Kapal patroli milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) di Selat Hormuz. /ANTARA/Xinhua/aa. (Antara)
Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah Iran kembali mengambil langkah drastis dengan menutup Selat Hormuz untuk seluruh lalu lintas kapal internasional menyusul serangan militer Israel di wilayah Lebanon selatan. Keputusan tersebut menandai eskalasi baru di kawasan Timur Tengah dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas jalur perdagangan energi global.
Pengumuman penutupan disampaikan oleh Markas Besar Pusat Khatam-al Anbiya, komando militer utama Iran. Dalam pernyataannya, Teheran menilai operasi militer Israel di Lebanon sebagai pelanggaran terhadap komitmen yang sebelumnya disepakati dalam kerangka kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat.
“Selat Hormuz ditutup untuk lalu lintas kapal. Langkah ini merupakan respons awal terhadap pelanggaran yang dilakukan pihak musuh. Apabila agresi terus berlanjut, tindakan tambahan akan dipertimbangkan untuk memaksa mereka memenuhi kewajibannya,” demikian pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran.
Penutupan Selat Hormuz langsung menjadi perhatian dunia karena jalur laut tersebut merupakan salah satu koridor energi terpenting di dunia. Sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara Teluk Persia melewati perairan strategis itu sebelum menuju pasar internasional.
Langkah Iran diambil hanya sehari setelah Israel dan Hizbullah diumumkan mencapai kesepakatan gencatan senjata. Namun, situasi di lapangan justru kembali memanas setelah serangan udara Israel menghantam wilayah Lebanon selatan.
Media resmi Lebanon melaporkan sedikitnya tujuh orang tewas dan 13 lainnya terluka dalam serangan yang terjadi di desa Qannarit, dekat kota Sidon, pada Sabtu (20/6). Insiden tersebut memperdalam kekhawatiran bahwa upaya meredakan konflik di kawasan belum sepenuhnya berhasil.
Keputusan Iran menutup Selat Hormuz berpotensi menambah tekanan geopolitik di Timur Tengah. Selain meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global, langkah tersebut juga dapat memperburuk hubungan antara Iran, Israel, dan negara-negara Barat yang selama ini terlibat dalam berbagai upaya diplomasi untuk menahan meluasnya konflik regional.
Para pengamat kini menyoroti kemungkinan respons internasional terhadap kebijakan Iran tersebut, terutama mengingat peran strategis Selat Hormuz dalam perdagangan minyak dan gas dunia. Jika ketegangan terus meningkat, dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah, tetapi juga pada pasar energi global dalam beberapa hari ke depan.