Ntvnews.id, Washington D.C - Teks kesepakatan damai atau Memorandum of Understanding (MoU) yang telah disepakati antara Amerika Serikat (AS) dan Iran hingga kini belum diumumkan kepada publik. Wakil Presiden AS, JD Vance, menjelaskan bahwa dokumen tersebut masih berkaitan dengan pengaturan teknis mengenai program nuklir Iran yang belum sepenuhnya dirampungkan.
Dikutip dari Al Jazeera, Rabu, 17 Juni 2026, Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa kesepakatan damai antara Washington dan Teheran telah ditandatangani. Namun hingga kini isi lengkap perjanjian tersebut masih belum dipublikasikan.
Dalam wawancara dengan NBC News, Vance mengungkapkan bahwa salah satu poin utama dalam kesepakatan itu adalah kembalinya pengawas nuklir internasional ke Iran. Menurutnya, aspek tersebut menjadi bagian penting yang masih memerlukan pengaturan lebih lanjut sebelum dokumen dapat dibuka kepada publik.
"Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan Amerika Serikat akan membantu Iran menghancurkan persediaan uranium yang sangat diperkaya, dan itu adalah sesuatu yang dijelaskan dengan sangat jelas, dalam MoU," katanya.
Vance juga menyebut bahwa jadwal pelaksanaan inspeksi fasilitas nuklir Iran kemungkinan akan mulai dirumuskan pada Jumat mendatang.
"(Karena) ada kesepakatan luas tentang hal ini, tidak banyak perbedaan pendapat tentang masalah khusus ini; itu seharusnya terjadi dengan sangat cepat," tambah wakil presiden.
Baca Juga: Pemerintah Rilis BBM Jenis Baru pada 1 Juli 2026
Meski demikian, sejumlah pejabat Iran sebelumnya menyampaikan bahwa pembahasan terkait isu nuklir akan dilakukan setelah penandatanganan kesepakatan awal. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran juga menegaskan bahwa proses negosiasi menuju perjanjian final baru akan dilanjutkan setelah pihak lain memenuhi komitmen yang tercantum dalam kesepakatan pendahuluan tersebut.
Kesepakatan damai AS-Iran pertama kali diumumkan oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, pada Senin, 15 Juni 2026, Ia menyatakan bahwa Washington dan Teheran telah menyepakati penghentian pertempuran secara "segera dan permanen" di seluruh front konflik, termasuk di Lebanon.
Pengumuman tersebut menjadi langkah penting dalam upaya meredakan ketegangan yang selama berbulan-bulan melibatkan kedua negara dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah serta keamanan jalur energi global.
Arsip - Wakil Presiden AS JD Vance. (ANTARA/Anadolu/py) (Antara)