Neraca Dagang RI Surplus USD3,36 Miliar, Migas Masih Defisit USD23 Miliar

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Nov 2026, 12:39
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi petikemas Ilustrasi petikemas

Ntvnews.id, Jakarta - BPS mencatat neraca perdagangan kumulatif periode Januari-September 2026 masih mengalami surplus USD10,61 miliar didukung oleh surplus pada September 2026 sebesar USD3,36 miliar.

"Surplus sepanjang periode Januari-September 2026 ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas yang mencatat surplus USD34,21 miliar, sementara perdagangan komoditas migas masih mengalami defisit sebesar USD23,60 miliar," ucap Ateng dalam konferensi pers, Selasa 2 November 2026.

Nilai ekspor kumulatif Januari–September 2026 mencapai USD221,23 miliar, naik 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Peningkatan tersebut terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 6,30 persen menjadi USD212,27 miliar.

Baca Juga: Neraca Dagang RI Defisit 450 Juta Dolar AS, Impor Migas Jadi Biang Kerok

Berdasarkan sektor, industri pengolahan mencatat nilai ekspor terbesar, dengan nilai mencapai USD182,83 miliar atau naik 8,93 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. 

Tiga negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia adalah Tiongkok sebesar USD54,17 miliar (25,52 persen), Amerika Serikat sebesar USD25,39 miliar (11,96 persen), dan India sebesar USD15,00 miliar (7,07 persen).

Sementara itu, nilai impor kumulatif Januari–September 2026 mencapai USD210,63 miliar, naik 19,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Peningkatan tersebut berasal dari impor nonmigas yang naik 16,92 persen menjadi USD178,06 miliar, serta impor migas yang naik 37,35 persen menjadi USD32,57 miliar.

Menurut penggunaan, impor Indonesia didominasi oleh impor bahan baku/penolong dengan nilai USD150,57 miliar atau naik 21,11 persen. 

Selanjutnya, impor barang modal mencapai USD41,55 miliar, naik 16,49 persen, sedangkan impor barang konsumsi tercatat sebesar USD18,51 miliar, naik 15,54 persen.

Baca Juga: Neraca Dagang RI Defisit Mei 2026, BI Pastikan Ketahanan Eksternal Tetap Terjaga

Tiongkok masih menjadi negara asal utama impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari–September 2026, dengan nilai USD76,16 miliar (42,77 persen). Posisi berikutnya ditempati oleh Jepang sebesar USD10,04 miliar (5,64 persen) dan Australia sebesar USD8,07 miliar (4,53 persen).

Sementara itu, surplus perdagangan nonmigas pada periode Januari–September 2026 terutama berasal dari beberapa komoditas utama, yaitu lemak dan minyak hewani/nabati sebesar USD29,31 miliar, bahan bakar mineral USD21,42 miliar, besi dan baja USD13,95 miliar, nikel dan barang daripadanya US$9,52 miliar, serta alas kaki USD4,86 miliar.