Ntvnews.id, Washington D.C - Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat, Tulsi Gabbard, mengungkap adanya keterkaitan antara Wuhan Institute of Virology yang menerima pendanaan dari AS dengan mantan pejabat kesehatan Amerika, Anthony Fauci, dalam polemik mengenai asal-usul pandemi Covid-19.
Pernyataan tersebut disampaikan Gabbard setelah kantornya merilis sejumlah dokumen yang baru dideklasifikasi terkait penyelidikan asal-usul Covid-19 pada Kamis, 18 Juni 2026. Ia menilai terdapat upaya penyembunyian informasi yang berlangsung selama bertahun-tahun terkait kemunculan wabah tersebut.
"Setelah bertahun-tahun berbohong, sensor, dan menutup-nutupi, rakyat Amerika layak mendapatkan transparansi, kebenaran, dan akuntabilitas," kata Gabbard dalam sebuah pernyataan dikutip dari AA, Senin, 22 Juni 2026.
Kantor Direktur Intelijen Nasional AS (ODNI) menjelaskan bahwa dokumen yang dipublikasikan mencakup komunikasi internal, laporan dari whistleblower, serta berbagai materi intelijen yang berkaitan dengan investigasi asal-usul pandemi Covid-19.
Dalam kesempatan yang sama, Gabbard juga menuding Fauci memberikan keterangan yang tidak sesuai saat bersaksi di hadapan Kongres pada 2024.
Menurut ODNI, ketika masih menjabat sebagai Direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases, Fauci terlibat dalam berbagai pembahasan intelijen mengenai asal-usul virus penyebab Covid-19.
ODNI juga menyebut Fauci menjalin komunikasi dengan pejabat intelijen pada sejumlah fase penting dalam proses peninjauan asal-usul pandemi. Selain itu, ia disebut mengawasi pendanaan yang mendukung penelitian virus corona yang melibatkan virus kelelawar di Institut Virologi Wuhan.
Baca Juga: Infografik: Waspada Penyebaran Varian COVID Cicada
Gabbard menambahkan bahwa beberapa komunikasi yang tercantum dalam dokumen tersebut dinilai tidak sejalan dengan kesaksian Fauci di Kongres pada 2024.
Meski demikian, Fauci selama ini berulang kali membantah tuduhan bahwa dirinya menyesatkan anggota parlemen atau berupaya menutupi fakta terkait asal-usul Covid-19. Dalam sidang Kongres pada Juni 2024, ia menyebut berbagai tudingan tersebut tidak berdasar.
Fauci juga menegaskan bahwa baik teori penularan alami maupun kebocoran laboratorium masih merupakan kemungkinan yang masuk akal dalam menjelaskan kemunculan virus. Namun, menurutnya, bukti yang tersedia lebih mengarah pada penularan alami meskipun belum memberikan kepastian mutlak.
Hingga saat ini, badan-badan intelijen Amerika Serikat belum mencapai kesimpulan definitif mengenai apakah virus Covid-19 berasal dari laboratorium atau muncul melalui proses penularan alami. Dokumen yang baru dirilis tersebut juga belum mendapatkan verifikasi independen.
Ilustrasi- Vaksin COVID-19. ANTARA/M Riezko Bima Elko P (Antara)
Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona SARS-CoV-2 pertama kali terdeteksi di Wuhan, Tiongkok, pada akhir 2019. Organisasi Kesehatan Dunia, World Health Organization, kemudian menetapkan wabah tersebut sebagai pandemi global pada Maret 2020.
Pandemi Covid-19 menyebabkan jutaan kematian di berbagai negara dan memicu dampak besar terhadap sektor kesehatan, ekonomi, serta kehidupan sosial masyarakat dunia.
Hingga kini, asal-usul virus masih menjadi subjek penyelidikan dan perdebatan. Berbagai lembaga ilmiah maupun intelijen terus menelaah kemungkinan asal alami maupun skenario yang melibatkan laboratorium, namun belum ada bukti yang mampu menghasilkan kesimpulan yang benar-benar pasti.
Ilustrasi - Virus Nipah, ancaman baru setelah pandemi COVID-19. ANTARA/Shutterstock/aa. (Antara)