Ntvnews.id,Washington D.C - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan kritik terbuka terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait serangan udara Israel di Beirut, Lebanon. Trump menilai serangan tersebut terlalu berlebihan dan meminta pemerintah Israel lebih bertanggung jawab dalam menangani situasi di negara tetangganya itu.
Dilansir dari AFP, Rabu, 17 Juni 2026, Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Prancis, Selasa, 16 Juni 2026, menyusul serangan Israel ke sebuah gedung di wilayah pinggiran selatan Beirut pada 14 Juni lalu. Serangan itu dilaporkan menewaskan sedikitnya tiga orang, termasuk seorang komandan senior Hizbullah, serta menyebabkan lebih dari belasan orang lainnya terluka.
Insiden tersebut terjadi hanya beberapa jam sebelum Washington dan Teheran dijadwalkan mengumumkan kerangka kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Iran yang rencananya akan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat mendatang.
Saat ditanya wartawan mengenai hubungannya dengan Netanyahu, Trump mengaku tidak frustrasi terhadap pemimpin Israel tersebut, namun secara tegas menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap serangan yang dilakukan.
"Saya tidak suka dia melakukan serangan (atas) hal kecil yang sangat sepele dengan beberapa drone. Saya melihat serangan itu, saya melihat ke mana bom itu jatuh. Itu kejam itu terlalu berlebihan," kata Trump.
Trump juga menambahkan, "Sekarang Bibi harus lebih bertanggung jawab terhadap Lebanon.”
Selain mengkritik serangan terbaru itu, Trump menilai konflik Israel dengan Hizbullah telah berlangsung terlalu lama dan menimbulkan terlalu banyak korban jiwa.
Baca Juga: BEM Bersatu Tegaskan Tolak Intervensi Politik Praktis dalam Gerakan Mahasiswa
"Anda tidak perlu merobohkan gedung apartemen setiap kali Anda mencari seseorang, karena ada banyak orang di gedung-gedung apartemen itu, dan mereka tidak semuanya anggota Hizbullah," kata Trump.
Dalam kesempatan yang sama, Trump menegaskan dukungan Amerika Serikat terhadap Israel, sembari mengklaim perannya sangat penting bagi keberlangsungan negara tersebut.
"Tanpa Amerika Serikat, tidak akan ada Israel. Tanpa saya, tidak akan ada Israel, karena tidak ada presiden lain yang bersedia melakukan apa yang saya lakukan," kata Trump.
Hingga kini, pemerintah Israel belum menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan operasi militernya di Lebanon. Menteri Urusan Militer Israel bahkan menegaskan bahwa negaranya menolak menarik pasukan dari wilayah Lebanon selatan.
Sementara itu, Netanyahu belum memberikan tanggapan terbuka atas kritik yang dilontarkan Trump maupun terkait kesepakatan damai yang tengah dijajaki antara AS dan Iran.
Trump Usulkan Suriah Tangani Hizbullah
Arsip foto - Bendera nasional Lebanon (kanan) dan bendera Hizbullah. Furkan Güldemir. ANTARA/Anadolu Agency/pri. (Istimewa)
Dalam pertemuan bilateral dengan Emir Qatar, Trump juga mengemukakan gagasan agar Suriah mengambil peran lebih besar dalam menghadapi Hizbullah apabila Israel tidak mampu melakukannya tanpa menimbulkan banyak korban sipil.
"Jika Israel tidak dapat melakukan pekerjaan itu tanpa membunuh semua orang lain, mereka akan melakukannya. Suriah akan melakukannya," kata Trump.
Ia bahkan menyarankan Israel menyerahkan penanganan Hizbullah kepada pemerintah Suriah.
"Saya menyarankan kepada Israel untuk membiarkan Suriah mengurus Hizbullah, karena jujur saja, saya pikir mereka akan melakukan pekerjaan yang lebih baik," kata Trump.
Trump juga memberikan pujian kepada Abu Mohammad al-Jolani, pemimpin kelompok HTS yang mengambil alih Damaskus pada Desember 2024. Menurutnya, al-Jolani telah menunjukkan kemampuan kepemimpinan yang baik dalam menyatukan Suriah.
"Dia sangat baik dengan Hizbullah, tidak menyukai mereka," kata Trump.
Baca Juga: Menag Ajak Jadikan Tahun Baru Hijriah Sebagai Momentum Perubahan Diri dan Masyarakat
Sebelumnya, Trump dan al-Jolani diketahui pernah bertemu di Riyadh pada Mei 2025. Beberapa bulan setelahnya, Washington mencabut status al-Jolani sebagai Teroris Global yang Ditunjuk Secara Khusus, membuka jalan bagi hubungan yang lebih terbuka dengan pemerintah Suriah yang baru.
Meski demikian, pemerintahan Suriah yang dipimpin HTS telah menegaskan tidak memiliki rencana melakukan intervensi militer di Lebanon. Otoritas Suriah menyatakan lebih mendukung penguatan institusi negara Lebanon dibandingkan keterlibatan militer langsung dalam konflik tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. ANTARA/Xinhua/Media Resmi Pemerintah Israel/am. (Antara)