Deretan Faktor yang Buat Israel Tolak Kesepakatan Damai AS-Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 18 Jun 2026, 14:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. ANTARA/Xinhua/Media Resmi Pemerintah Israel/am. Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. ANTARA/Xinhua/Media Resmi Pemerintah Israel/am. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan merasa frustrasi terhadap sikap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang dinilai terus menghambat upaya Washington dan Teheran untuk mencapai kesepakatan damai.

Sejak gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran mulai berlaku pada awal April lalu, Israel disebut konsisten menunjukkan penolakan terhadap berbagai inisiatif perdamaian. Penolakan itu termasuk terhadap rencana penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara AS dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026.

Sikap tersebut tercermin dari pernyataan Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir yang menegaskan bahwa kesepakatan yang dicapai Washington dan Teheran tidak mengikat negaranya.

"kesepakatan Trump tidak mengikat kami" dan bahwa Israel tidak boleh berkompromi pada "apa pun yang kurang dari pelucutan Hizbullah" atau mundur dari "wilayah apa pun yang telah direbut dan dibersihkan dari infrastruktur teror oleh pasukan kami," seperti dilaporkan DW.

Baca Juga: Trump dan Presiden Iran Resmi Teken Perjanjian Damai, Babak Baru Hubungan AS-Iran Dimulai

Berdasarkan berbagai laporan dan analisis, terdapat sejumlah alasan yang melatarbelakangi keberatan Israel terhadap proses perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.

1. Iran Dipandang Sebagai Ancaman Strategis

Israel selama bertahun-tahun memandang Iran sebagai ancaman utama terhadap keamanan nasionalnya. Pemerintah Israel berulang kali menuduh Teheran mengembangkan kemampuan nuklir yang berpotensi membahayakan kawasan.

Kekhawatiran tersebut menjadi salah satu alasan di balik serangan Israel terhadap Iran pada Juni 2025 yang kemudian mendapat dukungan Amerika Serikat pada Februari 2026.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan menegaskan negaranya tidak akan menghentikan tekanan terhadap Iran.

"Kami memiliki rencana sistematis untuk memberantas rezim Iran dan mencapai banyak tujuan lainnya," kata Netanyahu dalam pidato yang disiarkan televisi, dikutip dari LeMonde.

Ilustrasi Amerika Serikat dan Iran. <b>(Anadolu)</b> Ilustrasi Amerika Serikat dan Iran. (Anadolu)

Sejumlah media internasional juga mencatat bahwa Israel melihat Republik Islam Iran sebagai musuh utama yang dianggap mengancam eksistensi negara tersebut. Netanyahu sendiri kerap menyamakan ancaman yang ditimbulkan Teheran dengan ancaman global yang pernah ditimbulkan Nazi Jerman.

2. Kekhawatiran terhadap Kelompok Sekutu Iran

Selain Iran, Israel juga memandang kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Teheran sebagai ancaman serius. Di antaranya adalah Hizbullah di Lebanon dan kelompok Houthi di Yaman.

Kekhawatiran tersebut menjadi salah satu alasan operasi militer Israel di Lebanon selatan yang bertujuan melemahkan kekuatan Hizbullah. Kelompok tersebut dinilai memiliki persenjataan yang besar dan jaringan militer yang kuat di kawasan perbatasan.

Menurut informasi intelijen Israel, roket-roket yang dimiliki Hizbullah mampu menjangkau sebagian besar wilayah negara itu.

Kepala Staf Umum militer Israel Eyal Zamir juga menegaskan bahwa operasi militer akan terus berlanjut selama ancaman dari Hizbullah masih ada.

3. Merasa Tidak Terikat dengan Kesepakatan AS-Iran

Faktor lain yang mendorong penolakan Israel adalah anggapan bahwa mereka bukan bagian dari proses perundingan antara Washington dan Teheran sehingga tidak memiliki kewajiban untuk mematuhi hasil kesepakatan tersebut.

Sejumlah pejabat Israel menilai perjanjian damai yang disusun kedua negara tidak dapat mengikat kebijakan keamanan nasional Israel.

Netanyahu bahkan menegaskan bahwa pasukan Israel akan tetap ditempatkan di sejumlah wilayah strategis, termasuk Lebanon, Jalur Gaza, dan Suriah.

Baca Juga: Kesepakatan Damai AS-Iran Disebut Buat Cuan Taheran

"Israel tidak akan membiarkan organisasi teroris menancapkan diri di perbatasan kami, menggali terowongan teror ke wilayah kami, atau mempersiapkan pembantaian di dekat warga negara kami," ujarnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah Israel tetap memprioritaskan pendekatan keamanan meskipun proses perdamaian antara AS dan Iran terus berjalan.

4. Dinilai Berkaitan dengan Kepentingan Politik Netanyahu

Selain faktor keamanan, sejumlah analis menilai situasi konflik juga memberikan keuntungan politik bagi Netanyahu yang hingga kini masih menghadapi proses hukum terkait dugaan korupsi.

Perdana Menteri Israel tersebut masih menjalani persidangan atas tuduhan suap, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan yang telah bergulir sejak 2019. Proses hukum itu terus berlanjut hingga 2026, meskipun beberapa kali mengalami penundaan.

Dalam kondisi perang dan keadaan darurat, perhatian publik Israel lebih banyak tertuju pada isu keamanan nasional. Situasi tersebut dinilai turut mengurangi tekanan politik terhadap Netanyahu.

Sejumlah pengamat menilai kebijakan keras Israel terhadap Iran tidak hanya didorong oleh pertimbangan keamanan, tetapi juga berkaitan dengan dinamika politik domestik yang sedang dihadapi pemerintahan Netanyahu.

Karena itu, banyak analis melihat sikap Israel terhadap Iran sebagai perpaduan antara kepentingan menjaga keamanan nasional dan kepentingan politik dalam negeri. Dengan latar belakang tersebut, penolakan Israel terhadap kesepakatan damai AS-Iran diperkirakan masih akan menjadi tantangan dalam upaya mewujudkan stabilitas kawasan Timur Tengah.

x|close