Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji menegaskan bahwa upaya perbaikan dan pembangunan suatu negara harus dimulai dari unit terkecil, yakni keluarga. Hal tersebut disampaikannya dalam acara Pertemuan Nasional Pembinaan Akademik Keluarga Indonesia di kantor Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), Jakarta, pada Selasa, 28 Oktober 2026.
Wihaji memaparkan data demografi Indonesia yang saat ini dihuni oleh sekitar 284 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 66,4 juta jiwa berada di kelompok usia remaja. Jika dirinci lebih lanjut, 24 persen di antaranya merupakan bagian dari Generasi Z dan 25 persen lainnya adalah Generasi Milenial.
"Artinya, ada 49 persen warga negara adalah gen-Z dan gen milenial," ujar Wihaji dalam sambutannya.
Baca Juga: Wamendukbangga Dorong Penyediaan Daycare di Perusahaan
Dengan komposisi penduduk muda yang mencapai hampir setengah dari total populasi, Wihaji mengajukan refleksi penting mengenai masa depan kepemimpinan bangsa. Menurutnya, kelompok usia muda inilah yang kelak akan memegang estafet kepemimpinan dan mengisi berbagai profesi di masa depan.
Berdasarkan visi strategis kementeriannya, keluarga diposisikan sebagai fondasi utama pembangunan nasional. Wihaji bahkan menyebut prinsip tersebut sebagai ayat wajib kementerian yang dipimpinnya.
"Keluarga adalah unit yang paling kecil dan rendah di sebuah negara. Maka kalau mau memperbaiki negara, perbaiki keluarga, dimulai dari keluarga," tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Mendukbangga menyoroti tantangan besar yang dihadapi oleh generasi muda saat ini, yakni masuknya era new civilization (peradaban baru) yang ditandai oleh disrupsi teknologi digital. Ia mengingatkan bahwa pola komunikasi, pendidikan, dan pendekatan masa lalu tidak lagi relevan jika diterapkan pada generasi masa kini.
Sebagai gambaran nyata dari era baru tersebut, Wihaji menyoroti tingginya intensitas penggunaan gawai di kalangan remaja yang rata-rata mencapai 8 hingga 10 jam per hari. Jika tren ini tidak diantisipasi dengan kehati-hatian dan pendampingan yang tepat, ia memperingatkan potensi terjadinya future shock atau kaget budaya akibat perubahan zaman yang begitu cepat.
"Ini sesuatu yang baru. Yang kalau kita pakai dengan cara-cara lama, cara mendidik, cara meyakinkan, tentu nanti tidak tepat," kata Wihaji.
Investasi Sumber Daya Manusia Jangka Panjang
Melalui Akademik Keluarga Indonesia, kementeriannya berupaya merespons kegundahan sosial serta dinamika yang dihadapi oleh jutaan remaja di berbagai wilayah. Langkah ini dinilai krusial agar generasi penerus tidak menghadapi masalah di kemudian hari.
Wihaji menambahkan, sebagai pembantu Presiden, pihaknya mendapat arahan khusus untuk fokus menyiapkan infrastruktur dan investasi sumber daya manusia (SDM) berkualitas. Kendati demikian, ia mengakui bahwa hasil kerja dari kementeriannya tidak dapat diukur secara instan, melainkan merupakan bentuk investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.
Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji (Antara)