi.

Yang ada hanyalah sepuluh orang yang harus dibawa kembali dengan selamat.

“Keselamatan jiwa merupakan prioritas utama kami. Respons cepat yang dilakukan oleh armada IPCM Abimanyu IV bersama seluruh awak kapal mencerminkan kesiapsiagaan dan komitmen IPCM dalam menjaga keselamatan pelayaran serta memberikan bantuan kemanusiaan di wilayah operasional kami,” ujar General Manager Area V PT Jasa Armada Indonesia Tbk, Dadan Ramdan Agustina.

Peristiwa itu mungkin hanya berlangsung dalam hitungan waktu. Namun bagi sepuluh awak kapal tersebut, pertolongan itu bisa menjadi batas antara pulang ke rumah atau tidak pernah kembali.

Di situlah laut menunjukkan wajahnya yang sesungguhnya.

Laut bukan sekadar tempat kapal berlayar. Laut adalah ruang tempat manusia mempertaruhkan hidup untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia lainnya.

Ketika Keselamatan Menjadi Budaya

armada PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) <b>(Istimewa)</b> armada PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) (Istimewa)

Bagi perusahaan yang bergerak dalam jasa pemanduan dan penundaan kapal, keselamatan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari operasi.

Sepanjang 2025, IPCM mencatat produksi penundaan mencapai 1,85 juta GT jam, tumbuh 6,67 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara produksi pemanduan mencapai 747,99 juta GT, meningkat 70,17 persen. Jumlah gerakan kapal bahkan mencapai 101.544 gerakan, atau tumbuh 165,78 persen.

Di balik angka-angka tersebut, terdapat manusia.

Ada nakhoda yang harus mengambil keputusan dalam situasi sulit. Ada awak kapal yang bekerja ketika sebagian besar orang sedang tidur. Ada petugas pandu yang harus membaca kondisi perairan, karakter kapal, cuaca, hingga lalu lintas kapal sebelum sebuah kapal bergerak.

Karena itu, operasi maritim pada akhirnya bukan hanya persoalan seberapa banyak kapal dapat dilayani.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa banyak perjalanan yang dapat diselesaikan dengan selamat?

Prinsip itu pula yang menjadi bagian dari strategi IPCM memasuki 2026.

“Pertumbuhan produksi penundaan dan pemanduan hingga Desember 2025 mencerminkan konsistensi IPCM dalam menjaga keandalan layanan, keselamatan pelayaran, dan efisiensi operasional. Capaian ini menjadi modal penting bagi kami untuk melangkah lebih progresif di tahun 2026,” ujarnya.

Bagi industri maritim, keandalan tidak selalu terlihat oleh mata publik. Kapal yang berhasil sandar dengan aman sering kali tidak menjadi berita. Kapal yang meninggalkan pelabuhan tepat waktu juga jarang mendapat perhatian.

Padahal, di balik perjalanan yang tampak biasa itulah kerja keras para insan maritim berlangsung setiap hari.

Mereka bekerja agar sesuatu yang besar tetap berjalan tanpa menimbulkan masalah.

Dari Laut yang Didominasi Laki-Laki, Perempuan Mulai Mengambil Kemudi

SDM PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) <b>(Istimewa)</b> SDM PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) (Istimewa)

Jika keselamatan adalah jantung operasi maritim, manusia adalah denyut yang membuatnya terus bekerja.

Karena itu, masa depan kemaritiman tidak hanya berbicara tentang kapal yang lebih besar, teknologi yang lebih canggih, atau pelabuhan yang lebih modern.

Masa depan juga berbicara tentang siapa yang diberi kesempatan untuk berada di dalamnya.

Pada Hari Kartini, 21 April 2026, IPCM meluncurkan program “Srikandi Maritim IPCM”. Untuk pertama kalinya, perusahaan secara aktif merekrut dan memberdayakan awak kapal perempuan pada armada kapal tunda.

Keputusan tersebut mungkin tampak sederhana: membuka kesempatan kerja bagi perempuan.

Tetapi di lingkungan operasional yang selama puluhan tahun lekat dengan laki-laki, langkah itu memiliki makna yang jauh lebih besar.

Perempuan tidak lagi hanya berada di ruang administrasi atau di balik meja kantor. Mereka mulai hadir di lingkungan kerja yang menuntut ketangguhan, kedisiplinan, kompetensi, dan keberanian menghadapi kondisi laut.

“Program Srikandi Maritim IPCM bukan sekadar simbol, tetapi merupakan aksi nyata perusahaan dalam membuka ruang yang setara bagi perempuan untuk berkembang dan berkontribusi di sektor strategis. Kami percaya bahwa keberagaman akan memperkuat kinerja dan daya saing perusahaan,” ujar Direktur Utama IPCM Shanti Puruhita.

Ketua Umum Women In Maritime Association Indonesia (WIMA INA), Chandra Motik, melihat langkah tersebut sebagai bagian dari perubahan wajah industri maritim Indonesia.

“Langkah IPCM ini merupakan contoh nyata bagaimana industri maritim mulai membuka ruang yang lebih luas bagi perempuan. Kehadiran Srikandi Maritim tidak hanya memperkuat kesetaraan gender, tetapi juga membuktikan bahwa perempuan memiliki kompetensi dan ketangguhan untuk berkontribusi langsung di sektor yang selama ini didominasi oleh laki-laki. Kami berharap inisiatif ini dapat menjadi inspirasi bagi pelaku industri lainnya untuk mendorong inklusivitas dan keberagaman di sektor kemaritiman Indonesia,” ujar Chandra Motik.

Di sini, keberlanjutan memperoleh makna yang lebih manusiawi.

Bukan hanya tentang mengurangi emisi.

Bukan sekadar tentang menanam pohon.

Tetapi juga memastikan bahwa siapa pun, termasuk perempuan, memiliki kesempatan untuk ikut menentukan masa depan laut Indonesia.

Menjaga Laut, Menjaga Rumah

Penanaman Mangrove PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) <b>(Istimewa)</b> Penanaman Mangrove PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) (Istimewa)

Pada Desember 2025, IPCM bersama PT Energi Pelabuhan Indonesia menanam 2.000 pohon mangrove di Pantai Bahagia, Kabupaten Bekasi.

Bibit mangrove jenis rhizophora mucronata ditanam sebagai bagian dari upaya mengendalikan abrasi sekaligus menjaga ekosistem pesisir.

Bagi masyarakat pesisir, mangrove bukan sekadar tanaman.

Ia adalah benteng.

Akar-akarnya membantu menahan gelombang. Kawasan mangrove menjadi ruang hidup bagi berbagai biota. Dan bagi masyarakat sekitar, ekosistem pesisir yang sehat berarti harapan agar kehidupan mereka tetap bertahan.

“Menjaga keseimbangan dan kelestarian ekosistem laut menjadi bagian penting dalam mendukung aktivitas bisnis perusahaan, kolaborasi penanaman mangrove ini menjadi sebuah cerminan sinergi positif antar anak usaha Pelindo Group untuk menciptakan dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat pesisir yang sekaligus mendukung target Net Zero Emission dan keberlanjutan bisnis pelabuhan.

Di tempat lain, IPCM juga mengembangkan berbagai langkah untuk menekan dampak lingkungan dari aktivitas operasional. Pemanfaatan Biosolar B40, panel surya pada kapal, shore connection, harbour generator, serta teknologi inverter dan hybrid menjadi bagian dari upaya tersebut.

Pada 2025, tiga motor pandu IPCM telah menggunakan panel surya.

Langkah-langkah tersebut mungkin tidak langsung terlihat oleh masyarakat yang berada jauh dari pelabuhan. Tetapi setiap pengurangan emisi, setiap pohon yang tumbuh, dan setiap inovasi yang membuat penggunaan energi lebih efisien merupakan bagian dari perjalanan panjang menuju laut yang lebih sehat.

Sebab tidak ada masa depan maritim jika lautnya sendiri kehilangan masa depan.

Dari Kapal, Energi Mengalir ke Rumah-Rumah

Peran IPCM juga tidak berhenti pada aktivitas kapal di pelabuhan.

Di balik lampu yang menyala di rumah-rumah Jakarta dan Jawa Barat, terdapat rantai pasok energi yang panjang. Salah satu bagian dari rantai tersebut adalah Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) Jawa Barat yang dioperasikan PT Nusantara Regas.

Infrastruktur itu memasok sekitar 60 persen kebutuhan listrik PLN di Jakarta dan Jawa Barat.

IPCM mendukung operasional tersebut melalui layanan pemanduan dan penundaan kapal LNG di Terminal Khusus PT Nusantara Regas.

Artinya, ketika sebuah kapal LNG dapat dilayani dengan aman dan tepat waktu, dampaknya tidak berhenti di dermaga.

Energi bergerak.

Dari kapal ke terminal. Dari terminal menuju sistem energi. Dari sistem energi menuju rumah, kantor, fasilitas kesehatan, sekolah, dan berbagai aktivitas ekonomi.

Shanti Puruhita menyebut kerja sama yang telah berlangsung sejak 2018 itu sebagai bagian dari komitmen untuk memastikan layanan maritim tetap andal.

”Perpanjangan kerja sama ini merupakan bentuk kepercayaan PT Nusantara Regas terhadap kualitas layanan jasa kapal PT Jasa Armada Indonesia Tbk yang telah berjalan secara konsisten sejak 2018. Kami berkomitmen untuk terus memberikan layanan pemanduan dan penundaan kapal yang andal, mengedepankan keselamatan kerja, dan profesional guna mendukung kegiatan di terminal khusus FSRU PT Nusantara Regas,”

Di titik ini, arti sebuah kapal tunda menjadi lebih luas.

Ia bukan sekadar kapal yang membantu kapal lain bergerak.

Ia menjadi bagian kecil dari sistem besar yang memastikan kehidupan manusia tetap berjalan.

Karena Masa Depan Maritim Dibangun oleh Manusia

Pada 2025, IPCM membukukan pendapatan Rp1,47 triliun dan laba bersih Rp196,44 miliar. Kinerja tersebut menunjukkan pertumbuhan bisnis yang kuat.

Namun angka-angka itu bukanlah keseluruhan cerita.

Ada cerita lain yang jauh lebih sulit dihitung dalam laporan keuangan.

Sepuluh nelayan yang masih bisa kembali memeluk keluarganya.

Perempuan yang mendapatkan kesempatan pertama untuk membuktikan dirinya di atas kapal tunda.

Masyarakat pesisir yang berharap mangrove yang ditanam hari ini kelak menjadi pelindung bagi kampung mereka.

Baca Juga: Transformasi BUMN Berbuah Hasil, Pelindo Bukukan Laba Rp2 Triliun

Dan jutaan orang yang mungkin tidak pernah tahu bahwa di balik listrik yang menyala di rumah mereka, ada kapal-kapal yang harus dilayani dengan aman di laut.

Itulah wajah maritim Indonesia yang sering luput dari perhatian.

Kemajuan maritim tidak hanya lahir dari kapal-kapal besar, terminal modern, teknologi digital, atau pertumbuhan produksi.

Ia tumbuh dari keputusan seorang nakhoda untuk bergerak menolong kapal nelayan.

Dari keberanian seorang perempuan untuk masuk ke ruang kerja yang selama ini dianggap milik laki-laki.

Dari tangan yang menanam bibit mangrove di lumpur pesisir.

Dari awak kapal yang tetap berjaga ketika sebagian besar negeri sedang terlelap.

Dan dari keyakinan bahwa setiap operasi memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar angka.

Pada akhirnya, laut Indonesia bukan hanya tentang kapal yang datang dan pergi.

Laut adalah tentang manusia yang menggantungkan hidup kepadanya. Karena itu, menjaga laut berarti menjaga perjalanan manusia di dalamnya. Dan memastikan perjalanan itu selamat berarti ikut menjaga masa depan Indonesia.

 

x|close