Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.300 per Dolar AS Pada Minggu Ini

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Agu 2026, 09:38
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww) Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada di bawah tekanan pada pekan ini dan berpotensi melemah hingga menyentuh level Rp18.300 per dolar Amerika Serikat (AS). 

Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan rupiah masih berisiko mengalami pelemahan dalam beberapa hari ke depan.

"Rupiah kemungkinan besar akan melemah, bisa saja mendekati level di Rp18.250 sampai Rp18.300an," ucap Ibharim dalam kajiannya, Senin 3 Agustus 2026.

Ibrahim menyebut salah satu faktor yang akan menjadi perhatian pelaku pasar adalah rilis data neraca perdagangan Indonesia. 

Baca juga: Jelang Akhir Pekan, Rupiah Menguat ke Rp18.074 per Dolar AS

Ia memperkirakan neraca perdagangan pada Juni 2026 berpotensi mencatat defisit yang dapat memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.

"Pasar akan melihat tentang banyaknya data yang akan dirilis di Indonesia terutama adalah neraca perdagangan yang kemungkinan besar neraca perdagangan di bulan Juni ini akan terjadi defisit. Ya ini pun juga akan mempengaruhi terhadap rupiah," ungkap Ibrahim.

kemudian data inflasi juga akan menjadi perhatian, ia memperkirakan laju inflasi akan melandai karena harga-harga relatif turun berkat intervensi pemerintah di pasar.

"Inflasi pun juga kemungkinan besar ini akan melandai ya karena harga-harga relatif lebih turun karena adanya intervensi pasar, bisa saja di bawah 3,34 persen," jelasnya. 

Dari sektor manufaktur, Ibrahim memperkirakan indeks Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia masih berada di zona kontraksi atau di bawah level 50, kondisi tersebut dinilai belum mencerminkan pemulihan sektor industri.

"Data PMI Manufaktur ya Indonesia yang kemungkinan besar masih akan terkontraksi di bawah 50. Walaupun kemungkinan besar di bulan Juli di atas 46,9 tapi masih terkontraksi. Dan ini mengindikasikan bahwa tenaga kerja ya ini menurun drastis, PHK di mana-mana," ujarnya.

Baca juga: Rupiah Hari Ini Tertekan, Diproyeksi Bergerak di Kisaran Rp18.000-Rp18.100

Ibrahim juga memperkirakan cadangan devisa Indonesia akan mengalami penurunan dibandingkan posisi Juni 2026 yang tercatat sebesar 145,6 miliar dolar AS.

"Cadangan devisa pun juga kemungkinan besar cadangan devisa ini akan mengalami penurunan dibandingkan di bulan Juni. Di bulan Juni kita lihat di 145,6 miliar dolar AS, kemungkinan besar akan mengalami penurunan dan cadangan devisa ini hanya bisa digunakan untuk 4,9 bulan," beber Ibrahim.

"Artinya bahwa 4,9 bulan itu tidak sesuai dengan pemeringkat internasional yang dikatakan bahwa negara yang mempunyai rating hutang di BBB harus di 5 bulan untuk cadangan devisanya," lanjutnya.

Selain itu, Ibrahim memperkirakan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) kembali melemah pada Juli 2026. Ia memperkirakan IKK turun menjadi sekitar 116,6 dari posisi Juni sebesar 117,8 melanjutkan tren penurunan yang telah berlangsung sejak awal tahun.

"Ini mengindikasikan bahwa data yang akan dirilis oleh BPS maupun Bank Indonesia yang minggu depan ini akan berpengaruh terhadap pergerakan mata uang rupiah," tandasnya.

HIGHLIGHT

x|close