Ntvnews.id, Mogadishu - Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud menilai langkah Israel yang mengakui negara Somaliland sebagai sesuatu yang tidak lazim dan mengejutkan. Menurutnya, pengakuan tersebut berpotensi menimbulkan dampak serius, tidak hanya bagi warga Palestina di Gaza, tetapi juga bagi stabilitas kawasan Tanduk Afrika.
"Somaliland telah mengklaim isu pemisahan diri untuk waktu yang lama, selama tiga dekade terakhir, dan tidak satu pun negara di dunia yang mengakuinya," ujar Mohamud dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera dari Istanbul, Turki, seperti dilansir Jumat, 2 Januari 2026.
Somaliland sendiri merupakan wilayah separatis dari Republik Federal Somalia. Dalam pernyataannya, Mohamud turut menyindir sikap Israel yang dinilainya kerap mencampuri urusan pihak lain.
"Bagi kami, kami telah mencoba untuk menyatukan kembali negara ini dengan cara damai. Jadi setelah 34 tahun, sangat tidak terduga dan aneh bahwa Israel, tiba-tiba saja, ikut campur dan mengatakan, 'Kami mengakui Somaliland'," katanya.
Baca Juga: Uni Eropa Berang dengan Israel, Ada Apa?
Ia menegaskan bahwa langkah tersebut tidak semata-mata bermakna diplomatik. "(Pengakuan itu) bukan hanya isyarat diplomatik tetapi kedok untuk tujuan strategis Israel yang spesifik dan berisiko tinggi," ucap Mohamud.
Pekan lalu, Israel tercatat sebagai negara pertama sekaligus satu-satunya yang secara resmi mengakui Somaliland, wilayah di barat laut Somalia yang berbatasan langsung dengan Teluk Aden.
Mohamud menduga Israel memiliki agenda untuk memaksa relokasi pengungsi Palestina ke Somalia. Ia menilai kebijakan itu berpotensi membuka “kotak kejahatan” global dan merupakan upaya Israel memindahkan persoalan Gaza ke kawasan Tanduk Afrika.
"Israel tidak memiliki niat damai untuk datang ke Somalia. Ini adalah langkah yang sangat berbahaya, dan seluruh dunia, terutama Arab dan Muslim, harus melihatnya sebagai ancaman serius," kata Mohamud.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi intelijen Somalia, Somaliland disebut telah menerima tiga syarat dari Israel sebagai imbalan atas pengakuan tersebut. Syarat itu meliputi pemukiman kembali warga Palestina, pendirian pangkalan militer Israel di pesisir Teluk Aden, serta keikutsertaan Somaliland dalam Perjanjian Abraham.
Perjanjian Abraham merupakan rangkaian kesepakatan normalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara Arab, di antaranya Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan.
Mohamud juga menyebut adanya data intelijen yang menunjukkan keberadaan Israel di Somaliland telah berlangsung sebelumnya. Menurutnya, pengakuan resmi tersebut hanyalah bentuk legalisasi dari aktivitas yang selama ini berjalan secara diam-diam.
Baca Juga: Juru Bicara Hamas Tewas dalam Serangan Israel
Sebelumnya, Mohamud berada di Turki dan menggelar konferensi pers bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Keduanya sepakat memperingatkan bahwa pengakuan Israel terhadap Somaliland berpotensi mengganggu stabilitas kawasan Tanduk Afrika.
Somaliland mendeklarasikan kemerdekaannya dari Somalia pada 1991, namun selama puluhan tahun tidak memperoleh pengakuan dari satu pun negara anggota PBB hingga Israel melangkah pada Jumat lalu.
Keputusan Israel itu menuai kecaman luas dari berbagai negara, termasuk mayoritas anggota Dewan Keamanan PBB dalam rapat darurat di New York awal pekan lalu. Indonesia juga secara tegas menolak pengakuan tersebut.
Amerika Serikat menjadi satu-satunya dari 15 anggota Dewan Keamanan yang membela langkah Israel, meski menegaskan bahwa posisi resmi Washington terkait Somaliland tidak berubah.
Menanggapi sikap AS, Mohamud menolak anggapan adanya ambiguitas dan menyebut pernyataan Washington sudah jelas.
"Kita menilai Amerika Serikat berdasarkan apa yang mereka katakan. Itu cukup jelas, mereka mendukung kedaulatan Somalia dan menjauhkan diri dari Israel (dalam masalah ini)," ucapnya.
Dalam wawancara tersebut, Mohamud juga menyinggung potensi kelompok bersenjata al-Shabab memanfaatkan sentimen anti-Israel untuk merekrut anggota baru. Kelompok tersebut sebelumnya mengeluarkan pernyataan yang mengecam langkah Israel dan mengancam akan menyerang setiap kehadiran Israel di wilayah itu.
Mohamud menepis klaim al-Shabab dan menyebut kelompok tersebut sebagai proksi al-Qaeda yang tidak memiliki kepentingan nyata terhadap kedaulatan Somalia.
"Merekalah yang membuat Somalia lemah, itulah sebabnya Israel mencoba datang ke sini sekarang. Biarkan mereka menghentikan terorisme dan berdamai, daripada mengklaim membela Somalia melawan Israel," tegasnya.
Ia pun menyoroti capaian pemerintahannya dalam memerangi al-Shabab, termasuk keberhasilan merebut kembali sejumlah wilayah serta menyelenggarakan pemilihan umum langsung pertama sejak 1969. Menurutnya, hal itu menjadi bukti bahwa Somalia tengah bergerak menuju stabilitas di tengah berbagai tekanan eksternal.
"Somalia berada dalam situasi unik selama dua tahun terakhir. Sudah saatnya Somalia keluar dari situasi tersebut," pungkas Mohamud.
Bendera Israel/ist