Trump Balas Kritik atas Kesepakatan AS-Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 19 Jun 2026, 06:40
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi isyarat di lokasi pembangunan ruang dansa Gedung Putih yang sedang berlangsung di Washington, DC, AS, 19 Mei 2026. (Foto: REUTERS/Kevin Lamarque) Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi isyarat di lokasi pembangunan ruang dansa Gedung Putih yang sedang berlangsung di Washington, DC, AS, 19 Mei 2026. (Foto: REUTERS/Kevin Lamarque)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan respons keras terhadap berbagai kritik yang muncul setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik yang berlangsung di Timur Tengah.

Trump menolak tudingan bahwa dirinya memberikan terlalu banyak konsesi kepada Teheran demi menghentikan perang. Ia bahkan menyebut para pengkritiknya sebagai pihak yang tidak memahami situasi sebenarnya.

"Orang-orang bodoh ini, yang menganggap saya belum cukup keras terhadap Iran, ketika pasar saham baru saja mencapai rekor tertinggi dan harga minyak 'jatuh', adalah mereka yang cemburu, orang jahat, atau bodoh," tulis Trump di media sosial, beberapa jam setelah menandatangani perjanjian, seperti dilansir dari AFP, Jumat, 19 Juni 2026.

Kesepakatan tersebut ditandatangani secara terpisah oleh Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Dokumen berisi 14 poin itu dirancang untuk mengakhiri konflik Timur Tengah yang telah berlangsung sejak Februari lalu.

Berdasarkan isi nota kesepahaman, kedua negara memiliki waktu 60 hari untuk memulai proses perundingan resmi guna menyelesaikan perang secara permanen.

Baca Juga: Presiden Korsel Minta Trump Bantu Buka Jalan Dialog dengan Kim Jong Un

Salah satu poin penting dalam kesepakatan tersebut adalah komitmen Amerika Serikat untuk mencabut sanksi terhadap sektor minyak Iran yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian negara tersebut.

Selain itu, setelah tercapai kesepakatan final terkait program nuklir Iran, Washington juga akan memfasilitasi pencairan dana kompensasi rekonstruksi senilai US$300 miliar atau sekitar Rp5.342 triliun yang didukung negara-negara kawasan.

Sebagai bagian dari komitmen timbal balik, pejabat Amerika Serikat menyebut Iran akan mengurangi stok uranium yang telah diperkaya. Langkah tersebut kemungkinan dilakukan melalui proses "down-blending" di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Tak lama setelah dokumen ditandatangani, sejumlah media Amerika Serikat mulai mempertanyakan isi kesepakatan tersebut.

Jaringan televisi MS NOW menilai pemerintah Trump memberikan keuntungan besar kepada Iran tanpa memperoleh hasil yang sepadan dengan tujuan awal sebelum konflik.

"Gedung Putih menyetujui perpanjangan gencatan senjata ini yang tidak memenuhi tujuan sebelum perang, namun memberikan konsesi keuangan yang sangat besar kepada Teheran," demikian laporan jaringan TV AS, MS NOW.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat konferensi pers di Gedung Putih, Washington D.C., Amerika Serikat (25/42026). ANTARA/Anadolu/Celal G&uuml;ne?. <b>(Antara)</b> Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat konferensi pers di Gedung Putih, Washington D.C., Amerika Serikat (25/42026). ANTARA/Anadolu/Celal Güne?. (Antara)

Media tersebut juga menuding pemerintahan Trump berusaha membela kesepakatan yang dinilai kontroversial.

"Sekarang, pemerintah berusaha mati-matian untuk berargumentasi sebaliknya. Sederhananya, Trump dipermainkan oleh Iran, dan tiak ada yang mau menerima tawarannya," lanjut laporan itu.

Kritik serupa juga muncul dari Fox News, media yang selama ini dikenal cukup dekat dengan kubu Trump. Fox mengutip pandangan sejumlah pengamat yang menilai Iran memperoleh manfaat ekonomi yang besar tanpa harus sepenuhnya menghentikan program nuklirnya.

Sementara itu, Wall Street Journal (WSJ) menyebut kesepakatan tersebut sebagai salah satu pertaruhan terbesar dalam kebijakan luar negeri Trump selama masa jabatan keduanya.

"Trump akan menghadapi perlawanan dari kelompok garis keras kebijakan Iran, yang mendatakan bahwa presiden telah menyerah jauh lebih banyak daripada yang ia dapatkan," kutip WSJ.

Meski menghadapi gelombang kritik, Trump tetap mempertahankan pandangannya bahwa kesepakatan tersebut merupakan langkah terbaik untuk mengakhiri konflik sekaligus menjaga stabilitas ekonomi global.

x|close