Ntvnews.id, Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti buka-bukaan terkait pergeseran pola konsumsi masyarakat Indonesia telah terindikasi sejak tahun lalu dan semakin menguat pada semester I 2026.
Hal tersebut diungkapkan Amalia untuk membantah anggapan bahwa daya beli masyarakat Indonesia melemah.
Ia menjelaksan perubahan tersebut terlihat dari meningkatnya konsumsi pada sektor restoran, hotel, transportasi, serta peralihan transaksi belanja dari offline ke online.
"Dari tahun kemarin kami sudah melihat ada indikasi pergeseran pola konsumsi masyarakat, dan ini terlihat menguat di semester I 2026," ucap Amalia dalam konferensi pers, Senin 12 Oktober 2026.
Baca juga: Kepala BPS Buka-bukaan Daya Beli Masyarakat Masih Kuat, Konsumsi Tumbuh di Atas 5 Persen
Lebih lanjut, ia menegaskan konsumsi pada sektor restoran dan hotel tumbuh di atas 6 persen Sementara itu, konsumsi pada sektor transportasi juga mencatatkan pertumbuhan relatif tinggi seiring dengan meningkatnya mobilitas masyarakat.
Menurut Amalia, perkembangan tersebut menjadi indikasi bahwa pola pengeluaran masyarakat mengalami perubahan.
"Jadi kalau tadi kita perhatikan konsumsi untuk restoran dan hotel itu tumbuhnya di atas 6 persen. Dan konsumsi untuk sektor transportasi, karena ini menyangkut mobilitas masyarakat itu juga tumbuh relatif tinggi," jelasnya.
Selain perubahan pada jenis pengeluaran, BPS juga mencermati pergeseran cara masyarakat berbelanja.
Menurutnya masyarakat yang sebelumnya melakukan transaksi secara langsung di toko atau pusat perbelanjaan kini semakin banyak belanja online.
“Kami juga mencermati adanya shifting cara masyarakat berbelanja. Yang tadinya belanja offline, sekarang belanja melalui transaksi elektronik itu meningkat pesat. Itu data yang kami tangkap,” kata Amalia.
Baca juga: BPS: Kunjungan Wisatawan Mancanegara Makin Dekati Level Sebelum Pandemi
Sementara itu, Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menegaskan pemerintah tidak bermaksud membantah kondisi yang dirasakan masyarakat.
Dradjad hanya meluruskan narasi mengenai pelemahan daya beli yang dinilai tidak sesuai dengan data BPS.
Dradjad menyebut data BPS menunjukkan daya beli masyarakat masih kuat dan solid. Karena itu, perubahan pola konsumsi perlu dibedakan dari penurunan kemampuan masyarakat untuk berbelanja.
“Kami tidak membantah, tapi kami meluruskan narasi yang salah yang muncul di berbagai media. Orang selalu gembar-gemborkan daya beli melemah, data menunjukkan narasi itu salah. Data BPS menunjukkan yang benar adalah daya beli itu tetap kuat, tetap solid ya," ungkap Dradjad.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti (Ntvnews.id-Muslimin Trisyuliono)