G7 Sepakat Perketat Sanksi Rusia dan Tingkatkan Dukungan Militer untuk Ukraina

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 18 Jun 2026, 07:55
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi negara G7. /ANTARA/Anadolu/py. Ilustrasi negara G7. /ANTARA/Anadolu/py. (Antara)

Ntvnews.id, Paris - Para pemimpin negara-negara anggota G7 berkomitmen meningkatkan tekanan terhadap Rusia, baik melalui dukungan militer yang lebih besar kepada Ukraina maupun dengan memperketat sanksi ekonomi terhadap Moskow.

Dalam pernyataan resmi yang diterbitkan pada Rabu, 17 Juni 2026, G7 menegaskan kesepakatan untuk memperkuat kemampuan pertahanan Ukraina.

"Untuk mendukung dan mempercepat momentum baru ini, kami sepakat meningkatkan pengiriman kemampuan pertahanan udara, sistem tambahan dan pencegat, serta kemampuan jarak jauh," bunyi pernyataan tersebut.

Selain bantuan militer, para pemimpin G7 juga menyatakan tekad untuk memperbesar "tekanan terhadap ekonomi perang Rusia." Langkah itu akan diwujudkan melalui pengetatan berbagai sanksi, termasuk yang menyasar sektor energi seperti minyak dan gas.

"Kami menilai ini momen yang tepat untuk mengambil langkah tambahan, setelah Presiden AS Donald Trump mencapai kesepakatan yang kami dukung untuk membuka kembali Selat Hormuz," lanjut pernyataan itu.

Sikap optimistis tersebut sebenarnya sudah terlihat sejak Selasa, 16 Juni 2026, ketika para pemimpin G7 memulai agenda resmi dengan menempatkan konflik Ukraina sebagai fokus utama pembahasan.

Baca Juga: Prancis Kerahkan 8.000 Polisi untuk Amankan KTT G7

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang menjadi tuan rumah pertemuan tahun ini, menegaskan pentingnya isu Ukraina dengan mengundang Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, sebagai tamu khusus.

Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintahan Presiden AS, Donald Trump, lebih banyak memusatkan perhatian pada konflik dengan Iran. Dukungan terhadap Ukraina sebelumnya juga dinilai lebih banyak diserahkan kepada negara-negara Eropa, dengan Uni Eropa mengambil peran yang semakin besar.

Saat ini, Uni Eropa tercatat sebagai pemberi bantuan keuangan terbesar bagi Ukraina.

Trump Beri Sinyal Baru soal Rusia

Pada Selasa, 15 Juni 2026 Trump menyampaikan bahwa sanksi terhadap Rusia yang sempat dilonggarkan demi menjaga stabilitas harga minyak selama konflik Iran dapat kembali diberlakukan seiring normalnya distribusi energi melalui Selat Hormuz.

Ia juga menegaskan bahwa Moskow perlu segera mencapai kesepakatan guna mengakhiri perang yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

"Rusia harus membuat kesepakatan," tegas Trump.

Trump juga menyatakan kesediaannya untuk melakukan berbagai upaya demi mendorong berakhirnya konflik tersebut.

Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump. /ANTARA/Anadolu/pri. <b>(Antara)</b> Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump. /ANTARA/Anadolu/pri. (Antara)

Pernyataan tersebut mendapat respons positif dari para pemimpin Eropa yang selama ini terus menyusun strategi dukungan bagi Ukraina.

Meski demikian, masih terdapat sejumlah pertanyaan terkait sejauh mana Washington akan mendukung langkah peningkatan tekanan terhadap Rusia agar bersedia terlibat dalam negosiasi damai yang serius. Selain itu, muncul pula pertanyaan mengenai seberapa besar pengakuan AS terhadap peran negara-negara Eropa dalam proses perdamaian.

Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menyampaikan pandangannya bahwa perang Rusia-Ukraina tidak memberikan dampak langsung terhadap Amerika Serikat.

"Tidak berdampak pada kami, selain kami menjual senjata ke Ukraina," kata Trump. "Kami berada ribuan kilometer jauhnya."

Ia menambahkan bahwa konflik dengan Iran diperkirakan akan segera mereda meskipun saat ini masih menjadi perhatian utama pemerintahannya.

Eropa Melihat Momentum Baru

Di tengah perkembangan tersebut, para pemimpin Eropa menilai kondisi di medan perang mulai menunjukkan perubahan yang menguntungkan Ukraina.

Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menyatakan bahwa posisi Ukraina saat ini lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

"Situasi pada 2026 sangat berbanding terbalik dengan 2025. Ukraina bertahan dengan berani di garis depan, sementara Rusia mulai terlihat kelelahan," ujarnya.

Pandangan serupa juga disampaikan sumber pemerintah Jerman yang menilai tekanan terhadap Rusia semakin besar, sementara posisi Ukraina terus menguat.

Baca Juga: G7 Bahas Pelepasan Cadangan Minyak Strategis di Tengah Lonjakan Harga Energi

Salah satu faktor yang dianggap berpengaruh adalah peningkatan kemampuan perang drone Ukraina, termasuk serangan jarak jauh yang menargetkan fasilitas militer Rusia di St. Petersburg pada awal bulan ini.

Sementara itu, Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menilai Trump menunjukkan sikap kooperatif selama pertemuan. Ia optimistis Eropa dan Amerika Serikat akan terus bekerja sama untuk mengupayakan berakhirnya perang.

Merz juga menyebut Trump tidak mempermasalahkan keterlibatan negara-negara Eropa dalam proses perundingan damai yang akan datang.

Di sisi lain, pertempuran masih terus berlangsung. Rusia dilaporkan tetap melancarkan serangan ke berbagai wilayah Ukraina menggunakan ratusan drone dan puluhan rudal. Serangan terbaru pada Senin, 15 Juni 2026, bahkan mengakibatkan kerusakan pada salah satu situs penting keagamaan dan budaya di negara tersebut.

x|close