Ntvnews.id, Singapura - Pria asal Singapura, Malone Lam, mengaku bersalah atas dakwaan konspirasi pemerasan di Amerika Serikat. Lam disebut sebagai otak di balik salah satu kasus pencurian mata uang kripto terbesar di dunia.
Dilansir dari BBC, Jumat, 11 September 2026, Lam mengakui keterlibatannya bersama sejumlah rekan dalam pencurian Bitcoin senilai US$249 juta atau sekitar Rp4,3 triliun.
Menurut Departemen Kehakiman AS (DOJ), Lam yang kini berusia 22 tahun bersama para rekannya menghabiskan uang hasil kejahatan tersebut secara besar-besaran. Mereka bahkan disebut menghamburkan hingga US$500.000 dalam satu malam di klub malam.
Selain itu, kelompok tersebut membeli berbagai mobil mewah dengan harga berkisar US$100.000 hingga US$3,8 juta.
Atas perbuatannya, Lam terancam hukuman maksimal 20 tahun penjara. Namun, Hakim Distrik AS Colleen Kollar-Kotelly belum menetapkan jadwal sidang pembacaan vonis terhadapnya.
"Jika Anda membangun kerajaan kejahatan siber, kami akan menemukan Anda, membongkar operasi Anda, dan meminta pertanggungjawaban Anda," kata Jaksa AS Jeanine Pirro dalam persidangan pada Selasa, 8 September 2026 waktu setempat.
"Terdakwa ini memimpin jaringan internasional yang memangsa korban melalui penipuan, melanggar privasi mereka, dan mencuri ratusan juta dolar dalam mata uang kripto," tambahnya.
Baca Juga: Jangan Cuma Fokus Bitcoin, Analis Sebut 5 Kripto Ini Potensial di 2025
Kepada penyelidik AS, Lam mengungkapkan bahwa dirinya putus sekolah menengah di Singapura saat berusia 14 tahun. Dia kemudian pergi ke Amerika Serikat pada Oktober 2023 dan tetap berada di negara tersebut setelah masa berlaku visanya berakhir pada Januari 2024.
Berdasarkan dokumen pengadilan, jaringan kriminal tersebut mulai beroperasi paling lambat pada Oktober 2023 dan terus berjalan hingga setidaknya Mei 2025.
Para anggota jaringan yang berasal dari California, Connecticut, New York, Florida, serta sejumlah wilayah di luar AS disebut berkenalan melalui platform permainan daring.
DOJ menyebut Lam juga menggunakan sejumlah nama samaran, termasuk Anne Hathaway, $$$, dan King Greavy. Ia diduga menjadi pemimpin kelompok tersebut yang bertugas mengidentifikasi calon korban sekaligus mengatur peran masing-masing anggota.
Para pelaku disebut menipu korban agar menyerahkan informasi rahasia. Mereka juga sesekali melakukan pembobolan rumah untuk memperoleh data yang dapat digunakan guna menguras dompet mata uang kripto milik korban.
Bitcoin Hasil Curian Dihamburkan
Arsip foto - Warga mengamati pergerakan harga mata uang kripto Bitcoin (BTC) di Semarang, Jawa Tengah, Jumat 1 Agustus 2025 (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wpa.) (Antara)
Uang kripto hasil pencurian digunakan untuk membiayai gaya hidup mewah para pelaku. DOJ menyebut sejumlah tas Hermes Birkin dengan harga mencapai puluhan ribu dolar AS dibeli menggunakan dana tersebut dan kemudian dilemparkan kepada kerumunan dalam pesta di klub malam.
Hasil kejahatan itu juga digunakan untuk membeli jam tangan mewah dengan harga hingga US$500.000, pakaian bermerek senilai puluhan ribu dolar, serta menyewa rumah di Los Angeles, Hamptons, dan Miami.
Kelompok tersebut turut menyewa jet pribadi untuk bepergian dan menggunakan jasa tim pengawal pribadi.
Lam bahkan disebut "terkenal" di lingkungan klub malam Los Angeles dan Miami karena gaya hidupnya yang mewah dan mencolok. Kekayaan yang diperoleh dari aktivitas kripto tersebut turut membuat keberadaannya menjadi sorotan.
Jaringan kriminal Lam akhirnya terbongkar setelah agen FBI menangkapnya bersama salah satu rekannya pada September 2024.
Salah satu kaki tangannya, Evan Tangeman, lebih dahulu dijatuhi hukuman 70 bulan penjara pada April 2026. Ia dinyatakan bersalah karena mencuci uang yang berasal dari hasil kejahatan tersebut.
Tangeman juga diketahui berusaha menghilangkan barang bukti setelah Lam ditangkap. Pengadilan kemudian menilai tindakan tersebut sebagai bentuk "kesadaran akan kesalahannya".
Uang kripto Bitcoin. (ANTARA/REUTERS/Dado Ruvic)