Ntvnews.id, Taheran - Komando militer pusat Iran mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel di wilayah selatan Lebanon. Teheran menilai tindakan Israel tersebut merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan yang sebelumnya telah dicapai antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Dilansir dari AFP, Senin, 22 Juni 2026, pemerintah Iran menyebut serangan Israel ke Lebanon bertentangan dengan komitmen yang menjadi bagian dari perjanjian dengan Washington.
"Dengan ini diumumkan bahwa Selat Hormuz akan ditutup untuk lalu lintas kapal. Perlu dicatat bahwa langkah pertama ini adalah tanggapan terhadap pelanggaran janji musuh, dan jika agresi berlanjut, langkah-langkah lebih lanjut akan direncanakan dan diambil untuk memaksa musuh mematuhi kewajibannya," kata Markas Besar Pusat Khatam-al Anbiya dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah.
Sementara itu, media pemerintah Lebanon melaporkan serangan Israel di sebuah desa dekat Kota Sidon, Lebanon selatan, menewaskan sedikitnya tujuh orang pada Sabtu. Serangan tersebut terjadi hanya sehari setelah diumumkannya gencatan senjata dengan kelompok Hizbullah.
Menurut Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), serangan yang terjadi di wilayah Qannarit mengakibatkan tujuh korban tewas dan 13 orang lainnya mengalami luka-luka.
"tujuh orang dan melukai 13 lainnya, menurut perkiraan sementara," kata NNA.
AS Tegaskan Tetap Siaga di Selat Hormuz
Menanggapi keputusan Iran, militer Amerika Serikat menyatakan tetap berada dalam kondisi siaga dan terus memantau perkembangan di jalur pelayaran strategis tersebut.
"Pasukan AS tetap hadir dan waspada untuk memastikan semua aspek perjanjian dengan Iran dipatuhi, dipatuhi, dan berlaku penuh," kata Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir AFP.
Baca Juga: Iran: Lalu Lintas Selat Hormuz akan Ditingkatkan Secara Bertahap
CENTCOM yang bertanggung jawab atas operasi militer AS di kawasan Timur Tengah mengungkapkan bahwa sebanyak 55 kapal komersial masih melintasi Selat Hormuz pada hari yang sama. Menurut mereka, jalur pelayaran internasional tersebut masih dapat digunakan secara aman.
Selain itu, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan dirinya memperkirakan akan berangkat ke Swiss dalam beberapa hari mendatang guna mengikuti proses negosiasi terkait situasi yang berkembang.
Trump Pastikan Tak Ada Tarif Selama Gencatan Senjata
Kapal patroli milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) di Selat Hormuz. /ANTARA/Xinhua/aa. (Antara)
Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak akan ada biaya tol atau tarif bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz selama masa gencatan senjata berlangsung.
Pernyataan itu disampaikan Trump melalui unggahan di Truth Social pada Sabtu sore waktu setempat.
"Tidak akan ada biaya tol di Selat Hormuz selama 60 hari selama Periode Gencatan Senjata, dan tidak akan ada biaya tol setelah periode 60 hari berakhir," tulis Trump.
Baca Juga: Blokade Selat Hormuz Memanas: CENTCOM Alihkan 141 Kapal Komersial di Tengah Negosiasi Alot AS-Iran
Namun, Trump juga membuka kemungkinan pemberlakuan tarif apabila kesepakatan damai gagal dicapai.
"Kecuali jika dikenakan oleh dan untuk Amerika Serikat, jika kesepakatan tidak tercapai, untuk layanan yang diberikan sebagai Malaikat Pelindung bagi negara-negara Timur Tengah untuk tujuan penggantian biaya di masa lalu, sekarang, dan masa depan," tulis Trump.
Penutupan kembali Selat Hormuz menambah ketidakpastian di kawasan Timur Tengah, mengingat jalur tersebut merupakan salah satu rute pelayaran energi terpenting di dunia. Langkah Iran dan respons AS diperkirakan akan menjadi perhatian utama dalam perundingan yang tengah diupayakan guna menjaga keberlangsungan gencatan senjata dan stabilitas regional.
Foto yang dirilis pada 21 Juli 2019 ini menunjukkan kapal tanker minyak Inggris Stena Impero dikelilingi oleh perahu cepat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Selat Hormuz, Iran. ANTARA/Xinhua/HO ISNA/Morteza Akhoundi (Antara)