Ntvnews.id, Taheran - Kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan mencakup komitmen pendanaan swasta senilai US$ 300 miliar atau lebih dari Rp 5.000 triliun yang ditujukan untuk mendorong investasi ke Iran. Dari jumlah tersebut, lebih dari setengahnya disebut telah memperoleh komitmen pendanaan.
Dilansir dari Al Arabiya, Kamis, 18 Juni 2026, informasi itu diungkapkan seorang sumber yang mengetahui langsung isi kesepakatan AS-Iran kepada Reuters. Sumber tersebut berbicara tanpa menyebut identitasnya karena rincian rencana itu belum diumumkan secara resmi. Penandatanganan kesepakatan dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026
Meski kabar mengenai pendanaan swasta untuk Iran pernah mencuat sebelumnya, Reuters melaporkan untuk pertama kalinya bahwa lebih dari separuh dana tersebut telah dikomitmenkan. Seluruh pendanaan itu juga disebut berasal dari sektor swasta tanpa melibatkan dana pemerintah.
Sebelumnya, para pejabat AS dan Iran pada Minggu, 14 Juni 2026, mengumumkan bahwa kedua negara telah menyepakati kerangka kerja untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak akhir Februari lalu.
Menurut sumber yang dikutip Reuters, dana tersebut merupakan instrumen investasi swasta dan bukan bagian dari program kompensasi perang maupun rekonstruksi yang dibiayai pemerintah. Skema itu juga tidak mencakup hibah ataupun bantuan negara.
Baca Juga: AS Siapkan Dana Rp5 Kuadriliun untuk Iran Jika Sepakat Berdamai
Perusahaan-perusahaan yang berbasis di AS, kawasan Teluk Arab, Asia, Amerika Selatan, dan Afrika disebut telah menyatakan komitmen untuk berpartisipasi dalam pendanaan tersebut. Investasi yang direncanakan akan diarahkan ke berbagai sektor strategis, seperti energi, logistik, manufaktur, dan transportasi.
Sementara itu, seorang sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran pada awalnya meminta kompensasi perang sebesar US$ 400 miliar dari Washington. Namun, pemerintah AS menolak memberikan pembayaran kompensasi secara langsung.
Sebagai alternatif, muncul gagasan pembentukan skema pendanaan swasta yang akan diberi nama "Dana Rekonstruksi dan Pembangunan".
Skema tersebut dirancang untuk menyalurkan kontribusi melalui berbagai mekanisme, mulai dari jaminan pinjaman, pembukaan jalur kredit, hingga pembiayaan langsung bagi proyek-proyek pemulihan fasilitas yang terdampak perang. Beberapa aset yang masuk dalam cakupan pendanaan antara lain kompleks Baja Mobarakeh, kilang minyak, bandara, serta berbagai infrastruktur lain yang mengalami kerusakan akibat konflik.
Ilustrasi Amerika Serikat dan Iran. (Anadolu)
Sumber Reuters juga menjelaskan bahwa program investasi ini berdiri terpisah dari pembahasan lain terkait pencabutan sanksi AS terhadap Iran maupun upaya pencairan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri.
Dana investasi tersebut belum akan dibentuk ataupun dioperasikan hingga tercapainya kesepakatan final antara kedua negara. Nota kesepahaman (MoU) yang akan ditandatangani nantinya menjadi dasar pengaturan proses selama 60 hari setelah penandatanganan.
"Dana itu hanya akan dibentuk setelah kesepakatan akhir ditandatangani. Selama 60 hari ini, administrator pendanaan akan bekerja sama dengan warga Iran dan para investor untuk merencanakan dan menentukan ruang lingkup proyek," sebut sumber tersebut.
Apabila terealisasi, skema investasi senilai US$ 300 miliar itu akan menjadi salah satu komitmen pendanaan swasta terbesar yang pernah diarahkan untuk mendukung pemulihan ekonomi dan pembangunan kembali Iran pascakonflik.
Ilustrasi Amerika Serikat dan Iran. /ANTARA/Anadolu/py. (Antara)