Sinkhole Misterius Muncul di Sumatera Barat, Badan Geologi Buka Suara

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Jan 2026, 14:15
thumbnail-author
Satria Angkasa
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Fenomena sinkhole atau tanah tiba-tiba berlubang yang muncul di kawasan pertanian Pombatan, Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Minggu 4 Januari 2026. ANTARA/HO-Frv Fenomena sinkhole atau tanah tiba-tiba berlubang yang muncul di kawasan pertanian Pombatan, Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Minggu 4 Januari 2026. ANTARA/HO-Frv (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memaparkan penyebab terjadinya fenomena amblesan tanah atau sinkhole yang muncul secara misterius di kawasan pertanian Pombatan, Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Fenomena tersebut dipastikan tidak disebabkan oleh runtuhan batu gamping.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria, dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Rabu, menjelaskan bahwa berdasarkan laporan yang diterima, peristiwa tanah amblas terjadi pada 4 Januari 2026. Kejadian itu ditandai dengan terbentuknya lubang berdiameter sekitar 20 meter dengan kedalaman kurang lebih 15 meter di lahan pertanian milik warga.

Berdasarkan hasil kajian tim Badan Geologi, amblesan tanah tersebut terjadi akibat proses erosi buluh, yakni pengikisan tanah oleh aliran air bawah permukaan yang berlangsung secara bertahap dan tidak terjadi secara tiba-tiba.

Ia menjelaskan bahwa lokasi kejadian berada pada endapan lapukan batuan vulkanik berupa tuf batu apung, bukan pada batuan gamping sebagaimana umumnya fenomena sinkhole terbentuk.

Lapisan batuan di wilayah tersebut memiliki tekstur halus dan mengandung mineral lempung, dengan lapisan di bagian bawah berupa batuan gamping malihan yang bersifat kedap air. Kondisi tersebut menyebabkan aliran air tertahan sehingga menggerus lapisan tanah di atasnya secara perlahan.

Baca Juga: Ngeri! Penampakan Tanah Amblas Tempat Tinggal Dinda Hauw di Depok

Selain faktor jenis batuan, intensitas curah hujan yang relatif tinggi di wilayah itu, yakni berkisar antara 2.000 hingga 2.500 milimeter per tahun, turut mempercepat terjadinya proses erosi bawah permukaan yang memicu amblesan tanah.

Secara teknis, Badan Geologi menjelaskan bahwa amblesan diawali oleh terbentuknya rekahan pada permukaan tanah. Rekahan tersebut kemudian menjadi jalur masuk air ke dalam tanah, membentuk rongga di bawah permukaan hingga akhirnya tanah mengalami runtuhan.

Lana menambahkan bahwa fenomena serupa berpotensi terjadi di lokasi pertanian lain yang memiliki kondisi geologi dan tata guna lahan yang sejenis, terutama pada lahan pertanian intensif dengan sistem irigasi yang kurang baik.

Meski demikian, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan, khususnya apabila ditemukan retakan tanah yang semakin membesar. Warga juga diminta segera melaporkan kondisi tersebut kepada aparat setempat agar dapat dikoordinasikan dengan instansi berwenang untuk penanganan lebih lanjut.

Sebagai langkah pemanfaatan, Badan Geologi merekomendasikan agar lubang yang terbentuk akibat sinkhole tersebut dapat dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan air, dengan catatan dibuat pagar pengaman di sekeliling lubang demi keselamatan.

 

(Sumber : Antara)

HIGHLIGHT

x|close