Sektor Jasa Keuangan Tetap Stabil Di Tengah Ketidakpastian Geopolitik

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Okt 2026, 18:44
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat menyampaikan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan terkait asesmen Sektor Jasa Keuangan yang tetap stabil di tengah dinamika global, Senin (5/10/2026) Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat menyampaikan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan terkait asesmen Sektor Jasa Keuangan yang tetap stabil di tengah dinamika global, Senin (5/10/2026)

Ntvnews.id, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan menyatakan kondisi Sektor Jasa Keuangan (SJK) tetap dalam kondisi stabil di tengah ketidakpastian geopolitik dan pengetatan kebijakan moneter global.

Demikian disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam jumpa pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK di Jakarta, Senin, 5 Oktober 2026.

Friderica menjelaskan indikator terkini menunjukkan kondisi perekonomian yang kuat dengan inflasi masih stabil. Terjaganya inflasi mendorong permintaan domestik dan tingkat konsumsi masyarakat tetap kuat dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Sejalan dengan itu, OECD meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 sebesar 0,5 persen, mencerminkan kepercayaan global terhadap daya tahan perekonomian nasional.

“Perkembangan positif tersebut didukung oleh sektor keuangan yang terus kontributif terhadap pertumbuhan serta stabilitas sektor keuangan yang tetap terjaga dengan fundamental industri jasa keuangan yang solid,” katanya.

Sektor Jasa Keuangan Tumbuh

Pasar saham domestik bergerak dinamis pada September 2026 seiring meningkatnya volatilitas pasar keuangan global, yang dipengaruhi oleh eskalasi tensi geopolitik dan peningkatan suku bunga global.

Baca Juga: Bank Indonesia Ungkap Pelemahan Rupiah Dipicu Kekhawatiran Tensi Geopolitik

Di tengah dinamika tersebut, resiliensi dan likuiditas pasar modal domestik terpantau tetap manageable. Rata-rata bid-ask spread pasar saham tetap terjaga di level 1,20 persen, relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya (1,17 persen).

Jumlah investor di pasar modal melanjutkan tren peningkatan sejalan dengan inisiatif penguatan ekosistem digital di industri pasar modal. Penambahan investor tercatat sebanyak 1,03 juta di bulan September 2026 mtm, sehingga total jumlah investor mencapai 32,17 juta atau tumbuh 57,96 persen secara ytd.

Penghimpunan dana oleh korporasi domestik di pasar modal domestik tetap kuat dengan nilai Penawaran Umum secara ytd telah mencapai Rp186,03 triliun. Sementara pada pipeline, terdapat 29 rencana Penawaran Umum dengan total nilai indikatif Rp26,47 triliun.

Di industri perbankan pertumbuhan kredit pada Agustus 2026 naik ke level 13,65 persen yoy (Juli 2026: 13,58 persen yoy), sehingga total penyaluran kredit menjadi sebesar Rp9.178 triliun.

Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi tumbuh tertinggi yaitu sebesar 25,11 persen yoy, diikuti oleh kredit modal kerja sebesar 11,45 persen yoy, sedangkan kredit konsumsi sebesar 5,07 persen yoy.

Adapun berdasarkan kategori debitur, kredit dengan pertumbuhan tertinggi adalah kredit korporasi yang tumbuh sebesar 22,18 persen yoy, sementara itu kredit UMKM melanjutkan tren peningkatan dengan tumbuh positif sebesar 2,32 persen yoy (Juli 2026: 1,62 persen yoy). Ditinjau dari kepemilikan, kredit bank BUMN tumbuh tertinggi yaitu sebesar 16,41 persen yoy.

Baca Juga: Rupiah Melemah Tipis ke Rp18.071 per Dolar AS Tertekan Geopolitik Timur Tengah

Sementara itu, kualitas kredit terjaga dengan rasio NPL gross di level 2,11 persen (Juli 2026: 2,10 persen) dan NPL net sebesar 0,84 persen (Juli 2026: 0,81 persen). Loan at Risk (LaR) tercatat sebesar 8,56 persen (Juli 2026: 8,39 persen). Dari sisi  kinerja profitabilitas, ROA bank di level 2,43 persen (Juli 2026: 2,45 persen).

Ketahanan perbankan tercatat kuat dengan buffer mitigasi risiko yang memadai, tecermin dari CAR tercatat sebesar 24,10 persen (Juli 2026: 23,84 persen).

Kinerja Perasuransian

Kinerja Industri Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) secara umum tetap stabil dan terjaga. Untuk industri asuransi, aset industri asuransi pada Agustus 2026 mencapai Rp1.200,55 triliun atau naik 2,56 persen yoy dari posisi yang sama di tahun sebelumnya. Dari sisi asuransi komersil, total aset mencapai Rp982,18 triliun atau naik 3,59 persen yoy.

Pada industri dana pensiun, total aset per Agustus 2026 tumbuh sebesar 6,99 persen yoy dengan nilai mencapai Rp1.724,14 triliun. Untuk program pensiun sukarela, total aset mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,31 persen yoy dengan nilai mencapai Rp412,39 triliun.

OJK memproyeksikan kinerja sektor PPDP hingga akhir 2026 tetap tumbuh positif, meskipun lebih moderat dibandingkan target yang ditetapkan pada awal tahun seiring dengan meningkatnya tekanan pada perekonomian global yang berdampak pada pasar keuangan. Pertumbuhan program asuransi diproyeksikan sebesar 2 persen s.d 4 persen dan dana pensiun 4 persen s.d 6 persen, sementara aset industri penjaminan diproyeksikan tumbuh lebih tinggi sebesar 28 persen s.d 30 persen.

Sementara itu, piutang pembiayaan Perusahaan Pembiayaan (PP) tumbuh sebesar 1,68 persen yoy pada Agustus 2026 menjadi Rp514,08 triliun, didukung peningkatan pembiayaan modal kerja sebesar 5,40 persen yoy.

Baca Juga: IHSG Awal Pekan Melemah ke 6.959, Pasar Waspadai Dinamika Geopolitik Global

Profil risiko Perusahaan Pembiayaan terjaga dengan rasio Non Performing Financing (NPF) gross tercatat sebesar 3,04 persen dan NPF net sebesar 0,83 persen. Gearing ratio PP tercatat sebesar 2,04 kali dan berada di bawah batas maksimum sebesar 10 kali.

Pembiayaan modal ventura pada Agustus 2026 tumbuh 1,05 persen yoy, dengan nilai pembiayaan tercatat sebesar Rp16,50 triliun. Pada industri Lembaga Keuangan Mikro, penyaluran pembiayaan pada Agustus 2026 terkontraksi 0,33 persen yoy menjadi sebesar Rp1,05 triliun. Di sisi lain, simpanan tumbuh 7,70 persen yoy menjadi sebesar Rp0,63 triliun.

Pada industri Pinjaman Daring (Pindar), outstanding pembiayaan pada Agustus 2026 tumbuh 22,07 persen yoy, dengan nominal sebesar Rp106,94 triliun. Tingkat risiko kredit macet secara agregat (TWP90) tercatat di posisi 4,73 persen.

Pada industri pergadaian, penyaluran pembiayaan pada Agustus 2026 tumbuh sebesar 44,60 persen yoy menjadi Rp156,61 triliun, dengan pembiayaan terbesar disalurkan dalam bentuk produk Gadai, yaitu sebesar Rp132,84 triliun atau 84,82 persen dari total pembiayaan. 

x|close