Ntvnews.id, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan sejumlah daerah di Indonesia mampu mencatat pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada semester I-2026. Capaian tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah tidak selalu bergantung pada besarnya sumber daya alam, tetapi juga dapat didorong oleh peningkatan produktivitas dan pemanfaatan teknologi.
"Peningkatan produktivitas dan pemanfaatan teknologi dapat menjadi salah satu kunci agar perekonomian daerah tumbuh lebih tinggi dan menciptakan nilai tambah," kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam acara Mata Lokal Fest 2026, Rabu, 7 Oktober 2026.
Amalia mencontohkan Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, yang mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 8,14 persen pada semester I-2026. Salah satu faktor yang mendukung pencapaian tersebut adalah inovasi di bidang pertanian.
Pemerintah Kabupaten Ngawi memperluas penerapan pertanian ramah lingkungan berkelanjutan 2.0 dengan cakupan lahan sekitar 35 ribu hektare. Transformasi pertanian juga dilakukan melalui penggunaan teknologi smart farming, termasuk pemanfaatan drone yang dioperasikan oleh komunitas petani muda.
"Salah satu contohnya adalah pengembangan budidaya melon premium menggunakan rumah kaca, seperti yang dilakukan di Ladang Arunika," tuturnya.
Selain Ngawi, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, juga mencatat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, yakni 6,85 persen pada semester I-2026.
Menurut Amalia, capaian tersebut didukung oleh peningkatan produktivitas tanaman pangan dan peternakan. Pemerintah Kabupaten Sidrap turut mengoptimalkan perkebunan porang dengan mendorong pengembangan komoditas tersebut hingga ke tahap pengolahan.
Baca Juga: BPS: Kunjungan Wisatawan Mancanegara Makin Dekati Level Sebelum Pandemi
"Perekonomian kabupaten Sidrap mendorong produktivitas tanaman pangan dan juga peternakan, serta kemudian melakukan optimalisasi perkebunan porang yang tidak hanya berhenti pada perkebunan tapi dia kemudian mengundang investor untuk melakukan produksi beras porang," urainya.
Pemanfaatan teknologi juga diterapkan dalam usaha peternakan ayam petelur di Sidrap. Para peternak menggunakan teknologi untuk meningkatkan produktivitas, salah satunya dengan menempatkan ayam di ruangan berpendingin udara.
"Sidrap ini tumbuh di atas 7 persen, kemudian kami melihat ke sana apa yang dilakukan peternakan telur saja mengadopsi teknologi dan ayamnya ditaruh di ruang AC," ungkapnya.
Amalia menambahkan, teknologi yang digunakan dalam peternakan tersebut bahkan diadopsi dari Jerman. Penerapan teknologi itu mampu meningkatkan produktivitas ayam petelur dibandingkan dengan metode pemeliharaan konvensional.
Indonesia Masuk Kelompok Negara Berpendapatan Menengah Atas
Dalam kesempatan tersebut, Amalia juga menyampaikan bahwa Indonesia telah masuk ke dalam kelompok negara berpendapatan menengah atas atau upper middle income country.
Baca Juga: BPS: 319 Kabupaten/Kota Alami Kenaikan Harga Pangan
"Kondisi tersebut sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap terjaga. Sepanjang semester I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,45 persen," jelasnya.
Ia turut memaparkan bahwa inflasi Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar 3,28 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Sementara itu, pendapatan nasional bruto atau Gross National Income (GNI) per kapita Indonesia berada pada level 5.120 dolar AS.
"Dengan capaian tersebut, Indonesia telah masuk kelompok negara berpendapatan menengah atas," imbuhnya.
Tangkapan layar - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti