Pemerintah Buka Peluang Turunkan Harga Pertamax Usai Kesepakatan Damai AS-Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 19 Jun 2026, 06:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Antrean kendaraan roda dua yang ingin mendapatkan baham bakar minyak (BBM) bersubsidi, Pertalite, di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kawasan Jakarta Barat terkait kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax, Rabu (10/6/2026). ANTARA/Ri Antrean kendaraan roda dua yang ingin mendapatkan baham bakar minyak (BBM) bersubsidi, Pertalite, di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kawasan Jakarta Barat terkait kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax, Rabu (10/6/2026). ANTARA/Ri (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah membuka kemungkinan untuk menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax, menyusul tercapainya kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, realisasi kebijakan tersebut masih akan bergantung pada pelaksanaan kesepakatan dan dampaknya terhadap pergerakan harga minyak dunia dalam beberapa waktu ke depan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan perkembangan harga energi global pascakesepakatan damai belum dapat secara langsung dijadikan dasar untuk menyesuaikan harga BBM di Indonesia.

“Ya barangnya sampai di mana kan kita lihat,” kata Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026.

Menurut Airlangga, dibukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz setelah adanya kesepakatan antara AS dan Iran berpotensi memengaruhi harga minyak dunia. Meski demikian, dampaknya masih perlu dicermati lebih lanjut karena sangat bergantung pada implementasi dari perjanjian yang telah disepakati kedua negara.

“Ini kan tidak otomatis (harga minyak dunia turun), kita lihat juga implementasi daripada perjanjian perdamaian,” ujarnya.

Pasar energi global merespons positif perkembangan terbaru hubungan AS dan Iran. Salah satu dampaknya terlihat dari penurunan harga minyak dunia pada perdagangan Kamis, 18 Juni 2026, yang mencapai level terendah sejak konflik antara AS, Israel, dan Iran pecah.

Baca Juga: Harga Pertamax Berpotensi Turun Jika Minyak Dunia Melemah

Penurunan tersebut dipicu oleh meningkatnya optimisme terhadap stabilitas pasokan energi global serta berkurangnya kekhawatiran akan terganggunya distribusi minyak internasional.

Berdasarkan data Oilprice pada Kamis malam, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat sebesar US$73,94 per barel atau turun 3,89 persen. Sementara itu, minyak Brent berada di level US$76,95 per barel, melemah 3,27 persen.

Perkembangan harga minyak global ini menjadi perhatian masyarakat karena sebelumnya PT Pertamina Patra Niaga telah menaikkan harga sejumlah BBM nonsubsidi pada 10 Juni 2026 akibat lonjakan harga minyak dunia.

Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara itu, Pertamax Green 95 meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter, dan Pertamax Turbo melonjak dari Rp12.750 menjadi Rp20.750 per liter.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto <b>(NTVnews)</b> Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (NTVnews)

Pertamina sebelumnya menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak mentah global dan situasi geopolitik internasional, tanpa mengabaikan daya beli masyarakat.

Dengan mulai meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta kembali normalnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, publik kini menaruh harapan agar tren penurunan harga minyak dunia dapat segera diikuti oleh penyesuaian harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.

Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa keputusan terkait penurunan harga BBM masih akan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk keberlanjutan implementasi kesepakatan damai dan stabilitas harga energi di pasar global.

x|close