Thailand Tegaskan Tidak Ada Wabah COVID-19 dengan Gejala Berat

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 11 Sep 2026, 11:30
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
ilustrasi - Dokter memegang botol ampul kaca yang mengandung sel molekul virus corona. ilustrasi - Dokter memegang botol ampul kaca yang mengandung sel molekul virus corona. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Kesehatan Thailand membantah kabar mengenai adanya wabah COVID-19 dengan karakteristik tidak biasa dan gejala berat yang disebut-sebut tengah terjadi di negara tersebut.

Kabar tersebut beredar di media sosial Thailand sejak akhir Agustus. Pada Kamis, 10 September 2026, sejumlah media Rusia juga memberitakan dugaan wabah COVID-19 yang dialami warga Rusia di Phuket, salah satu destinasi wisata Thailand. Penyakit tersebut disebut menimbulkan demam tinggi, sakit kepala berat, serta nyeri pada tubuh.

Kementerian Kesehatan Thailand menjelaskan bahwa data kasus COVID-19 hingga akhir Agustus 2026 tidak menunjukkan adanya lonjakan yang mengarah pada wabah dengan karakteristik seperti yang diberitakan.

"Data periode 1 Januari-31 Agustus 2026 menunjukkan 99.691 kasus infeksi COVID-19 di Thailand dengan 15 kasus kematian, yang setara dengan 0,02 persen dari total kasus. Sebagai perbandingan, jumlah total kasus tahunan dalam 2–3 tahun sebelumnya berkisar antara 600.000- 700.000 kasus," demikian menurut pernyataan kementerian.

Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan Thailand, pada 2025 terdapat 614.601 kasus COVID-19 dengan 274 kematian atau 0,04 persen. Sementara itu, sepanjang 2024 tercatat 777.730 kasus dan 219 kematian atau 0,03 persen. Pada 2023, Thailand mencatat 618.793 kasus dengan 852 kematian atau 0,14 persen.

Baca Juga: Ahli Sebut COVID-19 Kini Tak Lagi Jadi Ancaman Serius

Kementerian juga menyebut varian Omicron NB.1.8.1 masih menjadi varian yang paling dominan di Thailand pada September 2026. Varian tersebut diketahui juga mendominasi kasus COVID-19 di negara itu sepanjang 2025.

"Varian COVID ini tidak disertai gejala parah seperti edema paru akut dan, pada sebagian besar kasus, tidak mengharuskan pasien terpasang ventilator, katanya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, jumlah kasus COVID meningkat selama musim hujan, saat jumlah kasus semua jenis infeksi saluran pernapasan juga meningkat.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Thailand, Jurai Wongsawat, mengatakan angka kasus COVID-19 yang tercatat saat ini masih lebih rendah jika dibandingkan dengan jumlah kasus pada 2023, 2024, dan 2025.

Ia menjelaskan peningkatan kasus COVID-19 saat ini masih berkaitan dengan pola musiman, mengingat awal musim hujan biasanya diikuti kenaikan berbagai jenis infeksi saluran pernapasan.

Baca Juga: Direktur Intelijen AS Ungkap Dokumen Baru soal Covid-19, Apa Itu?

Secara keseluruhan, meski insidensi COVID-19 sedang meningkat, mengingat biasanya awal musim hujan memicu lonjakan infeksi saluran pernapasan, "jumlah saat ini masih lebih rendah dibandingkan dengan data dua atau tiga tahun lalu," kata Jurai.

(Sumber: Antara)

x|close